Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Pasar Sambut Baik Hari Pemungutan Suara AS, Indeks S&P 500 Naik 58,92 Poin

RABU, 04 NOVEMBER 2020 | 07:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Puncak pemungutan suara untuk Pilpres AS 2020 disambut positif oleh pasar. Saham dilaporkan menguat lebih tinggi pada Selasa (3/11) waktu setempat. Investor berharap akhir dari kampanye kepresidenan AS dapat segera menghapus ketidakpastian, setelah selama ini membuat pasar terhuyung dan berputar.

Indeks S&P 500 dilaporkan naik 58,92 poin atau 1,8 persen menjadi 3.369,16 untuk kenaikan berturut-turut. Reli itu meluas secara global, dengan hasil Treasury harga minyak dan saham di seluruh dunia menguat.

S&P 500 adalah sebuah indeks yang terdiri dari saham 500 perusahaan dengan modal-besar, kebanyakan berasal dari Amerika Serikat. Indeks ini merupakan indeks paling terkenal yang dimiliki dan dirawat oleh Standard & Poor's, sebuah divisi dari McGraw-Hill


Dow Jones Industrial Average naik 554,98, atau 2,1 persen menjadi 27.480,03, dan komposit Nasdaq bertambah 202,96, atau 1,9 persen, menjadi 11.160,57.

Lebih dari segalanya, apa yang diharapkan investor dari pemilu adalah pemenang yang jelas. Sejarah menunjukkan saham cenderung naik terlepas dari partai mana yang mengendalikan Gedung Putih.

"Pasar tidak merah atau biru, dan hari ini jelas-jelas hijau," kata Rod von Lipsey, direktur pengelola di UBS Private Wealth Management, seperti dikutip dari AP, Rabu (4/11).

Yang ditakuti investor selama ini adalah prospek pemilihan yang berlarut-larut yang akan melahirkan banyak ketidakpastian ke pasar.

Di bawah skenario seperti itu, sebagian besar Wall Street memprediksi penurunan tajam pada saham yang dikarenakan situasi politik dan ditambah dengan pandemi, serta ketidakpastian kapan datangnya vaksin Covid-19.

"Kami mungkin mendapatkan kejelasan tentang hasil dari satu atau dua 'kartu liar' yang telah menggerakkan pasar," kata von Lipsey.

Jika Biden akhirnya menang, seperti yang disebutkan oleh beberapa jajak pendapat, kemungkinan itu bisa membuka pintu ke paket dukungan besar bagi perekonomian, terutama jika Demokrat juga mengambil kendali Senat.

Jika Trump menang dan Senat tetap di bawah kendali Partai Republik, kemungkinan itu akan menyebabkan lebih sedikit stimulus, menurut Chris Zaccarelli, kepala investasi untuk Independent Advisor Alliance.

Namun, beberapa memprediksi kemenangan Biden dan Senat Republik akan menjadi paling tidak menguntungkan bagi saham, karena itu berarti peluang terendah untuk stimulus.

Investor dan ekonom telah menuntut pembaruan stimulus sejak berakhirnya putaran terakhir tunjangan tambahan untuk pekerja yang diberhentikan oleh Kongres.

Tetapi investor juga melihat optimisme dalam skenario pemilu lainnya. Jika Trump menang, itu kemungkinan akan berarti kelanjutan dari tarif pajak yang lebih rendah dan regulasi yang lebih ringan pada bisnis. Itu juga berarti akan menopang keuntungan perusahaan yang menjadi sumber kehidupan pasar saham.

Pada akhirnya, banyak investor profesional mengatakan pihak mana yang mengendalikan Washington jauh lebih penting bagi ekonomi dan pasar daripada apa yang terjadi dengan pandemi. Apalagi vaksin dapat segera tiba untuk membantu pemulihan ekonomi.

Sementara pemilu mendominasi perhatian investor, banyak peristiwa penggerak pasar lainnya yang membayangi minggu ini. Federal Reserve sedang mengadakan pertemuan tentang kebijakan suku bunga dan akan mengumumkan keputusannya pada hari Kamis.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya