Berita

Menhan AS Mark Esper/Net

Dunia

Departemen Pertahanan AS Akui Mereka Harus Hati-hati, Mengerikan Jika Washington-Beijing Terlibat Konflik Militer

SABTU, 31 OKTOBER 2020 | 09:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kemenhan Tiongkok mengatakan pada hari Kamis (29/10) waktu setempat bahwa Departemen Pertahanan AS telah melakukan komunikasi dengan pihaknya untuk meredakan ketegangan dan hindari konflik.

Pakar China mengatakan, meskipun beberapa pejabat senior dalam pemerintahan Trump semakin membuat provokasi untuk membahayakan hubungan bilateral serta keamanan regional di Pasifik Barat, para pemimpin Departemen Pertahanan AS tetap berhati-hati karena mereka tahu betapa mengerikannya jika China dan AS terlibat dalam konflik militer.

Juru bicara Kementerian Pertahanan China, Wu Qian, mengatakan pada konferensi pers bulanan hari Kamis bahwa militer China dan AS saat ini mengadakan pertemuan virtual untuk komunikasi krisis, dan lebih banyak pertukaran dan konsultasi mengenai berbagai masalah termasuk keamanan militer maritim yang akan diadakan pada akhir tahun.


Para ahli yakin pengumuman itu bertujuan untuk meredakan ketegangan militer dengan fakta yang kuat. Meskipun beberapa pejabat di pemerintahan Trump ingin membuat 'kejutan Oktober' dengan menggunakan ketegangan AS-China, mereka tidak mungkin mengambil risiko perang dengan China, sehingga provokasi militer oleh AS dapat dikurangi.

Sebelumnya, beberapa pengamat mengatakan bahwa manajemen krisis China-AS saat ini dan mekanisme konsultasi reguler telah ditangguhkan. Jika tentara garis depan dari kedua belah pihak bertemu di laut, maka kegagalan salah satu pihak untuk mematuhi aturan yang ada bisa mengakibatkan bencana.

Berdasarkan pernyataan yang diterbitkan oleh kementerian pertahanan, para ahli yakin mekanisme tersebut masih beroperasi normal.

Wu mengatakan bahwa AS tidak memiliki niat untuk menciptakan krisis militer dengan China. Ia menambahkan apa yang di katakan Menhan AS Mark Esper; AS bersedia untuk membangun hubungan militer yang stabil, konstruktif, serta akan bekerja sama untuk mengurangi risiko dan meningkatkan komunikasi.

Itu terjadi saat Esper berkomunikasi dengan Kemenhan China untuk menjelaskan bahwa AS tidak memiliki rencana mengirim drone untuk menyerang pulau-pulau dan terumbu karang di Laut China Selatan.

"Komunikasi militer China-AS sangat penting dalam situasi saat ini. Kami berharap AS mencocokkan kata-katanya dengan perbuatannya, menepati janjinya, dan menghentikan provokasi militer di perairan dan ruang udara di sekitar China. China akan membalas jika ada yang berani mengobarkan konflik," kata Wu pada konferensi persnya, seperti dikutip dari Global Time.

Seorang ahli militer China yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada Global Times, bahwa informasi yang diterbitkan oleh otoritas pertahanan China membuktikan bahwa hubungan militer China-AS saat ini tetap relatif normal.

Selama ini dunia luar percaya bahwa China dan AS berada dalam situasi di mana perang di ambang pecah.

Pakar tersebut juga mengatakan baik Trump atau Biden yang menang pemilu 2020, hubungan China-AS akan merangkul peluang baru. Ini bukan hanya keinginan China tetapi juga dari AS. Meskipun kedua belah pihak saat ini menghadapi kebuntuan, masih ada ruang untuk pertukaran dan interaksi di masa depan.

Wu mengatakan para perwira senior dari Kantor Kerjasama Militer Internasional Komisi Militer Pusat China dan Departemen Pertahanan AS telah berbicara pada 20 Oktober.

"Kedua militer mengadakan pertemuan virtual untuk komunikasi krisis pada hari Rabu dan Kamis. Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan seminar bantuan kemanusiaan dan pengurangan bencana personel militer 2020 dan pertukaran melalui konferensi video pada pertengahan November," kata Wu.

Selain itu, sebelum akhir tahun, kedua militer akan mengadakan konferensi video tentang konsultasi keamanan militer maritim, menurut Wu.  

Menanggapi laporan media  yang mengatakan bahwa Amerika sedang mempertimbangkan rencana untuk menggunakan drone militer MQ-9 untuk menyerang pulau-pulau dan terumbu karang di Laut China Selatan,
Menhan AS, Mark Esper, secara khusus mengklarifikasi masalah ini melalui saluran militer dan diplomatik, menyatakan bahwa laporan yang relevan tidak sesuai dengan fakta dan bahwa AS tidak berniat menciptakan krisis militer terhadap China.
Lu Xiang, seorang peneliti studi AS di Akademi Ilmu Sosial China di Beijing, mengatakan bahwa Esper dan banyak pejabat senior lainnya dari Departemen Pertahanan AS lebih bijaksana dan lebih masuk akal daripada apa yang telah dilaporkan.

"Biasanya, Menteri Pertahanan AS tidak akan menanggapi rumor tidak berdasar seperti itu, tetapi Esper secara khusus mencari komunikasi dengan China untuk mengklarifikasi rumor tersebut, menunjukkan bahwa AS benar-benar tidak menginginkan kecelakaan atau kesalahan perhitungan," kata Lu Xiang.

AS tidak siap dan tidak berani melakukan tindakan gila seperti itu.

Ahli militer China, Song Zhongping, mencatat bahwa tidak bijaksana bagi AS untuk memicu bentrokan militer.

"Jika AS menyerang pulau-pulau dan terumbu karang di Laut China Selatan, itu akan menimbulkan biaya yang sangat besar, yang belum disiapkan AS untuk saat ini," kata Zhongping.

AS akan menormalisasi kehadiran militernya di beberapa wilayah seperti perairan sekitar Selat Taiwan dan Laut China Selatan, tetapi akan lebih terkendali dan berhati-hati.

Dari Agustus hingga Oktober, kehadiran militer dari pesawat dan kapal militer AS di wilayah yang relevan telah mengalami penurunan, tetapi para ahli memperingatkan bahwa setelah musim topan, seringnya kehadiran militer pasukan AS mungkin kembali.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya