Berita

Ledakan di Beirut, Lebanon pada Selasa malam, 4 Agustus 2020/Net

Dunia

Terjadi Sehari Sebelum Peringatan Bom Hiroshima, Ledakan Di Beirut Bukan Karena Bom Atom

RABU, 05 AGUSTUS 2020 | 11:46 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Saat ini banyak yang mengaitkan ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon dengan serangan bom atom di Hiroshima, Jepang, 75 tahun yang lalu. Jika dilihat dari waktu, ledakan di Beirut hanya terjadi dua hari menjelang peringatan ke-75 serangan bom atom di Hiroshima, Kamis (6/8).

Sejauh ini, berdasarkan data dari CNN, setidaknya ada 78 korban tewas dan 4.000 orang lainnya terluka akibat ledakan yang terjadi pada Selasa (4/8) pukul 18.02 waktu setempat.

Sembari terisak, Gubernur Beirut, Marwan Aboud mengatakan, ledakan besar yang terjadi mengingatkannya pada serangan bom di Hiroshima dan Nagasaki.


"Peristiwa ini mirip dengan apa yang terjadi di Jepang, di Hiroshima dan Nagasaki. Dalam hidup saya, belum pernah melihat kehancuran dalam skala besar seperti ini. Ini adalah bencana nasional," ujarnya.

Dari laporan awal, sumber ledakan di Pelabuhan Beirut merupakan sebuah gudang di dekat pelabuhan yang berisi 2.750 ton amonium nitrat yang merupakan hasil sitaan pada 2014. Sayangnya, amonium nitrat yang mudah terbakar tersebut disimpan dalam kondisi yang tidak aman.

Kendati begitu, ternyata muncul pernyataan-pernyataan membingungkan dengan menyamakan ledakan di Beirut dengan bom atom di Hiroshima atau Nagasaki. Bahkan beberapa pihak terkesan memberikan informasi yang menyesatkan, mengutip Forbes.

Seperti komentar seorang penulis biografi Lamar Odom, Chris Palmer, dalam akun Twitter-nya yang mengatakan, ledakan di Beirut bersifat atomik.

"Ya Tuhan. media Lebanon mengatakan itu adalah pabrik kembang api. Tidak. Itu awan jamur. Itu atomik," cuitnya.

"Awan jamur terbentuk di luar pabrik. Tidak ada pertanyaan yang merupakan bom atom. Itu adalah ledakan terkontrol. Tidak mungkin semua kembang api padam pada saat yang sama. Sebuah pabrik kembang api yang meledak tidak akan meledakkan jendela yang berada sejauh 10 mil," sambungnya.

Saat ini, Forbes sendiri melaporkan, cuitan tersebut sudah dihapus oleh Palmer tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Sejarawan ilmu pengetahuan di Stevens Institute of Technology, Alex Wellerstein, mengatakan, cara menyamakan ledakan di Beirut dengan bom atom di Hiroshime melalui awan jamur adalah salah.

Selama ini, awan jamur memang menjadi ikon ledakan nuklir, tetapi awan jamur adalah fenomena ketika terjadi ledakan besar. Awan jamur pun tidak akan muncul dalam ledakan nuklir yang kecil.

Di sisi lain, ada ketidaktahuan umum mengenai ledakan besar yang bersifat non-nuklir. Sehingga, setiap kali awan jamur muncul, maka akan dikaitkan dengan bom atom.

"Ini jelas salah. Awan jamur terbentuk dalam semua ledakan, mereka hanya bertahan lebih lama untuk ledakan besar. Anda dapat mengetahui (ledakan di Beirut) dari warna asap (merah tua/oranye) bahwa itu tidak cukup panas untuk menjadi nuklir (yang selalu dimulai putih/kuning, bahkan nuklir kecil)," ujar Wellerstein.

Hal yang sama juga dijelaskan oleh ahli fisika di Lawrence Livermore National Laboratorium, David Dearborn melalui tulisannya di Scientific American pada 1999.

"Bertentangan dengan kesalahpahaman umum, bentuk awan jamur tidak bergantung pada komponen nuklir atau termonuklir. Seperti yang Anda ketahui, ledakan besar bahan peledak kimia akan menghasilkan efek yang sama," paparnya.

Dearborn menjelaskan, awan jamur terbentuk ketika ledakan menciptakan gelembung gas yang sangat panas.

Dalam kasus ledakan nuklir, bom mengeluarkan semburan sinar-x yang mengionisasi dan memanaskan udara di sekitarnya; gelombang gas yang panas itu dikenal sebagai bola api, katanya.

"Udara panas tersebut kemudian dengan cepat mengembang dan naik. Awan yang naik tersebut menciptakan suatu arus kuat, membawa debu hingga membentuk batang jamur," tambahnya.

Sebagai contoh, pada April 2013, awan jamur besar muncul dalam ledakan di sebuah pabrik pupuk di West, Texas. Kemudian pada Juni 2019, awan jamur juga terbentuk dalam sebuah ledakan di kilang minyak di Philadelphia.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya