Berita

Presdien Recep Tayyip Erdogan/Net

Dunia

Kelompok Grey Wolves Pendukung Erdogan Di Prancis Dibubarkan, Pemerintah Turki Marah Besar

KAMIS, 05 NOVEMBER 2020 | 12:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perseteruan antara Prancis dan Turki sepertinya masih akan terus berlanjut setelah Ankara berjanji pada Rabu (4/11) untuk memberikan tanggapan tegas terhadap larangan pemerintah Emmanuel Macron terhadap kelompok Ultra-nasionalis Greet Wolves yang terkait dengan sekutu utama Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Kelompok sayap kanan Grey Wolves atau Serigala Abu-abu dipandang sebagai sayap dari Partai Gerakan Nasionalis (MHP), yang bersekutu dengan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Erdogan di parlemen Turki.

Erdogan telah berseteru sengit dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada sejumlah titik api geopolitik dan, baru-baru ini, perjuangan Prancis melawan Islam radikal.


Kementerian luar negeri Turki mengatakan pemerintah Prancis harus "melindungi kebebasan berkumpul dan berekspresi orang Turki di Prancis".

"Kami akan menanggapi keputusan ini dengan cara sekeras mungkin," katanya, seperti dikutip dari AFP, Kamis (5/11).

Kabinet Prancis secara resmi membubarkan cabang lokal kelompok itu setelah pusat peringatan pembunuhan massal orang-orang Armenia selama Perang Dunia I dirusak pada akhir pekan dengan coretan grafiti termasuk nama Serigala Abu-abu.

Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin mengatakan dalam tweet yang mengumumkan pembubaran kelompok itu bahwa hal itu "memicu diskriminasi dan kebencian dan terlibat dalam tindakan kekerasan".

Serigala Abu-abu adalah nama panggilan yang diberikan kepada anggota gerakan Turki pinggiran yang muncul pada 1960-an dan 70-an.

Terikat erat dengan MHP, ia mengadvokasi ide-ide radikal dan menggunakan kekerasan pada 1980-an terhadap aktivis kiri dan etnis minoritas.

Kementerian luar negeri Turki mengatakan bahwa pelarangan itu menunjukkan "pemerintah Prancis sekarang sepenuhnya di bawah pengaruh Armenia," dan menuduh Paris memeiliki "standar ganda" dan "kemunafikan" karena hal itu memungkinkan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan kelompok lain untuk aktif di Perancis.

Turki menganggap PKK sebagai organisasi teroris.

Dalam pernyataannya, kementerian luar negeri membantah keberadaan Serigala Abu-abu, dengan mengatakan Prancis "berurusan dengan formasi imajiner".

Mereka menuduh pemerintah Prancis mengabaikan "hasutan, ancaman, dan serangan" terhadap orang Turki di Prancis.

Larangan terhadap kelompok Serigala Abu-abu Prancis datang dengan latar belakang ketegangan yang meningkat antara komunitas Armenia dan Turki di negara itu atas konflik di Nagorno-Karabakh.

Turki sangat mendukung sekutunya, Baku, dalam pertempuran di wilayah yang merupakan bagian dari Azerbaijan, tetapi telah dikendalikan oleh separatis etnis Armenia sejak perang tahun 1990-an yang merenggut 30 ribu nyawa.

Empat orang terluka di luar Lyon pekan lalu dalam bentrokan antara tersangka nasionalis Turki dan orang Armenia yang memprotes serangan militer Azerbaijan.

Orang Armenia telah lama berkampanye untuk pembunuhan massal nenek moyang mereka di Kekaisaran Ottoman dari tahun 1915 agar diakui sebagai genosida, seruan yang menggema di Prancis.

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya