Berita

Pakar ekonomi, Dradjad H. Wibowo/Net

Bisnis

Pakar Ekonomi: Marah Terus, Siapa Yang Jadi Kompor Presiden Jokowi?

KAMIS, 06 AGUSTUS 2020 | 10:10 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Presiden Joko Widodo kerap menampakkan kegeramannya ketika rapat dengan para menteri. Kekesalan Presiden muncul lantaran para pembantunya belum bisa menyerap anggaran Covid-19 dengan maksimal.

Gagasan untuk merombak Kabinet Indonesia Maju pun mencuat. Hal itu disebabkan, kinerja sejumlah kementerian yang belum maksimal dalam menangani virus corona baru tersebut.

Pakar ekonomi, Dradjad H. Wibowo menyampaikan, percuma melakukan perombakan jika kesalahannya ada pada akurasi data dan prioritas kebijakan.


"Soal data, dari beberapa kali pernyataan Presiden tentang ekonomi keuangan, saya menduga Presiden mendapat masukan data yang tidak akurat," ujar Dradjad kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (6/8).

Dia mencontohkan, pada rapat 18 Juni, ternyata data angaran kesehatan yang disebut Presiden tidak klop dengan lampiran Perpres 54/2020. Bahkan Perpres 72/2020 baru diteken tanggal 24 Juni 2020. Padahal tanpa Perpres 72, semua menteri tidak punya wewenang memakai dana di pos Bendahara Umum Negara (BUN), kecuali Menkeu.

"Jadi harusnya Presiden marah ke mereka yang menyiapkan Perpres 72, kenapa baru selesai 24 Juni?" katanya.

Kemudian, politisi senior PAN ini menjelaskan, sekitar 40 hari setelah Perpres 72 ditekan, per 3 Agustus kemarin serapannya Rp 141 triliun atau sekitar 20 persen. Kalau dibagi 40/365 hari, maka serapan rata-rata seharusnya hanya 11 persen.

"Jadi serapan 20 persen itu dalam 40 hari itu sudah cepat sekali. Hampir dua kali lipat dari rata-rata seharusnya. Kok Presiden masih marah dengan serapan secepat itu?" jelasnya.

"Saya menjadi penasaran, siapa kompor yang membuat Presiden marah terus?" tegas Dradjad menambahkan.

Dia memberikan peringatan kepada para pembantu Presiden, jangan sampai melakaukan penyelewengan dalam menggelontorkan anggaran Covid-19.

"Saya juga wanti-wanti, kalau serapan dikebut terlalu cepat, nanti malah banyak lubang penyelewengannya. Dana PEN itu kan banyak dari utang. Masak akan dihambur-hamburkan tanpa mengikuti prinsip tata kelola yang benar," demikian Dradjad H. Wibowo.

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Rayakan HUT Perusahaan Lewat Santunan Anak Yatim

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:59

Polisi Geledah Rumah terkait Kasus Dugaan Korupsi Kejagung, 74 Kg Emas Diamankan

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:40

Ketahanan Energi Indonesia Masih Pincang Tanpa Ada Cadangan Strategis

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:12

Polisi Geledah 12 Titik Kasus Korupsi, Rumah Mewah Jampidsus Tidak Termasuk

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:50

Peradi Profesional Catat Rekor Kerja Sama dengan 112 Perguruan Tinggi

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:45

IPW Dukung Polri Usut Dugaan Korupsi di Lingkungan Kejagung

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:26

Yogyakarta dan Takdir Dirgantara

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:01

Kritik terhadap Pemerintah Bagian dalam Kehidupan Demokrasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:41

Pertamina Berdayakan Difabel Kampung Rajut Inspirasi Green Warrior Bandung

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:18

Polisi Sita Uang Miliaran Rupiah Usai Geledah Kafe dan Money Changer di Cipete

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:14

Selengkapnya