Berita

Mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai/Net

Politik

Natalius Pigai Desak Jokowi Tarik TNI Dari Papua, Ini Alasanya

JUMAT, 11 SEPTEMBER 2020 | 18:39 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Desakan penarikan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari tanah Papua disuarakan aktivis kemanusiaan, Natalius Pigai.

Pigai meminta Presiden Joko Widodo menarik TNI karena menilai korban sipil di bumi cenderawasih terus berjatuhan.

“Jakarta (pemerintah pusat) ambil jalan binomial (militer dan pembangunan) itu teori lama dan telah melahirkan tragedi, kejahatan dan pelanggaran hak asasi manusia,” kata Pigai dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Jumat (11/9).


Pigai menganggap, kekuatan militer di bawah perintah Jokowi khususnya Jenderal TNI Andika Perkasa tidak memahami bahwa teori binomial sudah tidak laku. Alih-alih keberadaan militer di Papua mampu menggeliatkan pembangunan, justru sebaliknya.

“Militer di Papua telah membuat rakyat dan pejabat sipil dalam tekanan menyebabkan pembangunan mengalami stagnasi selama ini,” jelas mantan Komisioner Komnas HAM ini.

Oleh karenanya, Pigai menganggap selama ini klaim presiden yang menganggap ppengerahan militer di Papua untuk pembangunan hanya sekadar angan-angan.

"Itu hanya wishfull thingking. Yang benar adalah alibi untuk memperlancar pembantaian rakyat Papua," tandasnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya