Berita

Kampanye Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump tampak tidak menerapkan aturan jarak sosial/Net

Kesehatan

Para Ekonom Universitas Stanford Menemukan Kampanye Trump Berkontribusi Bagi 30 Ribu Kasus Covid-19 Di AS

MINGGU, 01 NOVEMBER 2020 | 15:44 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sebuah model perhitungan yang dilakukan oleh para ekonom di Universitas Stanford menunjukkan, kampanye Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dari Juni hingga September telah berkontribusi pada puluhan ribu kasus baru Covid-19.

Setidaknya ada 30 ribu infeksi virus corona dan 700 kematian akibat kampanye Trump yang telah dihitung oleh para ekonom, mengutip The Washington Times, Minggu (1/11).

Perhitungan dilakukan dengan membandingkan kondisi wabah Covid-19 di 18 negara bagian tempat Trump mengadakan kampanye denagn 200 kabupaten di sana, sebelum dan setelah acara.


Sepanjang 20 Juni hingga 12 September, Trump sendiri menggelar dua kampanye di dalam ruangan, yaitu di Oklahoma dan Phoenix. Selain itu, Trump telah menggelar sekitar tiga lusin kampanye lainnya.

Dipimpin oleh B. Douglas Bernheim, para ahli menyimpulkan, 18 kampanye yang dilakukan Trump rata-rata telah meningkatkan kasus Covid-19 lebih dari 250 per 100 ribu penduduk.

Jika dihitung, maka kesimpulan menunjukkan, kampanye Trump telah menghasilkan lebih dari 30 ribu kasus Covid-19 dengan kemungkinan 700 kematian.

Hasil penelitian sendiri telah diunggah dalam bentuk makalah di situs web akademis di Twitter oleh para peneliti, beberapa hari menjelang pemilihan presiden AS pada 3 November.

Pejabat kesehatan masyarakat di negara bagian tempat Trump berkampanye berdalih, tidak mungkin mengaitkan infeksi Covid-19 dengan kampanye karena beberapa alasan, di antaranya beban kasus meningkat secara keseluruhan, peserta kampanye sering melakukan perjalanan dari lokasi lain, pelacakan kontak tidak selalu lengkap, dan pelacakan kontak tidak selalu tahu di mana orang yang terinfeksi pernah berada.

Jurubicara Gedung Putih, Judd Deere juga menolak studi yang dilakukan oleh para ekonom Universitas Stanford itu. Deere mengatakan, temuan itu didorong secara politik berdasarkan asumsi yang salah untuk mempermalukan pendukung Trump.

"Seperti yang dikatakan presiden, obatnya tidak bisa lebih buruk dari penyakitnya. Negara ini harus terbuka dengan berbekal praktik terbaik dan kebebasan memilih untuk membatasi penyebaran Covid-19," kata Deere dalam sebuah pernyataan Sabtu (31/10).

Bernheim sendiri mengatakan, temuan tersebut belum diserahkan untuk ditinjau para ahli. Menurutnya, mengunggah temuan secara online merupakan hal yang umum bagi ekonom sebelum mengirimkannya ke jurnal akademis.

“Motivasi untuk makalah ini adalah bahwa ada perdebatan yang berkecamuk tentang trade-off antara konsekuensi ekonomi dari pembatasan dan konsekuensi kesehatan dari penularan, dan sebagai seorang ekonom, saya menganggap debat itu penting dan pantas," ujarnya.

Di seluruh negeri, pejabat kesehatan masyarakat negara bagian dan lokal juga bergumul dengan pertanyaan apakah kampanye Trump telah menjadi apa peristiwa penyebaran super dari virus corona.

Mengingat, kampanye Trump sendiri kerap jarang menerapkan protokol kesehatan secara ketat, di mana ribuan orang berkumpul tanpa jarak sosial dan masker.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya