Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Kembali Bikin Geger, Dr. Li-Meng Yan: Virus Corona Adalah Senjata Biologis Buatan Partai Komunis China

MINGGU, 11 OKTOBER 2020 | 08:14 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Nama Dr. Li-Meng Yan sudah tidak asing lagi didengar. Ia adalah sosok yang membuat kontroversi setelah membongkar habis asal usul virus corona baru atau SARS-CoV-2 yang disebutnya merupakan buatan manusia.

Ahli virologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Hong Kong itu kali ini kembali membuat sebuah klaim yang mencengangkan dunia.

Bersama dengan tiga rekannya, Yan merilis sebuah makalah pada Kamis (8/10) yang mengklasifikasikan virus corona baru sebagai senjata biologis tak terbatas.


Dalam makalah baru itu, Yan dan rekannya berpendapat bahwa para ilmuwan di dunia menyimpan urutan virus corona palsu di GenBank, database urutan genetik yang dijalankan oleh National Institute of Health.

Upaya tersebut, menurut mereka, telah diatur oleh pemerintah PKC untuk mempromosikan "teori asal mula alam" atau gagasan bahwa virus berasal dari hewan.

"Ilmuwan mana pun yang menganut teori asal mula alam, telah disesatkan oleh penipuan ilmiah atau berkolusi dengan pemerintah PKC," ujar Yan dan rekan-rekannya.

Sontak makalah tersebut pun menjadi perhatian. Ahli genetika dari Nextstrain yang saat ini mempelajari virus corona di Swiss, Emma Hodcroft menyebut, Yan tidak memiliki bukti yang kuat untuk mendukung klaim tersebut.

"Bagi saya, klaim yang paling aneh adalah bahwa ada konspirasi global para ilmuwan yang menanam genom virus corona 'palsu' ke dalam database publik untuk meletakkan dasar untuk pembuatan dan merilis varian yang mematikan," katanya kepada Business Insider, Sabtu (10/10).

Selain itu, dalam klaimnya, Yan menyebut para ilmuwan memasukan sebagian besar sampel palsu sebelum pandemi dimulai. Artinya, Yan telah menuding para ilmuwan melakukan koordinasi dengan PKC selama bertahun-tahun dengan membuat urutan genom palsu.

"Ini adalah klaim yang luar biasa, dan akan membutuhkan beban bukti yang signifikan untuk mendukungnya," lanjut  Hodcroft.

Di dalam makalah mereka, Yan dan rekan-rekannya disebutkan merupakan bagian dari Rule of Law Society dan Rule of Law Foundation, sepasang organisasi nirlaba yang berbasis di New York, serta dipimpin oleh mantan ahli penasihat Donald Trump, Steve Bannon.

Bannon mendirikan kelompok tersebut dengan miliarder China yang diasingkan, Guo Wengui, yang sebelumnya bekerja dengan Bannon untuk menuduh pejabat PKC melakukan korupsi.

Situs web Guo, G News, juga telah menerbitkan beberapa cerita yang mengklaim virus corona berasal dari laboratorium China dan sengaja disebarkan oleh militer.

Organisasi Rule of Law tidak memiliki sejarah publikasi penelitian ilmiah atau medis. Makalah-makalah Yan pun diduga belum ditinjau oleh ilmuwan lain.

Namun dalam wawancara Yan dengan Fox News pada Rabu (7/10), ia mengatakan makalah-makalahnya telah ditinjau oleh pejabat top di pemerintahan Amerika Serikat (AS) sebelum diterbitkan. Walau ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Bulan lalu, Yan juga mengatakan, Partai Komunis China (PKC) dengan sengaja telah melepaskan virus yang menurutnya buatan manusia itu.

Sejauh ini, kebanyakan ahli berpendapat virus corona baru berasal dari kelelawar sebelum menyerang manusia. Sebuah studi bahkan menemukan bahwa 96 persen kode genetiknya sama dengan sampel virus corona dari populasi kelelawar China.

Laboratorium di seluruh dunia, termasuk Institut Virologi Wuhan di China, telah mengumpulkan sampel virus corona yang ada dari kelelawar dan trenggiling sebelum pandemi. Dengan membandingkan kesamaan antara urutan yang ada dengan kode genetik SARS-CoV-2, para ahli telah mengesampingkan kemungkinan bahwa virus itu direkayasa secara genetik.

Tetapi Yan dan rekan-rekannya mengatakan, para ilmuwan China membuat SARS-CoV-2 dengan menggunakan "tulang punggung" atau kerangka dari virus corona kelelawar.

Tetapi jurnal yang diterbitkan Nature pada Maret mendiskreditkan teori tersebut.

Di sana disimpulkan virus corona baru bukanlah "gado-gado" dari virus corona yang sudah ada atau merupakan konstruksi laboratorium maupun dimanipulasi.

“Data genetik tidak dapat disangkal menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 tidak berasal dari tulang punggung virus yang digunakan sebelumnya,” tulis para peneliti.

Setelah makalah pertama Yan dirilis, Twitter menangguhkan akunnya. Twitter juga sering menandai tweet Yan yang berisi mengenai klaim Covid-19 yang kontroversial.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya