Berita

Syekh Ali Jaber saat mengisi pengajian di Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid/19 pada beberapa waktu lalu/Net

Suluh

Mengapa Harus Ulama, Kenapa Bukan Koruptor Atau Bandar Narkoba?

SENIN, 14 SEPTEMBER 2020 | 12:12 WIB | OLEH: RUSLAN TAMBAK

Selang beberapa jam aksi penusukan itu, di linimasa media sosial, warganet sudah cemas sambil berharap agar sang pelaku tidak dicap sebagai orang gila.

Penegak hukum pun diminta tidak buru-buru menyimpulkan penusuk Syekh Ali Jaber adalah orang gila alias tidak waras. Syekh Ali Jaber adalah seorang pendakwah dan ulama asal Madinah yang berkewarganegaraan Indonesia.

Syekh Ali Jaber ditusuk seorang pria berkaos biru saat mengisi pengajian di Halaman Masjid Falahudin, Jl. Tamin, Kelurahan Sukajawa, Tanjung Karang Timur, Kota Bandar Lampung, Minggu petang (14/9).


Belakangan, pemuda berusia 24 tahun itu diketahui benama A. Alfian Andrian. Dia warga Kota Bandar Lampung, tinggal di dekat lokasi kejadian.

Dan benar, beberapa saat kemudian, berdasarkan keterangan dari orangtua pelaku berinisial R (46) kepada aparat keamanan, anaknya A. Alfian Andrian sudah empat tahun ini mengalami ganguan kejiwaan.

Netizen pun geram dan murka. Seolah tidak terima bahwa pelaku disebut gangguan jiwa.

Kalau pun dia benar gila, ini orang gila pintar. Orang gila zaman sekarang memang canggih, mengapa yang diincar adalah ulama.

Di lokasi kejadian, kenapa dia tidak sasar jemaah pengajian atau panitia.

Dan kenapa A. Alfian Andrian tidak mengincar koruptor atau bandar narkoba, mengapa harus ulama, Syekh Ali Jaber. Koruptor dan bandar narkoba sudah jelas-jelas merusak dan membunuh banyak orang.

Sederhananya, kenapa pelaku membawa pisau, dan kenapa targetnya Syekh Ali Jaber, bukan random jemaah pengajian yang ada di lokasi.

Dan yang menjadi pertanyaan besar, kenapa saat diintrogasi sesaat setelah diamankan, pelaku seperti ketakutan.

Keanehan lain, A. Alfian Andrian memiliki akun media sosial. Posting-postingannya seperti orang biasa. Tidak ada menunjukkan yang bersangkutan seperti gangguan jiawa.

Hal ini pun oleh netizen dikaitkan dengan peristiwa penikaman yang dialami Wiranto saat menjabat Menko Polhukam. Saat itu, pelakunya langsung dituduh teroris, ISIS, dan sangat radikal.

Pimpinan MPR yang juga putra asal Lampung, Zulkifli Hasan ikut mengecam penusukan terhadap ulama Syekh Ali Jaber.

"Mengecam keras penusukan terhadap Syekh Ali Jaber. Saya meminta aparat untuk mengusut tuntas motif di balik penusukan ini. Sangat mungkin ini kejadian terencana dan rasanya tidak mungkin dilakukan orang gila/tidak waras," kata ketum PAN itu di akun akun Twitter-nya @ZUL_Hasan.

Ada juga suara-suara yang menyebuatkan. Ini bagian dari "operasi". Bisa jadi penusukan itu untuk mengalihkan isu atas buruknya penanganan pemerintah terkait Covid-19 dan ancaman resesi yang sudah di depan mata.

Penusukan terhadap Syekh Ali Jaber mendapat perhatian luas karena terjadi di tempat keramaian. Dan lebih menyedihkan, itu dilakukan pada saat penyampaian ceramah agama.

Benar-benar menjadi pernyataan besar. Apa motif dan siapa dalangnya?

Dan sepengetahuan publik, Syekh Ali Jaber adalah sosok ulama yang tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Isi ceramahnya pun selalu bicara soal perdamaian dan persatuan. Jadi, siapa musuh Syekh Ali Jaber?

Pemerintah dalam hal ini aparat kepolisian diminta untuk benar-benar bisa mengungkap motif dan mencari dalangnya.

Ini perlu dilakukan agar tidak ada multi tafsir di tengah masyarakat. Selain itu, kepastian hukum bisa ditegakkan.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya