Berita

PM Palestina Muhammad Shtayyeh/Net

Dunia

Perdana Menteri Palestina Kecam Rencana Kunjungan Menlu AS Mike Pompeo Ke Pemukiman Israel Di Tepi Barat

SABTU, 14 NOVEMBER 2020 | 09:40 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perdana Menteri Palestina Muhammad Shtayyeh bersama sejumlah pejabat lainnya mengecam rencana Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo untuk mengunjungi Dataran Tinggi Golan dan pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Kunjungan Pompeo  dinilai sebagai upaya yang berbahaya, berlawanan dengan hukum internasional, dan konvensi PBB.

“Kunjungan itu bertujuan untuk melegitimasi permukiman Israel dan kegiatan ekspansinya di Tepi Barat,”  Shtayyeh menekankan, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Jumat (13/11).


Juru bicara Hamas, Hazim Qasim, mengatakan langkah yang direncanakan Pompeo itu menunjukkan bahwa pemerintah AS melanggar semua adat istiadat dan hukum internasional.

Dalam pernyataan yang senada, juru bicara Gerakan Jihad Islam Dawoud Shihab, mengatakan kunjungan Pompeo adalah tindakan bermusuhan untuk mengkonsolidasikan pendudukan Israel di tanah Palestina dan Dataran Tinggi Golan.

“Kunjungan Pompeo bertujuan untuk melegalkan kebijakan pemukiman ilegal Israel dan menunjukkan dukungan pemerintah AS kepada Israel dalam hal ini,” kata Maher Mezher, seorang anggota Front Populer untuk Komite Sentral Pembebasan Palestina.

Mezher menggarisbawahi bahwa Presiden AS Donald Trump telah mencoba meningkatkan ketegangan politik di wilayah tersebut bahkan di hari-hari terakhir kepresidenannya.

Pompeo berencana untuk mengunjungi Dataran Tinggi Golan dan pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki minggu depan. Kedua kunjungan tersebut akan menjadi yang pertama bagi seorang menteri luar negeri AS.

Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan telah diperlakukan sebagai wilayah pendudukan oleh semua administrasi AS sejak 1967.

Israel secara sepihak mencaplok Dataran Tinggi Golan pada tahun 1981, sebuah langkah yang tidak diakui secara internasional. Namun, pada Maret 2019, pemerintahan Trump mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai bagian dari Israel.

Axios melaporkan bahwa diplomat top AS itu akan mendarat di Israel pada hari Rabu dan diperkirakan akan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pejabat lain untuk menyoroti perubahan kebijakan pemerintahan Trump di Israel.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya