Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin/Net
Pemerintah Prancis berencana untuk melarang keberadaan kelompok ultra-nasionalis Turki yang dikenal sebagai kelompok Grey Wolves atau 'Serigala Abu-abu'. Rencana tersebut diungkap oleh kata Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin pada hari Senin (2/11) waktu setempat.
Keputusan Darmanin untuk membubarkan kelompok tersebut diambil dalam sebuah tindakan yang cukup berisiko semakin menegangkan hubungan yang selama ini memang sudah tegang dengan Ankara.
Rencana pembubaran tersebut diumumkan setelah pusat peringatan pembunuhan massal orang-orang Armenia selama Perang Dunia I dirusak dengan grafiti termasuk nama Serigala Abu-abu pada akhir pekan.
Darmanin mengatakan kepada komite parlemen Prancis bahwa langkah untuk melarang keberadaan kelompok Serigala Abu-abu - yang dipandang sebagai sayap partai yang bersekutu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan - akan diajukan ke kabinet Prancis pada Rabu (4/11) mendatang.
“Sederhananya, kami berbicara tentang kelompok yang sangat agresif,†kata Darmanin, seperti dikutip dari
AFP, Senin (2/11).
"Itu pantas untuk dibubarkan," tambahnya, mengatakan langkah itu berarti bahwa tindakan atau pertemuan oleh kelompok tersebut dapat dihukum dengan denda atau penjara.
Pengumumannya datang setelah sebuah pusat peringatan di luar Lyon untuk memperingati pembunuhan massal orang-orang Armenia di Kekaisaran Ottoman, yang dianggap sebagai genosida oleh Armenia, dirusak dengan slogan-slogan pro-Turki termasuk tulisan 'Serigala Abu-abu' dan 'RTE' yang mengacu pada Recep Tayyip Erdogan.
Insiden di kota Decines-Charpieu terjadi dengan latar belakang ketegangan yang tajam antara komunitas Armenia dan Turki di Prancis, terkait konflik di Nagorno-Karabakh.
Seperti diketahui Turki telah mendukung Azerbaijan dalam konflik di wilayah yang disengketakan itu, yang dikendalikan oleh separatis Armenia sejak perang tahun 1990-an ketika Uni Soviet pecah.
Empat orang terluka di luar Lyon Rabu lalu dalam sebuah bentrokan antara tersangka nasionalis Turki dan Armenia yang memprotes serangan militer Azerbaijan.
Orang Armenia telah lama berkampanye untuk pembunuhan massal leluhur mereka di Kekaisaran Ottoman dari tahun 1915 agar diakui sebagai genosida.
Dalam tindakan vandalisme baru yang tampak jelas, konsulat Armenia di Lyon pada hari Senin diolesi cat kuning dengan tulisan '1915' dan emoji berbentuk hati diikuti dengan 'RTE'.
Langkah Darmanin nampaknya berisiko lebih lanjut memicu ketegangan dengan Ankara.
Di Turki, Grey Wolves atau Serigala Abu-abu terkait erat dengan Partai Gerakan Nasionalis (MHP) Devlet Bahceli yang memiliki aliansi politik dengan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) milik Erdogan.
Analis melihat MHP sangat penting bagi dominasi Erdogan yang berkelanjutan di Turki, dengan dukungan Bahceli sebagai faktor kunci di balik kemenangannya dalam pemilihan presiden 2018.
Serigala Abu-abu dianggap sebagai sayap militan MHP dan menyebabkan malapetaka di jalan-jalan di Turki selama tahun 1970-an dan 1980-an ketika anggotanya sering bentrok dengan aktivis kiri.
Mereka yang berafiliasi dengan Serigala Abu-abu, yang dikenal sebagai Bozkurtlar dalam bahasa Turki, dan MHP secara tradisional menunjukkan kesetiaan mereka dengan gerakan tangan di mana jari kecil dan telunjuk terangkat.
Mehmet Ali Agca, nasionalis Turki yang berusaha membunuh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1981, juga dikaitkan dengan gerakan tersebut.
"Ini berita bagus," kata anggota parlemen Prancis Yael Braun-Pivet yang mengetuai komite hukum tempat Darmanin membuat pengumuman. "Kelompok kekerasan ini tidak memiliki tempat di negara kami," tulisnya di Twitter.
Ada ketegangan berminggu-minggu antara Prancis dan Turki, yang mencapai puncaknya bulan lalu setelah pemenggalan kepala seorang guru sekolah Prancis yang menunjukkan kartun-kartun yang mengejek Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.
Setelah pembunuhan tersebut, Presiden Emmanuel Macron menyampaikan pembelaan yang penuh semangat atas kebebasan berbicara, termasuk hak untuk mengkritik agama, yang mendorong Erdogan untuk mempertanyakan kesehatan mentalnya.
Prancis kemudian menanggapi dengan memanggil duta besarnya untuk Ankara untuk berkonsultasi.
Dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera pada hari Sabtu, Macron menuduh Turki mengadopsi sikap "berperang" terhadap sekutu NATO-nya, mengatakan ketegangan dapat mereda jika Erdogan menunjukkan rasa hormat dan tidak berbohong.
Menyusul serentetan serangan separatis dalam beberapa pekan terakhir, Prancis juga telah mengambil langkah untuk melarang kelompok Islam radikal dan memotong dana asing untuk mereka.