Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Armenia Kirim Surat Untuk Putin, Minta Moskow Turun Tangan Soal Nagorno-Karabakh

SABTU, 31 OKTOBER 2020 | 19:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan secara resmi meminta kesediaan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memulai konsultasi 'mendesak' tentang bantuan keamanan dalam konflik Armenia-Azerbaijan mengenai wilayah Nagorno-Karabakh.

Permintaan itu dikirim Pashinyan lewat sebuah surat yag dikirimkan langsung kepada Putin setelah Armenia dan Azerbaijan gagal menyetujui gencatan senjata untuk konflik yang memanas di Nagorno-Karabakh selama pembicaraan di Jenewa pada hari Jumat (30/10).

Permintaan itu datang di saat pertempuran berlanjut pada Jumat malam dan Sabtu (31/10) pagi waktu setempat.


Pengumuman tersebut, yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Armenia, menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya pertempuran antara Armenia dan Azerbaijan. Beberapa pengamat khawatir hal itu berisiko menyedot sekutu Yerevan, Rusia, dan juga Turki yang mendukung Baku, ke dalam konflik.

Armenia dan Azerbaijan telah terlibat dalam pertempuran sengit selama berminggu-minggu di Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang dikendalikan oleh separatis Armenia setelah pecahnya Uni Soviet.

Gejolak konflik telah menyebabkan lebih dari seribu orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka, yang berimbas dahsyat pada penduduk sipil dan fasilitas publik. Hingga saat ini kekuatan internasional gagal membujuk kedua belah pihak untuk berhenti berperang.

Rusia memiliki pangkalan militer di Armenia dan memiliki perjanjian pertahanan dengan Yerevan.

"Perdana Menteri Armenia telah meminta Presiden Rusia untuk memulai konsultasi mendesak dengan tujuan menentukan jenis dan jumlah bantuan yang dapat diberikan Federasi Rusia kepada Armenia untuk memastikan keamanannya," kata kementerian luar negeri di Yerevan dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (31/10).

Rusia sebelumnya mengatakan bahwa pakta pertahanannya dengan Armenia tidak meluas hingga ke wilayah Nagorno-Karabakh yang memisahkan diri.

Tetapi Pashinyan dalam suratnya kepada Putin mengatakan bahwa permusuhan semakin dekat dengan perbatasan Armenia dan menegaskan kembali bahwa Turki sebagai sekutu Azerbaijan telah mendukung Baku, menurut pernyataan itu.

Dia meminta bantuan Moskow, menyerukan hubungan dekat kedua negara dan perjanjian 1997 tentang persahabatan, kerja sama, dan bantuan timbal balik.

Pejabat Armenia tidak memberikan rincian lebih lanjut saat dihubungi oleh AFP.

"Selangkah lebih dekat ke perang yang lebih luas?" cuit Carey Cavanaugh, mantan duta besar AS dan wakil ketua OSCE Minsk group.

Analis politik Armenia Hakob Badalyan mengatakan kepada AFP bahwa dia tidak mengesampingkan permohonan bantuan Pashinyan "untuk saat ini merupakan langkah politik untuk menekankan peran Rusia di wilayah ini".

Hikmet Hajiyev, seorang asisten presiden Azerbaijan, mengatakan kepada AFP Baku tidak mau berkomentar.

Pada hari Jumat, mediator dari Prancis, Rusia, dan AS, mengatakan dalam sebuah pernyataan dari Jenewa bahwa pihak yang bertikai telah berkomitmen untuk "tidak dengan sengaja menargetkan penduduk sipil atau objek non-militer sesuai dengan hukum humaniter internasional".

Tetapi kementerian pertahanan kepemimpinan separatis Karabakh pada Sabtu menuduh Azerbaijan melanggar perjanjian Jenewa dan menargetkan kota utama Stepanakert dan Kota Shusha yang secara strategis adalah kota-kota penting.

Kementerian mengatakan ada korban luka di antara warga sipil di Shusha. Sementara Baku membantah menargetkan kota utama Karabakh.

Azerbaijan dan Armenia telah terlibat dalam konflik sengit atas Karabakh sejak separatis Armenia yang didukung oleh Yerevan menguasai provinsi pegunungan itu dalam perang tahun 1990-an yang menewaskan 30 ribu orang.

Bentrokan saat ini meletus pada 27 September 2020 dan pertempuran terus berlanjut meskipun internasional berulang kali berupaya untuk mengamankan gencatan senjata. Sebelumnya, pada Juli 2020 kedua negara juga terlibat bentrok yang mengerikan yang menimbulkan banyak korban.

Pihak yang bertikai telah tiga kali menyetujui gencatan senjata selama pembicaraan baru-baru ini yang dimediasi oleh Rusia, Prancis, dan Amerika Serikat, tetapi gencatan senjata semuanya dengan cepat berantakan.

Lebih dari 1.200 orang dari kedua belah pihak telah dilaporkan tewas sejak pertempuran dimulai, tetapi jumlah kematian sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya