Berita

Publika

Feisal Tamin, Jurubicara Terbaik Indonesia

SENIN, 19 OKTOBER 2020 | 08:36 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

MINGGU (18/10) DR Feisal Tamin mengirimi saya buku otobiografinya yang ditulis wartawan senior Kristin Samah. Feisal Tamin, puluhan tahun berkecimpung di dunia birokrasi dengan berbagai jabatan. Pernah menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara masa pemerintahan Presiden RI Megawati Soekarnoputri.

Namun, yang paling mengesankan  saat Feisal menjadi juru bicara Departemen Dalam Negeri. Saya fokus menulis itu untuk testimoni di bukunya: “Feisal Tamin Benteng Netralitas Aparatur Negara -- Pendobrak Keterbukaan Informasi Legenda Juru Bicara”. Buku setebal 342 halaman ini diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Berikut tulisannya.

***


Lama tak bertemu, tetiba suatu sore lalu Pak Feisal Tamin mengontak via WhatsApp. Wow! Beliau akan menerbitkan buku, dan saya salah seorang di antaranya diminta (baca: diberi kehormatan) menyampaikan testimoni di buku itu.

Saya mengenal beliau sejak menjadi jurubicara/kepala humas Departemen Dalam Negeri puluhan tahun lalu. Di pertengahan tahun 70 an itu saya pun baru bekerja sebagai wartawan di Harian Angkatan Bersenjata (1976). Media belum sesemarak sekarang, stasiun televisi baru ada satu : TVRI. Namun, nama Feisal Tamin sudah sangat sohor �"melebihi Mendagri�" yang menjadi bossnya.

Bidang peliputan saya  sebenarnya film dan kebudayaan, tidak berhubungan langsung dengan bidang politik yang menjadi domain Pak Feisal. Tetapi saya tetap menganggap  ada kedekatan.

Pertama, karena saya pengagum komunikasi publiknya. Keterangannya di surat kabar maupun di televisi selalu saya ikuti. Adem. Berilmu. Penjelasannya mudah dicerna, disampaikan  selalu dengan air muka yang tenang.

Itu salah satu ciri orang pintar: memudahkan hal yang sulit.Bukan sebaliknya. Diam-diam itu saya pelajari dari beliau secara gratis. Tidak perlu desain pembelajaran macam  online yang bikin heboh.

Diam-diam  saya  “adopsi” jadi bekal begitu saya dipercaya oleh Menteri Penerangan Harmoko menjadi ketua  Festival Film Indonesia dan Festival Sinetron Indonesia yang membidangi kehumasan. Pada priode itulah saya sering ketemu fisik dengan Pak Feisal yang “langganan” menjadi anggota Komite Seleksi dan Dewan Juri FFI.  Antara 1983-1988. Lebih tigapuluh lima tahun lalu.

Sebelum itu yang sering kontak langsung dengan beliau Abang saya, Zainal Bintang yang juga wartawan.

Berbicara mengenai reputasinya sebagai humas / juru bicara, sampai hari ini saya masih menempatkan Pak Feisal Tamin sebagai salah satu dari tiga juru bicara terbaik Indonesia. Dua lainnya: Syariful Alam Humas DKI di masa Gubernur DKI Ali Sadikin dan Oye Ratma Humas PJKA.

Saya khawatir  ketiga tokoh humas hebat itu belum tergantikan hingga sekarang. Lihat saja fenomena mutakhir: para pejabat saling bantah statement. Bahkan bisa keterangan Presiden RI diluruskan stafnya yang bukan juru bicara resminya.

Itu sebabnya, meski berbagai jabatan penting pernah dipangku Pak Feisal termasuk Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara di era Presiden Megawati Soekarno Putri, tetapi tetap yang melekat di benak: beliau juru bicara terbaik.

Terakhir saya ketemu Pak Feisal di restoran Jepang Zhuma di Senayan City.Tapi saya lupa persisnya entah berapa tahun lalu. Itupun  secara kebetulan. Beliau bersama Ibu, saya juga bersama isteri bersantap di resto yang berlokasi di lantai dasar Senayan City. Tidak banyak yang berubah dalam penampilannya. Tampak lebih fresh di usia lebih 70 tahun. Raut wajahnya hampir tanpa kerut.

Tidak tampak bekas kelelahan pada pria kelahiran Dompu -Sumbawa, NTB 15 Juni 1941 itu. Padahal, pada masanya,  beliau mengemban segudang  jabatan dan amanah terutama di masa gonjang-ganjing politik di masa peralihan Orde Baru ke  Era Reformasi yang menguras energi besar bangsa.

Sayang, waktu bertemu saya lupa bertanya resep awet muda dan sehatnya. Padahal,  saya pengin betul tahu itu. Saya juga lupa, apa pernah menceritakan, mengapa nama beliau begitu melekat di benak sejak awal sampai  bertahun-tahun walau tidak bertemu dan berurusan. Sebabnya, karena ada persamaan dengan nama mertua saya: Ahmad Tamin. Yang satu dari Sumbawa-NTT, yang lainnya dari Bukit Tinggi, Sumbar.

Buku biografinya ini ditulis oleh rekan wartawan senior Kristin Samah. Tentu bukan hanya untuk memperingati ulang tahun ke 79 Pak Feisal yang jatuh pada 15 Juni 2020. Pasti ada banyak pengalaman dan ilmu yang bisa dipetik dari pengalaman Pak Feisal mengabdi pada bangsa dan negara. Niscaya ini bisa menjadi kontribusi besar untuk ikut  memperbaiki kehidupan berbangsa yang belakangan mengalami krisis nilai di berbagai sektor kehidupan.

Ironisnya  itu terjadi justru setelah reformasi �" setelah ”Tobatan Nasuha”  kita secara berjamah untuk mengoreksi secara total kehidupan di masa Orde Baru.

Apa yang salah?  Mengapa perjalanan reformasi kita seperti  kehilangan arah dan marwah. Begitu lama  perjalanan yang sudah ditempuh untuk jarak yang begitu dekat: kembali berhadapan dengan praktek penyalahgunaan kekuasaan yang lebih masif, di semua lini.

Rasanya sudah waktunya kita kembali berkaca pada tujuan murni dan idiil reformasi tempo hari melalui penuturan jujur Pak Feisal di buku ini.  Masihkah kita teguh berpegang pada nilai perjuangan itu?

Lebih limabelas tahun lalu saya sudah menuliskan kegelisahan seperti ini. Saya merasa reformasi 1998 hanya berhasil menurunkan Pak Harto, tapi selanjutnya kita tetap melanjutkan kebiasaan beliau, termasuk penyimpangan yang menurut dugaan kita dilakukan beliau sehingga membuat kita marah dan memintanya lengser.

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

UPDATE

Gara-gara KUHAP Baru, KPK Tak Bisa Perpanjang Pencegahan Fuad Hasan Masyhur

Jumat, 20 Februari 2026 | 18:04

Patroli Malam Cegah Perang Sarung

Jumat, 20 Februari 2026 | 17:47

KPK Bakal Serahkan Hasil Telaah Laporan Gratifikasi TCL

Jumat, 20 Februari 2026 | 17:20

Revitalisasi Taman Semanggi Telan Rp134 Miliar Tanpa Gunakan APBD

Jumat, 20 Februari 2026 | 17:12

Iran Surati PBB, Ancam Serang Aset Militer AS Jika Trump Lancarkan Perang

Jumat, 20 Februari 2026 | 17:03

Gibran Ajak Ormas Islam Berperan Kawal Pembangunan

Jumat, 20 Februari 2026 | 17:02

IPC TPK Optimalkan Layanan Antisipasi Lonjakan Arus Barang Ramadan

Jumat, 20 Februari 2026 | 16:54

Kasus Bundir Anak Berulang, Pemerintah Dituntut Evaluasi Sistem Perlindungan

Jumat, 20 Februari 2026 | 16:47

Pansus DPRD Kota Bogor Bahas Raperda Baru Administrasi Kependudukan

Jumat, 20 Februari 2026 | 16:45

7 Manfaat Puasa untuk Kesehatan Tubuh dan Mental

Jumat, 20 Februari 2026 | 16:41

Selengkapnya