Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

China Kirim Gelombang Kejutan Ekonomi, Industri Australia Berada Dalam Ancaman Mengerikan

KAMIS, 05 NOVEMBER 2020 | 10:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Duta Besar Australia untuk China, Graham Fletcher, dikabarkan akan mengunjungi China International Import Expo (CIIE)  ke-3 di Shanghai. Kunjungan itu dilakukan setelah China menghentikan tujuh kategori barang Australia dari pasar mereka.

Analis China percaya laporan kunjungan Fletcher dalam ajang yang akan digelar pada Kamis (5/11) hingga Selasa (10/11) itu mencerminkan kebutuhan Australia untuk pasar China di tengah hubungan diplomatik yang memburuk dan konsekuensi ekonominya.

Tetapi para analis juga memperingatkan bahwa kepercayaan konsumen China pada produk Australia akan turun secara signifikan jika negara itu terus menyabotase hubungan bilateral. Dan hal itu akan merugikan Australia sebagai pasar terbaik dan terbesar.


Perjalanan Fletcher terjadi setelah laporan yang disajikan Bloomberg News bahwa China telah meminta pedagang untuk berhenti membeli setidaknya tujuh kategori produk Australia, termasuk batu bara, barley, bijih tembaga dan konsentrat, gula, kayu, anggur, dan lobster. Penghentian “paling menyeluruh” akan dimulai pada hari Jumat mendatang.

Berita itu rupanya telah mengirimkan gelombang kejutan ke Australia.

Dalam sebuah artikel berjudul ‘Ketakutan akan lebih banyak larangan perdagangan yang akan datang karena China menghentikan impor kayu, lobster, jelai Australia’, ABC News mengatakan sanksi atas ekspor lobster Australia akan menimbulkan “ancaman mengerikan” bagi industri di Australia, yang biasanya mengekspor lebih dari “90 persen hasil tangkapannya ke China.”

Beberapa politisi Australia juga mendesak pemerintahnya untuk mengakui fakta bahwa tidak ada cara untuk memisahkan ekonomi Australia dari China.

Mantan Duta Besar Australia untuk China Geoff Raby menulis dalam buku barunya bahwa komplementaritas antara kedua ekonomi begitu mendalam sehingga ketergantungan ekonomi Australia pada China tidak akan berubah, kecuali warga Australia memilih untuk menerima pemotongan besar dalam standar hidup mereka.

Mantan diplomat itu mengatakan kepada The Guardian bahwa Australia akan beralih ke pasar lain itu adalah 'tidak lebih dari angan-angan'.

Chen Hong, direktur Pusat Studi Australia di East China Normal University di Shanghai, mengatakan pada hari Rabu bahwa meskipun beberapa politisi berkeinginan untuk memperbaiki hubungan tersebut, akan butuh waktu lama bagi Australia secara keseluruhan untuk sadar, katanya, seperti dkutip dari Global Time, Rabu (4/11).

Apa yang telah dilakukan pemerintah Australia sejak tahun ini dalam memelopori kampanye anti-China yang digaungkan AS dan membatasi perusahaan China telah merusak hubungan bilateral.

“Australia telah mengeluarkan pesan yang mendesak komunitas bisnis dan komunitas pendidikan internasional untuk ‘mendiversifikasi’ pasarnya, yang mendorong dan mempromosikan apa yang disebut ‘pemisahan’ dari China,” kata Chen.

Namun, decoupling tampaknya bukanlah pilihan bagi banyak perusahaan Australia, yang berusaha keras untuk menjelajahi pasar China. Tetapi apakah konsumen China menyambut komoditas Australia adalah pertanyaan lain.

Chen memperingatkan bahwa jika Australia terus menyabotase hubungan bilateral, itu akan membayar harga yang tak tertahankan.

“Kepercayaan konsumen China pada produk Australia akan turun, dan tidak ada pengganti pasar China untuk Australia. Tetapi bagi orang China, barang Australia memiliki banyak alternatif,” kata Chen.

John Ross, seorang rekan senior di Institut Chongyang untuk Studi Keuangan Universitas Renmin China, pada Selasa memperingatkan bahwa “menjadi corong untuk agresi AS terhadap China akan merugikan pendapatan Australia.”

Di akun Twitternya dia menulis bahwa China telah menjelaskan kepada Australia bahwa kepentingan mereka terletak pada hubungan damai win-win dengan Tiongkok, yang memberi Australia pekerjaan dan pendapatan, alih-alih mengikuti jalan pemerintahan saat ini, yakni melakukan Perang Dingin baru yang dipaksakan oleh AS.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya