Berita

Peneliti LIPI Siti Zuhro/Net

Politik

Siti Zuhro: Seyogyanya Partai Pendukung Utama Dapat Porsi Besar

RABU, 28 OKTOBER 2020 | 18:29 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

PDI Perjuangan dianggap tengah cemburu lantaran Presiden Joko Widodo lebih condong ke partai lain dibandingkan partai tempat dia terdaftar sebagai kader.

Sehingga, belakangan muncul isu adanya manuver politik di tubuh pemerintahan yang kerap melakukan kepentingan pribadi atau kelompok untuk persiapan pilpres 2024.

Pengamat politik dari LIPI, Siti Zuhro mengatakan, seharusnya Presiden Joko Widodo lebih memprioritaskan partainya dibandingkan partai lain dalam menjalankan kebijakan.


“Saya melihat, itu memang seyogyanya, menurut saya partai pendukung diutamakan gitu ya. Partai pendukung utama seperti Pak SBY dulu didukung oleh Demokrat sebagai presiden, jumlah persentase yang diberikan kepada Partai Demokrat jauh lebih besar memang,” ucap Zuhro acara diskusi bertajuk "Kinerja Kementerian/Lembaga, Peluang Reshuffle Kabinet dan Potensi Capres 2024", secara virtual, Rabu (28/10).

Zuhro mengatakan, adanya ketimpangan dalam kabinet Jokowi periode kedua ini, diasumsikan telah membuat kader banteng sedikit kecewa. Lantaran Jokowi, lebih condong kepada partai pendukungnya yang lain.

“Kita tahu, memang Partai Golkar merupakan pendukung dan mendeklarasikan duluan, dan sebagainya. Tapi, bagaimanapun Pak Jokowi itu adalah kader PDIP, kan nggak begitu, ada etika kan di situ,” katanya.

“Lah ini, kayaknya belum usai gitu ya, istilahnya itu kenyamanan PDIP, sebagai pendukung partai utama yang punya Pak Jokowi juga PDIP,” imbuhnya.

Dengan komposisi yang terbilang sedikit di jajaran menteri Jokowi, PDI Perjuangan dianggap tidak nyaman dengan posisi tersebut.

“Tentu tidak nyaman, dengan komposisi yang diletakkan itu. Bayangkan Menkonya saja, dua dari Golkar, Menko Ekonomi dan Menko Maritim dan Investasi ya, itu Golkar semua,” tandasnya.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Insiden di Lebanon Selatan Tak Terlepas dari Eskalasi Israel-Iran

Jumat, 03 April 2026 | 10:01

Emas Antam Ambruk Rp85 Ribu, Termurah Dibanderol Rp1,4 Juta

Jumat, 03 April 2026 | 09:54

UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI

Jumat, 03 April 2026 | 09:48

KPK Tegaskan Tak Ada Intimidasi dalam Penggeledahan Rumah Ono Surono

Jumat, 03 April 2026 | 09:40

Komisi VIII DPR Optimis Jadwal Haji 2026 Tetap Aman dan Lancar

Jumat, 03 April 2026 | 09:26

Aksi Borong Bensin Picu Kelangkaan BBM di Prancis

Jumat, 03 April 2026 | 08:51

Reformasi Maret Tuntas: Jalan Terang Modal Asing Masuk Bursa

Jumat, 03 April 2026 | 08:26

Wall Street Melemah Tipis, Investor Berburu Aset Aman

Jumat, 03 April 2026 | 08:13

Serangan Israel Lumpuhkan Dua Pabrik Baja Iran, Produksi Terhenti hingga Setahun

Jumat, 03 April 2026 | 08:04

Dolar AS Perkasa, Indeks DXY Tembus Level Psikologis 100

Jumat, 03 April 2026 | 07:50

Selengkapnya