Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pilpres AS 2020: Trump Atau Biden Yang Menang Sama Saja, Tidak Akan Ada Kabar Baik Bagi China

KAMIS, 05 NOVEMBER 2020 | 06:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Penghitungan suara pemilihan presiden AS masih terus berjalan dan belum adanya pemenang yang jelas hingga Rabu (4/11), membuat Beijing lebih mengambil pendekatan menunggu dan melihat. Beijing telah bersiap menghadapi tantangan berat dalam jangka panjang untuk hubungannya dengan China, siapa pun yang memenangkan pemilihan.

Beijing berusaha menghindari kontroversi yang membayangi terkait penghitungan suara yang berkepanjangan di AS.

“Kami mencatat bahwa pemilihan AS sedang berlangsung tanpa hasil akhir. Pemilihan presiden AS adalah urusan internal dan China tidak mengambil sikap atasnya," kata juru bicara kementerian luar negeri China Wang Wenbin selama briefing reguler pada hari Rabu (4/11).


Banyak pakar di China terkejut bahwa berjam-jam hingga Rabu pagi (waktu AS), pertarungan untuk Gedung Putih antara Presiden Donald Trump dan penantangnya dari Partai Demokrat Joe Biden saling berdekatan. Penghitungan resmi sendiri, termasuk jutaan surat suara yang masuk di beberapa negara bagian medan pertempuran utama, bisa memakan waktu berhari-hari untuk menyelesaikannya.

Shi Yinhong, seorang ahli urusan AS di Universitas Renmin Beijing, mengatakan banyak akademisi China yang akan kesulitan mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan lagi, terutama ketika menilai Trump.

"Kinerja Trump yang lebih kuat dari perkiraan menunjukkan bahwa kebijakannya, dan mungkin juga gaya pribadinya, justru mendapat dukungan dari setengahnya orang Amerika," katanya, seperti dikutip dari SCMP, Rabu (4/11).

“Saya benar-benar mengatakan kemarin bahwa kita harus menyisakan cukup ruang untuk kejutan [ketika berbicara tentang hasil pemilu]," lanjutnya.

Zhu Feng, direktur Institute of International Studies di Universitas Nanjing, mengatakan itu merupakan pukulan bagi para sarjana studi Amerika China, yang gagal memahami apa yang terjadi pada AS di bawah Trump.

“Tampaknya Trump memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pemilu daripada Biden, ini menjadi bukti semakin pentingnya politik identitas di AS saat ini. Bertentangan dengan apa yang mungkin dipikirkan orang China, orang Amerika tidak terlalu peduli dengan kualitas moral dan etika Trump. Mereka memilih Trump dan pemerintahan sayap kanannya karena itulah Amerika yang mereka inginkan," katanya.

Dengan latar belakang lonjakan baru infeksi virus corona di seluruh AS, popularitas Trump menunjukkan bahwa pemilih Amerika memiliki masalah kritis.

“Anehnya, banyak orang Amerika tidak melihat pemilu sebagai kesempatan untuk mempertanggungjawabkan (kebijakan) Trump yang dilanda kontroversi. Caranya  menangani pandemi Covid-19 banyak dikritik. Jelas bahwa pendukung Trump telah memilih ekonomi dan nilai-nilai pribadi daripada mengendalikan pandemi,” kata Zhu.

Tidak akan ada kabar baik bagi China terlepas dari siapa yang memenangkan Gedung Putih selama empat tahun ke depan, menurut Shi.

“Jika Trump menang, itu berarti lebih sulit bagi China. Jika Biden berhasil meraih kemenangan tipis, dia harus menyerah secara signifikan kepada China Hawk di dalam Partai Demokrat, yang juga tidak menyenangkan bagi China," katanya.

Wang Yiwei, seorang profesor hubungan internasional dari Universitas Renmin, menghadiri acara hari pemilihan di kedutaan AS di Beijing dan mencatat ada "rasa kekecewaan yang kuat di antara pemirsa dari komunitas bisnis AS".

“Kita mungkin akan melihat lebih banyak kerusakan pada dunia selama empat tahun lagi jika Trump menang. Tetapi tidak peduli siapa yang menang, segalanya tidak akan pernah kembali seperti semula. China agak cuek dengan hasilnya. Tidak peduli siapa yang akan menjadi presiden AS berikutnya, kebijakan penahanan AS di China akan terus berlanjut dan kami siap untuk itu," katanya.

Gal Luft, co-direktur Institute for the Analysis of Global Security, sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Washington, memperingatkan bahwa kemenangan Biden bisa lebih berbahaya bagi China - dan dunia - dalam jangka pendek

“Kemenangan Biden akan menyalurkan kebencian yang mendalam terhadap China yang akan dianggap bertanggung jawab atas kekalahan tersebut. Dalam sisa waktu jabatannya, Trump akan membalas dendam dan ingin meminta pertanggungjawaban China atas pembantaian ekonomi yang disebabkan oleh pandemi,” katanya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya