Berita

Mantan Profesor di Sekolah Partai Pusat Elit China, Cai Xia/Net

Dunia

Cai Xia: Tentang Xi Jinping, Kehancuran Partai Komunis Dan Demokratisasi China

MINGGU, 23 AGUSTUS 2020 | 06:36 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Di balik keperkasaan China, keangkuhan Partai Komunis (PKC) dan ketangguhan sosok Xi Jinping, terdapat cerita kelam yang sengaja disembunyikan dari dunia. Negara tersebut berada di ambang kehancuran.

Itulah yang diungkap oleh Cai Xia, mantan profesor Sekolah Partai Pusat Elite China dalam wawancara eksklusifnya dengan The Guardian pada Juni lalu, namun baru dipublikasikan pada Selasa (18/8).

Ada alasan dibalik penundaan publikasi tersebut. Cai mengaku khawatir dengan ancaman yang ia dan keluarganya dapatkan. Namun pada Senin (17/8), ia telah dikeluarkan dari PKC dan tinggal di luar China.  


Nama Cai menyeruak ke permukaan sejak rekaman audionya bocor ke media sosial. Di sana Cai mengkritik habis-habisan Presiden Xi dengan menyebutnya sebagai "bos mafia".

Xi Jinping "Bos Mafia" Dan Partai Komunis China "Zombie Politik"

Kekuasaan mutlak yang dimiliki oleh Xi menjadi mimpi buruk bagi China. Tidak ada sosok yang bisa melawan atau mengendalikannya di China, termasuk 90 juta anggota PKC.

Hal tersebut terlihat ketika Xi memaksa sidang pleno ketiga kongres nasional pada 2018 untuk menyetujui menghapus masa jabatan presiden. Pada saat itu, Cai menggambarkan, PKC menelan gagasan tersebut "seperti kotoran anjing".

"Itu menunjukkan Partai Komunis China telah menjadi zombie politik. Partai tersebut tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesalahan," ujarnya.

Menurut Cai, ketika itu terjadi, Xi sudah membunuh PKC dan China dengan mengubah konstitusi.

Cai mengungkap, dengan kekuatan yang dimiliki Xi, tidak ada seorang pun yang berani memberikan pendapat yang berbeda. Para pejabat dan anggota PKC bahkan enggan memberikan informasi yang sebenarnya kepada Xi karena takut akan dihukum. Namun, ketika mereka tertangkap basah menyembunyikan informasi, hukuman pun tetap dilayangkan.

"Ini adalah lingkaran setan. Setelah mengambil keputusan yang salah, hasilnya salah. Tetapi orang-orang di bawah (Xi) terlalu takut untuk memberitahunya," jelasnya.

Dengan sistem tersebut, ia juga mengatakan, banyak anggota dan kader partai yang terjerat masalah korupsi. Ketika mereka tidak "bersih", mereka tidak berani untuk menentang Xi karena takut akan hukuman.

Kendati begitu, bagi para kader yang "bersih" pun, ketika mereka mengutarakan perbedaan pendapat, tak jarang tuduhan korupsi menghampiri mereka.

Kondisi tersebutlah yang kemudian membuat Cai menyebut PKC sebagai "zombie politik". Dalam perkiraannya, sebanyak 70 persen anggota PKC dan para pejabat pada dasarnya mempertanyakan atau menolak berbagai kebijakan Xi.

"Mereka yang sudah berada di dalam partai selama 20, 30 tahun terakhir mengerti arah mana yang benar dan mana yang buntu," tekannya.  

China Dalam Bencana

Buruknya sistem pemerintahan itu, kata Cai, sudah membawa China ke dalam bencana. Ketakutan untuk menyampaikan informasi yang sebenarnya kepada Xi membuat wabah Covid-19 di China tak terkendali.

Pada awal wabah, para pejabat menyembunyikan situasi di Wuhan hingga pada 7 Januari Xi mengatakan kondisi terkendali. Namun pada 20 Januari, penularan antarmanusia dikonfirmasi. Bahkan, ia mengatakan, angka kematian akibat virus corona yang saat ini diketahui dunia bukanlah yang sebenarnya.

"Karena orang tidak dapat mengatakan kebenaran, epidemi Wuhan menyebar ke seluruh negeri dan seluruh dunia. Semua orang telah dirugikan," ucapnya.

Selain krisis kesehatan, sekarang China juga menghadapi gejolak masalah ekonomi yang luar biasa. Cai mengatakan, muncul angka pengangguran skala besar, harga komoditas melonjak, dan rakyat tidak bisa bertahan hidup.

"Sekarang, orang tidak mungkin sama sekali mengatur dirinya. Group WeChat ditutup setiap hari. PKC menggunakan pencegahan epidemi sebagai alasan untuk meningkatkan pengawasan. Mereka dapat memenjarakan Anda untuk hal kecil sekali pun," kisah Cai.

Buruknya situasi dalam negeri di China tersebut kemudian ditutupi oleh Xi dengan berbagai manuvernya di dunia internasional. Termasuk meningkatkan permusuhan dengan Amerika Serikat, India, hingga memberlakukan UU keamanan nasional di Hong Kong.

"Mempertimbangkan ketegangan ekonomi dan sosial domestik, serta (masalah) yang ada di partai beberapa tahun terakhir, ia (Xi) akan memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian publik China, memprovokasi konflik dengan negara lain," jelasnya.

Menuju Demokratisasi

Menumpuknya berbagai masalah yang ada membuat China cepat atau lambat, kata Cai akan melakukan transisi politik ke arah demokrasi. Apalagi jika melihat kasus korupsi dalam tubuh PKC yang memperlebar jurang si kaya dan si miskin, katanya.

"Karena PKC sudah berkuasa sejak 1949, mereka telah melakukan banyak kesalahan dan kejahatan... Di masa depan, ketika China bertansisi ke demokrasi, semua akan dilihat sebagai kesalahan besar dan dosa PKC," tuturnya.

"China akan memasuki tahap ini, cepat atau lambat," pungkas Cia.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya