Berita

Pendukung Alassane Ouattara mengatakan dia diizinkan untuk mencari masa jabatan ketiga/Net

Dunia

Petahana Alessane Ouattara Menang Telak Dalam Pilpres Pantai Gading 2020, Oposisi Tak Terima

RABU, 04 NOVEMBER 2020 | 08:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Di tengah riuh pilpres AS 2020 yang sedang berlangsung di Amerika, jauh di Afrika Barat, tepatnya di Pantai Gading pilpres baru saja usai dengan kemenangan telak calon petahana Alessane Ouattara.

Komisi pemilihan umum Pantai Gading mengumumkan bahwa Ouattara untuk sementara dipastikan memenangkan masa jabatan ketiga dengan perolehan 94,27 persen suara pada Selasa (3/11) pagi waktu setempat.

Kemenangan itu terjadi di tengah kekhawatiran akan terjadinya kerusuhan pasca pilpres. Terlebih, pemilu saat ini telah mendapat penolakan luas dari pihak oposisi.


"Demikian presiden terpilih republik, Alassane Ouattara " kata ketua komisi pemilihan Kuibiert-Coulibaly Ibrahime, saat mengumumkan kemenangan Ouattara, seperti dikutip dari AFP, Selasa (3/11).

Dia mengatakan jumlah pemilih terakhir untuk pemilihan 31 Oktober berada di 53,90 persen.

Meskipun demikian, hasilnya harus divalidasi oleh dewan konstitusi negara yang akan mengumumkan pemenang akhir setelah mendengar tantangan atau keluhan penyimpangan.

Dua kandidat oposisi utama dalam pemungutan suara telah meminta para pendukung untuk tidak ambil bagian dalam pemilihan hari Sabtu, sebagai protes atas keputusan Ouattara untuk mencalonkan diri kembali. Partai mereka mengatakan seluruh petak negara tidak berpartisipasi.

Aktivis oposisi mengatakan keputusan Ouattara untuk mengajukan masa jabatan ketiga merupakan pukulan lebih lanjut bagi demokrasi di Afrika Barat kurang dari tiga bulan setelah kudeta militer di negara tetangga Mali, dan tawaran masa jabatan ketiga yang berhasil oleh Presiden Guinea Alpha Conde.

Ouattara (78) menerima lebih dari 90 persen suara di sebagian besar distrik, meskipun oposisi mengatakan pencalonannya merupakan upaya ilegal untuk memegang kekuasaan.

Konstitusi Pantai Gading membatasi presiden pada dua periode, tetapi Ouattara mengatakan persetujuan konstitusi baru pada 2016 memungkinkannya untuk mengulang kembali mandatnya.

Ketidaksepakatan tersebut menyebabkan bentrokan menjelang pemungutan suara, di mana setidaknya 30 orang tewas. Setidaknya lima orang lagi tewas pada hari Sabtu (1/11), kata para pejabat.

Negara penghasil kakao teratas dunia itu terhindar dari kekerasan yang meluas yang dikhawatirkan akan meletus selama pemungutan suara, tetapi banyak warga Pantai Gading khawatir bahwa negara itu dapat mengalami kerusuhan jangka panjang.

Perang saudara singkat pernah terjadi setelah pemilihan yang disengketakan pada tahun 2010 menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Carter Center, yang memantau pemilihan hari Sabtu, mengatakan situasi politik dan keamanan membuat sulit untuk menghasilkan pemungutan suara yang kredibel.

"Proses pemilu mengecualikan sejumlah besar pasukan politik Pantai Gading dan diboikot oleh sebagian penduduk dalam lingkungan keamanan yang tidak menentu," katanya dalam sebuah pernyataan.

Kandidat oposisi yang memboikot pemungutan suara - mantan Presiden Henri Konan Bedie dan mantan Perdana Menteri Pascal Affi N'Guessan - mengatakan mereka tidak akan mengakui kemenangan Ouattara.

Dalam pernyataan bersama pada Senin (2/11) malam, mereka mengumumkan pembentukan dewan transisi yang dipimpin oleh Bedie.

"Dewan akan memiliki misi untuk mempersiapkan kerangka kerja untuk pemilihan presiden yang kredibel dan transparan. Dewan akan menunjuk pemerintah dalam beberapa jam mendatang," kata N'Guessan dalam konferensi pers.

Pada hari Senin (2/11) waktu setempat, suara tembakan terdengar di lingkungan kelas atas Cocody di Abidjan, ibu kota komersial, menghancurkan ketenangan tegang yang telah terjadi selama hari pemilihan, kata saksi.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya