Berita

Presiden Lopez Obrador/Net

Dunia

Lopez Obrador Yakin Biden Tidak Dendam Karena Tak Beri Ucapan Selamat, Mantan Dubes AS: Bukan Masalah Besar Tapi Itu Sebuah Kesalahan

SABTU, 14 NOVEMBER 2020 | 12:33 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Lopez Obrador menolak anggapan yang berkembang bahwa akan ada pembalasan dari Amerika Serikat (AS) terhadap Meksiko atas keputusannya untuk tidak mengakui kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS 2020.

Beberapa jam setelah media AS mengumumkan keunggulan Biden pekan lalu, Lopez Obrador mengatakan dia akan menunggu sampai semua masalah hukum seputar pemilihan diselesaikan untuk memberi selamat kepada kandidat yang berhasil. Itu dia lakukan karena dia tidak ingin ceroboh.

Pada konferensi pers regulernya, Obrador mengesampingkan kemungkinan bahwa Biden akan membalas keputusannya itu.


“Jika kami tidak mengakui (Biden sebagai presiden terpilih) akankah ada pembalasan? Tidak,” kata López Obrador kepada wartawan, seperti dikutip dari Mexico News, Kamis (12/11).

“Tidak ada alasan untuk melakukan pembalasan karena kita berpegang pada prinsip (non-intervensi), pada hukum kita. Selain itu, kita bukan koloni. Kita adalah negara yang merdeka, bebas, dan berdaulat. Pemerintah Meksiko bukanlah boneka dari pemerintah asing mana pun,” lanjutnya.

Presiden kembali menegaskan bahwa dia tidak akan mengakui pemenang pemilu sampai ada kepastian yang lebih besar tentang hasilnya. Melakukannya sekarang akan menjadi ‘intervensionisme’, katanya.

Karena ucapan selamat untuk Biden telah membanjir dari seluruh dunia pasca media AS menyatakan bahwa dia telah mendapatkan cukup suara electoral college untuk memenangkan kursi kepresidenan, keputusan Meksiko untuk tidak melakukan hal yang sama membuat negara itu jadi pusat perhatian. Terutama mengingat pentingnya hubungannya dengan tetangganya di utara.

Selain Lopez Obrador, Vladimir Putin dari Rusia, Xi Jinping dari Tiongkok, dan Jair Bolsonaro dari Brasil, yang telah digambarkan sebagai ‘Trump dari Daerah Tropis’, juga termasuk di antara kelompok kecil pemimpin dunia yang memilih untuk tidak memberikan ucapan selamat kepada presiden terpilih.

Lopez Obrador, yang secara tak terduga mengembangkan hubungan persahabatan dengan Trump dan mengunjunginya di Gedung Putih pada Juli, telah banyak dikritik karena keputusannya untuk tidak memberi selamat kepada Biden, meskipun beberapa pengamat menyimpulkan bahwa dia sebenarnya berhati-hati mengingat presiden AS masih punya waktu untuk mengambil keputusan yang dapat berdampak negatif pada Meksiko.

“Orang gila itu bisa menutup perbatasan, mendeportasi orang atau (melakukan) hal lain yang bisa menyebabkan banyak kerusakan ke Meksiko dan rekan-rekan kami,” kata Genaro Lozano, seorang analis politik dan kolumnis merujuk pada Donald Trump.

Sebaliknya, Leon Krauze, seorang jurnalis dan pembawa berita, sangat mengkritik sikap AMLO, panggilan akrab Lopez Obrador. Krauze mengatakan keputusan presiden untuk tidak mengakui kemenangan Biden, diam-diam memvalidasi misi Trump untuk mendelegitimasi proses pemilu.

“Itu seharusnya tidak mengejutkan siapa pun,” tulisnya di Washington Post, seraya menuduh bahwa itu adalah langkah logis berikutnya dalam hubungan ‘patuh’ Lopez Obrador dengan presiden AS.

Krauze mengakui bahwa pengalaman pribadi AMLO dalam pemilihan umum yang diperebutkan secara ketat merupakan faktor dalam keputusannya.

“Ketika dia dikalahkan oleh Felipe Calderon pada pemilu 2006, Lopez Obrador berteriak curang dan mulai mendelegitimasi pemilu,” tulisnya.

“Dia menuntut penghitungan ulang. Ketika proses tersebut gagal untuk membuktikan tuduhannya melakukan kesalahan pemilu, Lopez Obrador menyatakan dirinya sebagai 'presiden sah' Meksiko. Menolak untuk mengakui Calderon sebagai pemimpin sah negara itu, dan menganggapnya 'palsu',”  katanya.

Krauze mencatat bahwa AMLO juga menolak untuk menerima kekalahannya di tahun 2012 dari Enrique Pena Nieto, tetapi mendamaikan dirinya dengan lembaga demokrasi Meksiko ketika dia menang pada pemilu 2018.

“Dinamika ini sekarang menjadi sangat akrab bagi para pemilih AS. Seperti Lopez Obrador, Trump percaya pada demokrasi hanya jika itu menguntungkannya. Segala akibat yang merugikan patut dicurigai, berpotensi menipu, tidak sah,” tulisnya.

Hector Diego Medina, seorang kolumnis dan analis urusan luar negeri, mengakui bahwa AMLO telah membuat ‘kesalahan diplomatik’ dengan tidak memberi selamat kepada Biden, tetapi ia berpendapat bahwa tidak akan ada pembalasan terhadap Meksiko karena mantan wakil presiden berusia 77 tahun itu bukanlah seorang politikus pendendam.

Tetapi Carlos Bravo Regidor, seorang analis politik dan profesor terkemuka di Pusat Penelitian dan Pengajaran Ekonomi di sebuah universitas di Mexico City, mengatakan bahwa kegagalan Lopez Obrador untuk menjangkau Biden dapat berdampak di dalam negeri.

“Menggambar analogi antara Meksiko pada 2006 dan AS pada 2020 menempatkan Lopez Obrador dalam posisi canggung dalam menyamakan dirinya dengan Trump dan tuduhan penipuan tak berdasarnya,” katanya.

“Jika Meksiko tidak memihak demokrasi Amerika, Amerika Serikat juga tidak akan memihak demokrasi Meksiko. Mungkin itulah yang diinginkan López Obrador, tetapi bukan itu yang menjadi kepentingan terbaik orang Meksiko.”

Seorang pejabat senior pemerintah Meksiko yang berbicara kepada The Dallas Morning News dengan syarat anonim mengatakan bahwa keputusan AMLO dirancang untuk menghindari Trump menindas Meksiko di hari-hari terakhirnya di kantor, tetapi pejabat lain mengatakan langkah itu "memalukan."

Tony Garza, mantan duta besar AS untuk Meksiko, mengatakan bahwa penolakan López Obrador untuk mengakui Biden adalah "semacam kesalahan" tetapi bukan masalah besar.

"Yang sebenarnya adalah, kotak masuk presiden terpilih penuh dengan hal-hal yang jauh lebih mendesak daripada kesalahan AMLO sendiri," katanya.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya