Berita

Aksi protes di Thailand untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha/Net

Dunia

Di Tengah Aksi Protes Yang Kian Menggeliat, Pemerintah Thailand Bekukan Siaran Stasiun TV

RABU, 21 OKTOBER 2020 | 08:36 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pengadilan Thailand telah memerintahkan penangguhan stasiun televisi online yang kerap mengkritik pemerintah, Voice TV.

Jurubicara Kementerian Digital, Putchapong Nodthaisong pada Selasa (20/10) mengatakan, penangguhan itu dilakukan karena Voice TV telah melanggar UU Kejahatan Komputer dengan mengunggah informasi palsu.

Sementara itu, dilaporkan CNA, pemimpin redaksi Voice TV, Rittikorn Mahakhachabhorn mengatakan akan terus melakukan siaran sampai perintah pengadilan tiba.


"Kami bersikeras bahwa kami telah beroperasi berdasarkan prinsip jurnalistik dan kami akan melanjutkan pekerjaan kami sekarang," kata Mahakhachabhorn.

Selain Voice TV, pemerintah mengungkap, ada tiga media lainnya yang saat ini tengah diselidiki atas dugaan yang sama.

Sebagian Voice TV sendiri diketahui dimiliki oleh keluarga Shinawatra dari mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra dan saudara perempuannya, Yinluck. Shinawatra merupakan pemimpin yang digulingkan oleh Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha pada 2014 lalu. Keduanya kabur dari Thailand untuk menghindari kasus korupsi.

Sejak aksi protes berkecamuk di Thailand selama tiga bulan terakhir, pemerintah telah menyoroti publikasi berita yang dianggap mereka berusaha untuk memantik gelombang unjuk rasa.

Pada pekan lalu, pemerintah bahkan mengeluarkan status darurat dengan melarang publikasi berita yang memprovokasi, serta melarang pertemuan publik lebih dari lima orang.

Aksi protes yang sebagian besar dipimpin oleh mahasiswa berupaya untuk menuntut pengunduran diri Prayut, amandemen konstitusi, dan reformasi monarki.

Meski begitu, Prayut bersikeras tidak akan mundur untuk menanggapi protes.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya