Berita

Polisi forensik Tunisia menyelidiki lokasi serangan mematikan terhadap patroli petugas Garda Nasional di Sousse, selatan ibu kota Tunisia/Net

Dunia

Seorang Perwira Pengawal Nasional Tunisia Tewas Ditusuk Teroris, Presiden Kais Saied Langsung Kunjungi TKP

SENIN, 07 SEPTEMBER 2020 | 10:47 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Seorang perwira Pengawal Nasional Tunisia tewas ditusuk pisau saat tiga penyerang misterius yang diduga teroris melakukan seragan mendadak pada Minggu (6/9). Ketiga penyerang berhasil ditembak mati setelah mereka mencoba melawan petugas dalam baku tembak.

Serangan penikaman itu terjadi di distrik wisata Sousse, kota pesisir yang dilanda serangan jihadis Tunisia terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Serangan terparah terjadi pada 2015 ketika 38 orang yang sebagian warga Inggris tewas dalam aksi penembakan di tepi pantai wilayah tersebut.

Kejadian tersebut dibenarkan oleh juru bicara Garda Nasional Houcem Eddine Jebabli yang mengatakan bahwa telah terjadi aksi serangan itu terjadi saat dua perwira Garda Nasional melakukan patroli di Souse, 140 kilometer selatan ibu kota Tunis.


“Satu meninggal sebagai martir dan yang lainnya terluka dan dirawat di rumah sakit,” katanya, menambahkan bahwa ini adalah serangan teroris,  dikutip dari France24, Minggu (6/9).

Para penyerang pertama kali menabrak polisi dengan kendaraan sekitar pukul 6:40 pagi waktu setempat.

“Setelah melakukan serangan pisau, pasukan keamanan kemudian mengejar para penyerang yang telah merampas senjata dan kendaraan petugas, melalui distrik Akouda di kawasan wisata kota El-Kantaoui,” kata Jebabli.

“Dalam baku tembak, tiga teroris tewas,” katanya, menambahkan bahwa pasukan keamanan “berhasil menemukan” mobil dan dua pistol yang telah dicuri para penyerang.

Presiden Tunisia Kais Saied, dalam kunjungannya ke TKP beberapa jam kemudian, mengatakan polisi sedang menyelidiki apakah serangan itu direncanakan oleh individu atau organisasi.

Duta Besar Inggris untuk Tunisia Louise de Sousa mengaku terkejut dengan kejadian yang menimpa pasukan Garda Nasional tersebut.

“Saya terkejut mendengar serangan terhadap patroli Garda Nasional di #Sousse pagi ini. Saya turut berbela sungkawa kepada keluarga petugas yang terbunuh & saya berharap yang terluka segera pulih. #UKsupportTunisia,” tulisnya.

Sejak revolusi rakyat tahun 2011, Tunisia telah dilanda serangkaian serangan jihadis yang telah menewaskan puluhan personel keamanan, warga sipil, dan turis asing.

Bulan Maret lalu, sebuah serangan bunuh diri terhadap pasukan keamanan yang melindungi Kedutaan Besar AS di Tunis menewaskan seorang petugas polisi Tunisia dan menyebabkan beberapa lainnya luka-luka .

2015 adalah tahun yang sangat berdarah, dengan tiga serangan mematikan besar diklaim oleh kelompok ISIS.

Serangan di museum ibu kota Bardo pada Maret menewaskan 21 turis asing dan seorang penjaga keamanan. Hanya berselang tiga bulan, 38 turis juga tewas dalam penembakan di Sousse.

Di tahun yang sama, pada November, ledakan bom di sebuah bus di pusat kota Tunis menewaskan 12 pengawal presiden.

Meskipun suasana berangsur membaik, tidak mengubah keadaan darurat di Tunisia hingga sekarang. Serangan terhadap pasukan keamanan terus berlanjut, terutama di daerah terpencil di sepanjang perbatasan dengan Aljazair.

Tunisia telah dipuji karena punya kisah sukses yang langka di antara pemberontakan Musim Semi Arab 2011 yang melanda wilayah tersebut dan menjatuhkan banyak otokrat, di antaranya adalah presiden lama Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali.

Tetapi negara kecil Mediterania berpenduduk sekitar 11 juta orang itu terperosok dalam krisis ekonomi, dengan tingkat pengangguran resmi sebesar 18 persen, dan membutuhkan bantuan baru dari Dana Moneter Internasional.

Minggu lalu, parlemen Tunisia menyetujui pemerintahan teknokratis baru yang dipimpin oleh Perdana Menteri Hichem Mechichi, yang menghadapi tugas mengatasi kesengsaraan sosial dan ekonomi yang mendalam di negara Afrika Utara itu.

Perdana menteri berusia 46 tahun itu berjanji untuk merevitalisasi ekonomi, termasuk sektor pariwisata yang penting, yang telah pulih setelah serangan jihadis tetapi telah terpukul keras tahun ini oleh pandemik virus corona.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Arah Pergerakan Ekonomi Nasional dalam Papan Catur Oligarki

Minggu, 06 September 2026 | 05:51

Breaking News: Bandara Soeta Ditutup!

Minggu, 06 September 2026 | 05:16

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Terdeteksi Hingga Sumbar

Minggu, 06 September 2026 | 04:52

Menerima Dubes AS untuk ASEAN

Minggu, 06 September 2026 | 04:22

KKP Gelar Inspeksi Kapal Perikanan Demi Lindungi ABK Sesuai Konvensi ILO 188

Minggu, 06 September 2026 | 03:53

Ketika Rasa Sakit Direduksi Angka

Minggu, 06 September 2026 | 03:23

TelkomProperty Pastikan Optimalisasi Aset dan Memenuhi Prinsip Value Creation

Minggu, 06 September 2026 | 02:50

Jangan Ulangi Kesalahan Revolusi Biru

Minggu, 06 September 2026 | 02:21

Tidak Cukup Hanya Pakai Masker, Ini Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Minggu, 06 September 2026 | 01:59

Photex Navy Force SGS 2026 Tampilkan Formasi Laut di Perairan Banten

Minggu, 06 September 2026 | 01:46

Selengkapnya