Berita

CEO Huawei, Meng Wanzhou/Net

Dunia

Putusan Kanada Soal Kasus CEO Huawei Jadi Kunci Masa Depan Ottawa-Beijing

SENIN, 07 SEPTEMBER 2020 | 09:40 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

China kembali mengulang sikapnya terkait penahanan CEO Huawei, Meng Wanzhou. Para ahli menilai hal itu sebagai pesan kepada Ottawa bahwa putusan atas kasus Meng akan berfungsi sebagai indikator utama apakah Kanada akan memprioritaskan kepentingan bersama kedua negara atas hubungan mereka di masa depan atau tidak.

Menyusul serangkaian indikasi dari diplomat China, termasuk pernyataan terbaru yang dikeluarkan oleh kedutaan China di Kanada pada Minggu (6/9), bahwa mengatakan penahanan Meng adalah hambatan utama bagi hubungan China-Kanada saat ini.

Duta Besar China untuk Kanada, Cong Peiwu, membuat komentar tersebut selama wawancara dengan surat kabar Kanada La Presse pada hari Selasa. Cong mendesak Kanada untuk segera membebaskan Meng untuk mengembalikan hubungan yang rusak antara kedua negara ke jalurnya semula.


“Sejak awal, pemerintah Kanada telah mengetahui efek politik yang tinggi dari penangkapan Meng, yang merupakan peristiwa politik besar yang dibuat oleh AS untuk menekan perusahaan teknologi tinggi China. Tetapi negara itu masih melakukan kesalahan serius dengan bertindak sebagai kaki tangan AS, yang telah membuat hubungan China-Kanada terjebak dalam masalah,” kata Cong, seperti dikutip dari Global Time, Minggu (6/9).

Pernyataan Cong seakan menggemakan pernyataan yang diucapkan Direktur Jenderal Departemen Urusan Amerika Utara dan Oseania Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang, yang menunjukkan bahwa Kanada adalah satu-satunya negara yang bersedia menahan Meng atas permintaan AS. 

Penahanan Meng telah menghilangkan banyak peluang kerja sama kedua negara, menurut Lu Kang, dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Jumat dengan media Kanada. 

Penasihat Negara sekaligus Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, juga meminta pemerintah Kanada untuk membuat pilihan yang tepat atas Meng untuk menghilangkan hambatan antara kedua negara pada pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Kanada Francois-Philippe Champagne pada 25 Agustus lalu selama perjalanannya ke Eropa.

Li Haidong, seorang profesor di Institute of International Relations di China Foreign Affairs University, mengatakan, pengulangan sikap China baru-baru ini terhadap penahanan Meng adalah pengingat bagi Kanada bahwa China masih bersedia mempertahankan hubungan yang sehat di masa lalu dengan Kanada. Hal itu menunjukkan keinginan untuk memperkuat kerjasama bilateral di masa depan selama negara dapat menilai secara adil kasus Meng, yang akan dibuka kembali pada akhir September.

“China telah mengirim pesan ke Ottawa bahwa penilaian terhadap Meng akan menjadi ujian penting apakah Kanada akan menghargai hubungannya dengan China secara setara dan membuat keputusan terlepas dari pengaruh AS pada berbagai masalah di masa depan,” kata Li.

Pendapat serupa dikatakan oleh Jin Canrong, dekan Sekolah Studi Internasional Universitas Renmin China. Ia percaya bahwa Kanada tampaknya mengambil inisiatif dalam pertemuan baru-baru ini dengan para pejabat China yang telah diatur dengan cermat sebelum kasus Meng dibuka kembali.

“Pertemuan ini menunjukkan keinginan Kanada untuk memperkuat komunikasi dengan China atas kasus tersebut, terutama di bawah tekanan domestik yang menyalahkan pemerintah karena tidak menangani masalah dengan baik dan merugikan ekonomi negara,” kata Jin.

Meng ditahan di Vancouver pada Desember 2018, setelah AS mengeluarkan surat perintah penangkapannya atas penipuan bank, yang kemudian dibantah oleh Huawei pada Juli dengan memberikan bukti yang menunjukkan bahwa HSBC, bank yang dituduh AS menipu Meng, sebenarnya bersekongkol dengan AS untuk memasang ‘perangkap politik’ bagi perusahaan dan memberikan kesaksian palsu ke pengadilan.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Arah Pergerakan Ekonomi Nasional dalam Papan Catur Oligarki

Minggu, 06 September 2026 | 05:51

Breaking News: Bandara Soeta Ditutup!

Minggu, 06 September 2026 | 05:16

Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Terdeteksi Hingga Sumbar

Minggu, 06 September 2026 | 04:52

Menerima Dubes AS untuk ASEAN

Minggu, 06 September 2026 | 04:22

KKP Gelar Inspeksi Kapal Perikanan Demi Lindungi ABK Sesuai Konvensi ILO 188

Minggu, 06 September 2026 | 03:53

Ketika Rasa Sakit Direduksi Angka

Minggu, 06 September 2026 | 03:23

TelkomProperty Pastikan Optimalisasi Aset dan Memenuhi Prinsip Value Creation

Minggu, 06 September 2026 | 02:50

Jangan Ulangi Kesalahan Revolusi Biru

Minggu, 06 September 2026 | 02:21

Tidak Cukup Hanya Pakai Masker, Ini Bahaya Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Minggu, 06 September 2026 | 01:59

Photex Navy Force SGS 2026 Tampilkan Formasi Laut di Perairan Banten

Minggu, 06 September 2026 | 01:46

Selengkapnya