Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

WHO: Vaksin Akan Sangat Mujarab Dan Aman Jika Sampai Kepada Orang-orang Yang Tepat Dan Membutuhkannya

SABTU, 14 NOVEMBER 2020 | 14:55 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Di saat dunia merayakan kemajuan dalam vaksin melawan virus corona, seorang pakar WHO terkemuka memperingatkan bahwa ketidakpercayaan publik akan berisiko terhadap  perawatan. Bahkan jikapun vaksin itu sangat efektif, tetap tidak akan berguna untuk melawan pandemi.

“Vaksin yang disimpan di dalam freezer atau di lemari es atau di rak, dan tidak digunakan sama sekali, tidak membantu mempersingkat pandemi ini," kata Kate O'Brien, direktur departemen imunisasi Organisasi Kesehatan Dunia, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (14/11).

Raksasa farmasi AS Pfizer dan mitranya dari Jerman, BioNTech, pada Senin (9/11) mengumumkan bahwa vaksin prospektif mereka telah terbukti 90 persen efektif dalam mencegah infeksi Covid-19. Hal itu telah dilakukan dalam uji coba fase akhir yang berlangsung dengan melibatkan lebih dari 40 ribu orang.


O'Brien memuji hasil sementara itu sebagai sebuah pencapaian penting. Dia berharap data awal dari beberapa calon vaksin lainnya yang akan diujicobakan akan segera tersedia.

“Jika data lengkap menunjukkan bahwa satu atau lebih dari vaksin ini memiliki khasiat yang sangat efektif dan sangat substansial, itu benar-benar kabar baik. Kami jadi bisa meletakkan alat lain di kotak peralatan untuk memerangi pandemi,” katanya.

Tetapi dengan pandemi yang terus meningkat setelah merenggut sekitar 1,3 juta nyawa di seluruh dunia, dia merasa prihatin dengan karena justru semakin banyak orang yang menunjukkan keraguan pada vaksin. Informasi yang salah dan ketidakpercayaan mewarnai penerimaan orang-orang terhadap kemajuan ilmiah.

“Kita tidak akan berhasil sebagai dunia dalam mengendalikan pandemi dengan menggunakan vaksin sebagai salah satu alat kecuali jika orang mau divaksinasi,” kata O'Brien.

Banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap vaksin. Ini melibatkan  WHO dalam evaluasinya.

O'Brien mengakui bahwa ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab tentang kandidat vaksin Pfizer-BioNTech dan rekan-rekannya, termasuk berapa lama perlindungan terhadap virus tersebut akan bertahan.

Sementara kandidat vaksin sedang diuji seberapa efektif dan aman mereka melindungi orang dari pengembangan penyakit, masih belum jelas apakah mereka benar-benar mencegah infeksi tanpa gejala dan penularan virus.

Sebuah pertanyaan besar, "Apakah itu mengubah kemungkinan Anda menularkan ke orang lain?"

Terlepas dari pertanyaan yang tersisa, WHO bertaruh pada satu atau lebih vaksin yang segera mendapat persetujuan, diikuti dengan peningkatan produksi dan distribusi yang cepat.

Mengantisipasi permintaan besar untuk vaksin yang disetujui, badan kesehatan PBB telah membantu menciptakan fasilitas yang disebut Covax untuk memastikan distribusi yang merata.

Tetapi bahkan dengan upaya besar-besaran, perlu beberapa saat sebelum ada dosis yang cukup untuk semua orang, dan WHO telah menetapkan pedoman tentang cara memprioritaskan pendistribuasiannya.

"Tujuannya di sini adalah agar setiap negara dapat mengimunisasi 20 persen dari populasinya pada akhir tahun 2021," kata O'Brien.

Itu, katanya, akan sangat membantu dalam memberikan perlindungan kepada para petugas layanan kesehatan yang berada di garda depan, serta pihak yang penting dalam pelayanan masyarakat, seperti guru.

Setelah itu, seberapa cepat setiap orang dapat mengakses vaksin akan sangat bergantung pada negara tempat mereka tinggal, dan apakah pemerintah mereka telah membuat kesepakatan untuk mengakses vaksin yang mendapatkan persetujuan.

"Kami mengharapkan lebih banyak dosis pada 2022," kata O'Brien.

Tantangan logistik untuk mendapatkan vaksin yang disetujui bagi miliaran orang yang membutuhkannya, sebenarnya sangat mengkhawatirkan. Mulai dari produksi hingga memastikan pendistribusian dan penyimpanan pada suhu yang sangat rendah.

"Vaksin akan sangat mujarab dan aman, hanya berharga untuk dampak kesehatan masyarakat jika benar-benar sampai kepada orang-orang yang perlu dilindungi dan digunakan secara luas dalam populasi," kata O'Brien.

Mengembangkan vaksin yang aman dan efektif "seperti mendirikan base camp di Everest," katanya.

"Tapi sebenarnya mendapatkan dampak vaksin adalah (seperti) harus mendaki Everest."

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya