Berita

Aktivis Lebanon membantu membersihkan puing di lingkungan Mar Mikhael yang rusak parah/Net

Dunia

Ahli: Ledakan Beirut Menyisakan Lapisan Debu Yang Bisa Saja Sangat Berbahaya Bagi Pernapasan

JUMAT, 07 AGUSTUS 2020 | 08:08 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Awan hitam yang dihasilkan dari dua ledakan besar di Beirut sudah tidak nampak lagi. Namun, kota itu kemungkinan diselimuti oleh lapisan partikel debu yang berpotensi berbahaya.

Belum ada analisis ilmiah mengenai seberapa tingkat bahaya dari zat yang dihasilkan oleh ledakan itu, namun seorang pakar terkemuka Lebanon memperingatkan bahwa debu amonium memiliki potensi yang membahayakan.

Begitu juga dengan puing-puing halus yang melayang bersama debu lalu terhirup dari udara sekitar lokasi.


Najat Aoun Saliba, seorang profesor Kimia Analitik dan Direktur Pusat Konservasi Alam di Universitas Amerika di Beirut mengatakan, perlu adanya penelitian segera untuk memastikan tidak ada uranium atau zat radioaktif lainnya yang membahayakan.

“Menurut saya lingkungan yang mengkhawatirkan saat ini adalah keanekaragaman dan limbah yang dihasilkan dari serbuk kaca dan dari debu yang melayang-layang dari lokasi kejadian,” katanya, seperti dikutip dari TN, Kamis (6/8).

"Anda bisa melihat jalan-jalan tertutup dengan debu dan bubuk serpihan kaca, lalu saat ini mereka sedang berbenah dan membersihkan rumah-rumah mereka. Ini sangat berbahaya jika terhirup."

Akibat ledakan dari ribuan amonium nitrat tersebut, udara di Kota Beirut, Lebanon,  dilaporkan tercemar oleh dinitrogen oksida (N2O). Dikutip dari Live Science, amonium nitrat adalah senyawa kimia yang berwujud kristal putih dan dapat larut dengan air.

Namun, senyawa kimia ini dapat membahayakan jika terkena api atau minyak, karena bisa terbakar. Amonium nitrat dari zat padat bisa meledak menjadi gas dinitrogen oksida (N2O) dan uap air (H2O).

Saliba memperingatkan bahwa orang-orang harus memakai masker dan sarung tangan serta menyemprotkan area bekas ledakan dengan banyak air untuk mengendapkan partikel yang terbawa udara.

"Saya memberi tahu orang-orang bahwa tindakan pencegahan ini sama seperti yang Anda lakukan untuk pandemik, Anda perlu menahan penyerabaran debu itu dan benar-benar ekstra melakukannya,” tambah Saliba.

Yang menjadi perhatian besar Saliba adalah banyak yang belum memahami tentang bahan kimia apa yang ada dalam api beracun dan zat apa yang mungkin masih ada bersama debu-debu di sekitar bekas ledakan.

“Secara kimiawi, amonium nitrat dengan sendirinya akan menghasilkan, [Nitrogen dioksida] NO2, dan kami melihatnya dengan asap hitam kecokelatan di atas Beirut pada malam ledakan,” jelasnya.

"Saat ini kita hanya melihat bahwa asap itu mulai menghilang tanpa pernah menyadari akibat yang dihasilkannya. Itu tidak berarti saat ini keadaannya aman-aman saja.”

"Kita perlu mengambil sample debu atau tanah itu untuk mengetahui apa yang terkandung di dalamnya setelah peristiwa ledakan. Apa ada bahan kimia lain yang terbakar dengan amonium nitrat?”

Dosen senior Teknik Kimia, University of Melbourne, Australia, Gabriel da Silva, mengatakan dalam artikelnya yang "What is ammonium nitrate, the chemical that exploded in Beirut?" bahwa ledakan ribuan ton amonium nitrat tersebut menyisakan sebuah ancaman kesehatan bagi penduduk di Beirut.

Ledakan besar di Lebanon itu telah menghasilkan gas nitrogen oksida (NO) dalam jumlah yang sangat besar. Gas NO merupakan salah satu polutan pencemar udara terutama di perkotaan yang bisa mengiritasi sistem pernapasan.

“Peningkatan kadar dalam jumlah sangat besar seperti yang terjadi di Beirut sangat membahayakan bagi orang yang memiliki masalah sistem pernapasan,” kata Gabriel da Silva.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya