Berita

KOta Wina dijaga ketat pasca teror yang terjadi pada Senin 2 November 2020/Net

Dunia

Teror Wina, Bayang-bayang Ketakutan Menghantui Komunitas Yahudi Austria

KAMIS, 05 NOVEMBER 2020 | 10:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Shalom Berntholz, seorang pemilik restoran di pusat kota Wina, tak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya dia tidak menutup tempat usahanya lebih awal pada saat kejadian teror berdarah Senin lalu.

Berntholz mengatakan, biasanya ia tidak pernah menutup tempat usahanya seawal itu. Namun,  ketika penutupan baru yang disebabkan oleh virus corona semakin dekat, dia memutuskan untuk tutup lebih awal pada Senin (2/11), dan ternyata itu menyelamatkan hidupnya.

Senin (2/11) malam waktu setempat, seorang pria bersenjata yang mendukung kelompok Negara Islam (ISIS) memulai aksis penembakan brutal tepat di depan restorannya yang tutup, menewaskan seorang pelayan restoran di seberangnya.


"Biasanya, kami buka 365 hari setahun, bahkan untuk hari raya Shabbat dan Yahudi. Luar biasa, kami tutup. Itulah yang menyelamatkan hidup kami," kata Berntholz, seperti dikutip dari AFP, Rabu (4/11).

Restorannya 'Alef Alef' terletak di lantai dasar sebuah bangunan putih yang menampung kantor IKG, sebuah badan yang mewakili komunitas Yahudi Wina dan memiliki sekitar 7.000 anggota.

Pria bersenjata, bernama Kujtim Fejzulai berkewarganegaraan ganda Austria-Makedonia berusia 20 tahun yang ditembak mati oleh polisi setelah membunuh empat orang, "mulai tepat di kaki gedung ini," kata Berntholz.

"Mungkin dia melihat tidak ada apa-apa di pihak kita dan menembakkan senjatanya ke arah berlawanan dan membunuh pelayan malang itu," katanya.

"Anda mungkin berpikir bahwa itu juga komunitas Yahudi yang dia targetkan, tetapi sebenarnya kita tidak akan pernah tahu."

Fejzulai, yang lahir di Wina dan orang tuanya berasal dari Makedonia Utara, melepaskan tembakan sekitar jam 8 malam di alun-alun kecil berbatu tempat beberapa bar dan restoran populer berada, serta kantor komunitas Yahudi.

Penyelidik belum dapat menentukan apakah pria bersenjata itu menargetkan lokasi Yahudi di alun-alun, atau apakah dia hanya memilih tempat ini karena kehidupan malam yang meriah.

Serangan yang diklaim oleh ISIS juga terjadi hanya belasan meter dari sebuah bangunan yang melambangkan kekayaan sejarah Yahudi di kota itu: 'Stadttempel', sebuah sinagoga abad ke-19 yang megah.

Ini adalah satu-satunya sinagoga di Wina yang selamat dari Perang Dunia Kedua dan peristiwa 'Night of Broken Glass' pada 9-10 November 1938 - pogrom (pembinasaan) terhadap orang Yahudi yang dilakukan oleh pasukan paramiliter Nazi dan warga sipil.

Pogrom adalah sebuah kata dalam bahasa Rusia yang berarti 'membinasakan, menghancurkan dengan kekerasan'. Secara historis, istilah ini mengacu kepada serangan yang diwarnai dengan kekerasan oleh penduduk non-Yahudi setempat terhadap warga Yahudi di Kekaisaran Rusia dan di negara-negara lain.

Sebelum Perang Dunia Kedua, ada sekitar 192 ribu orang Yahudi di Austria, hampir empat persen dari populasi yang ada. Komunitas saat itu hampir tidak ada karena deportasi dan pengasingan, tetapi perlahan-lahan dibangun kembali setelah konflik.

Amukan senjata hari Senin telah menghidupkan kembali ingatan akan serangan terhadap sinagoga Stadttempel pada 1979 dan 1981 oleh kelompok ekstremis Palestina, dengan dua orang tewas dalam serangan terakhir.

Kongres Yahudi Eropa pada Selasa mengatakan, "Itu membawa kembali kenangan tragis bagi kami sebagai salah satu serangan pertama terhadap sasaran Yahudi di Eropa terjadi di tempat ini hampir 40 tahun yang lalu."

Yoav Ashkenazy, seorang Israel berusia 38 tahun yang telah tinggal di Wina selama enam tahun untuk belajar filsafat, memutuskan untuk datang melihat lokasi penyerangan dengan matanya sendiri.

Dia menolak untuk menyerah pada rasa takut.

"Orang-orang berjalan di sekitar sini dengan sebuah kippah (topi yang secara tradisional dipakai oleh pria Yahudi) tanpa masalah," katanya.

Komunitas Yahudi di kota itu - tidak seperti di Paris, Brussel, Kopenhagen atau Jerman - secara umum memiliki perasaan hidup di negara yang aman yang sampai sekarang terhindar dari serangan jihadis.

Namun, 550 insiden anti-Semit - hampir setengahnya dikaitkan dengan sayap kanan - dilaporkan pada 2019 di Austria, angka yang meningkat dua kali lipat dalam lima tahun.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya