Berita

Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly/Net

Dunia

Jet Prancis Bombardir Militan Pendukung Al-Qaeda Di Mali, 50 Orang Jihadis Dilaporkan Tewas

SELASA, 03 NOVEMBER 2020 | 09:28 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasukan Prancis mengaku telah membunuh lebih dari 50 jihadis pendukung Al-Qaeda dalam sebuah serangan udara yang dilancarkan di Mali Tengah.

Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengatakan, serangan itu terjadi pada hari Jumat (30/10) waktu setempat, di daerah dekat perbatasan Burkina Faso dan Niger, di mana pasukan pemerintah sedang berjuang untuk mengalahkan pemberontakan Separatis Islam.

"Pada 30 Oktober di Mali, pasukan Barkhane melakukan operasi yang menetralkan lebih dari 50 jihadis dan menyita senjata dan material," kata Parly, mengacu pada Operasi Barkhane anti-jihadis pimpinan Prancis, seperti dikutip dari AFP, Selasa (3/11).


Dia menambahkan, sekitar 30 sepeda motor rusak dalam serangan tersebut.

Parly, yang sebelumnya bertemu dengan Presiden Niger Mahamadou Issoufou dan mitranya dari Nigeria Issoufou Katambe sebelum menuju ke Bamako, mengatakan operasi itu diluncurkan setelah sebuah drone mendeteksi adanya karavan sepeda motor yang sangat besar di daerah tiga perbatasan.

"Ketika para jihadis bergerak di bawah pohon untuk mencoba berlindung dan melarikan diri dari pengawasan, pasukan Prancis mengirim dua jet Mirage dan sebuah drone untuk meluncurkan rudal, yang mengarah pada 'netralisasi' para pemberontak," kata Parly.

Juru bicara militer Kolonel Frederic Barbry mengatakan, "Empat teroris telah ditangkap."

Bahan peledak dan rompi bunuh diri telah ditemukan, katanya kepada seorang wartawan dalam panggilan konferensi, seraya mengatakan bahwa kelompok itu akan menyerang posisi (tentara) di wilayah tersebut.

Barbry juga mengatakan bahwa operasi lain, yang kali ini menargetkan ISIS di Sahara Raya, juga sedang berlangsung, dengan total 3.000 tentara.

"Hasil operasi, yang diluncurkan sekitar sebulan lalu, akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang," katanya.

Parly mengatakan tindakan tersebut menandai "pukulan signifikan" bagi kelompok Ansarul Islam yang menurutnya terkait dengan Al-Qaeda melalui aliansi GSIM yang dipimpin oleh Iyad Ag Ghaly.

Ghaly telah muncul sebagai pemimpin jihadis teratas di Sahel sejak kematian komandan Qaeda Abdelmalek Droukdel, yang dibunuh oleh pasukan Prancis di Mali pada bulan Juni.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki sekitar 13.000 tentara yang dikerahkan di Mali sebagai bagian dari misi penjaga perdamaiannya, yang dikenal sebagai MINUSMA, sementara Prancis memiliki 5.100 yang ditempatkan di wilayah Sahel.

Mali telah berjuang untuk menahan pemberontakan jihadis brutal yang pertama kali muncul di bagian utara negara itu pada tahun 2012, menyusul pemberontakan yang dilakukan oleh sebagian besar separatis etnis Tuareg.

Bekas kekuatan kolonial Prancis itu kemudian melancarkan operasi militer untuk mengusir kelompok Islamis pada 2013, tetapi pertempuran telah menyebar ke Mali tengah, dan ke negara tetangga Burkina Faso dan Niger, menyebabkan ribuan orang tewas dan ratusan ribu terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Banyak analis berpendapat bahwa terlibat dalam dialog dengan para jihadis adalah salah satu dari sedikit jalan keluar dari siklus kekerasan Mali, dan para pemimpin pemerintah di Bamako semakin memandang opsi tersebut dengan baik.

Pemerintahan sementara baru Mali, yang ditunjuk untuk memerintah selama 18 bulan sebelum menggelar pemilihan, tampaknya bersedia untuk terlibat dalam dialog.

Bulan lalu, mereka membebaskan empat sandera yang ditahan oleh kelompok-kelompok Islam, termasuk Sophie Petronin (75), sandera Prancis yang tersisa di dunia dengan imbalan sekitar 200 tahanan, beberapa di antaranya dianggap jihadis.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya