Dubes AS Untuk China Terry Branstad/Net
Pertemuan antara Duta Besar AS untuk China, Terry Branstad, dan Walikota Shanghai Gong Zheng di tengah memburuknya hubungan bilateral antara kedua negara telah memicu spekulasi hubungan yang menenangkan antara Washington dan Beijing.
Pertemuan itu terjadi sehari setelah Menlu China Wang Yi mengedepankan empat prinsip kerangka kerja hubungan China-AS, termasuk menghindari garis merah dan konfrontasi, serta menjaga saluran tetap terbuka untuk dialog jujur.
Branstard melakukan kunjungan ke Kota Shanghai pada Kamis (6/8) untuk bertemu dengan Walikota Gong. Dalam pertemuan itu Gong menegaskan kembali ambisi kota Shanghai untuk terus membuka diri, dia mengatakan bahwa Shanghai tetap menjadi jembatan penting hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS, dan sering mengadakan pertukaran dengan San Francisco dan kota kembar lainnya.
Baru-baru ini San Fransisco ditarik ke dalam pergulatan bilateral setelah munculnya spekulasi yang menyebutkan bahwa AS akan mempertimbangkan untuk menutup konsulat China di kota itu pasca penutupan di Houston beberapa pekan lalu.
“Dalam menghadapi pandemik Covid-19, perbekalan medis dari China ke AS telah menyelamatkan banyak nyawa, dan banyak barang yang datang dari Shanghai,†kata Branstad, mengungkapkan rasa terima kasihnya, seperti dikutip dari
GT, Jumat (7/8).
Branstard juga memberikan pengakuan atas kemajuan Shanghai dalam beberapa tahun terakhir, utusan AS itu juga berharap dapat mempromosikan pertukaran dan kerja sama bilateral, dan mengatasi pengaruh yang dibawa oleh Covid-19. Ia pun berharap China International Import Expo (CIIE) ke-3 bisa terselenggara dengan baik sesuai jadwal.
Pertemuan tersebut telah menarik perhatian luas karena terjadi pada saat yang sensitif ketika perselisihan antara kedua negara meningkat , dari mulai perdagangan hingga diplomasi, dan bahkan pendidikan.
Pakar China percaya bahwa sedikit demi sedikit, negosiasi di tingkat regional akan mendorong komunikasi tingkat yang lebih tinggi, dan mencairkan es yang mengancam hubungan bilateral.
Li Haidong, seorang profesor di Institut Hubungan Internasional Universitas Urusan Luar Negeri China mengatakan, pertemuan ini menunjukkan bahwa meskipun ada gesekan, China dan AS secara aktif mengeksplorasi saluran komunikasi yang lebih positif, misalnya, dengan memperluas pertukaran di tingkat regional.
Li yakin bahwa pemilihan umum AS yang akan berlangsung kurang dari tiga bulan lagi, akan membuat pemerintahan Trump yang mengadopsi taktik "menyalahkan China", akan semakin meningkatkan kebijakan antagonisnya terhadap Tiongkok.
“Ketika negosiasi antara pemerintah pusat dihentikan, komunikasi tingkat regional, atau pembicaraan di tingkat mana pun akan mendorong pembicaraan tingkat tinggi,†kata Li.
Sebelumnya, dalam sebuah wawancara bersama Kantor Berita Xinhua pada Rabu (5/8) Dewan Negara dan Menlu Wang Yi memberikan sinyal yang positif atas hubungan AS-China.
“Kami siap untuk memulai kembali mekanisme dialog dengan AS di tingkat mana pun, di area mana pun dan kapan pun. Semua masalah dapat diajukan untuk dibahas,†kata mereka.
Penutupan tiba-tiba konsulat China oleh AS di Houston pada akhir Juli menandai pertikaian terbaru antara Beijing dan Washington.
Konsulat China di San Francisco terseret ke dalam pusaran, karena FBI menuduh bahwa seorang peneliti biologi China yang disebut berhubungan dengan militer China dengan tuduhan penipuan visa telah menghindari penangkapan dengan berlindung di konsulat. Langkah tersebut itulah yang akhirnya mendorong banyak orang berspekulasi apakah AS berencana menutup konsulat China di San Francisco.
Komunikasi regional mungkin akan menjadi tren untuk pengembangan hubungan China-AS di masa depan jika hubungan bilateral terus diperketat, kata Li.
Para pengamat mengatakan, memilih Shanghai sebagai tempat pertemuan juga menunjukkan bahwa kerja sama ekonomi merupakan 'batu penyeimbang' bagi kerja sama bilateral kedua negara.