Berita

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan/Net

Dunia

Kanal Istanbul, Proyek Ambius Erdogan Untuk Mengembalikan 'Kedaulatan' Turki

RABU, 29 JULI 2020 | 15:19 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Tahun lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mendeklarasikan sebuah proyek ambisius, yaitu Kanal Istanbul. Kanal tersebut akan menggantikan Selat Bosphorus yang nantinya ditutup secara permanen sebagai jalur pelayaran.

Namun ternyata proyek tersebut tidak sekadar ambisius untuk mendapatkan keuntungan materiil, melainkan untuk mengembalikan kedaulatan Turki yang sesungguhnya.

Dutabesar RI untuk Turki, Lalu Muhammad Iqbal mengupas latar belakang Erdogan membangun Kanal Istanbul yang dijadwalkan akan mulai dilakukan pada akhir tahun ini atau awal tahun 2021.


Dalam sejarahnya, Iqbal menjelaskan, pelayaran di Selat Bosphorus diatur oleh rezim internasional, yaitu Montreux Convention yang ditandatangi pada 1936. Ini menjadi tidak biasa karena Selat Bosphorus adalah wilayah Turki yang seharusnya diatur oleh pemerintah Turki itu sendiri.

"Selat Bosphorus dilihat dari perspektif mana pun merupakan wilayah Turki, namun diatur oleh rezim internasional. Jadi Turki seakan menyerahkan sebagian kedaulatannya kepada Montreux Convention," ujar Iqbal dalam webinar bertajuk "Alih Status Hagia Sophia dan Implikasinya terhadap Politik Internasional" pada Rabu (29/7).

Jika diperhatikan, ia mengatakan, kondisi Turki saat Montreux Convention masih sangat lemah. Di mana Kekaisaran Ottoman baru saja runtuh, sementara Turki sendiri menyatakan kemerdekaannya pada 1923. Alhasil, banyak kebijakan yang diambil pada saat itu dilakukan berdasarkan rezim internasional. Termasuk konversi Aya Sofya dari masjid menjadi museum.

Terlebih, pemerintah Turki tidak mendapatkan apapun dari pelayaran internasional di Selat Bosphorus.

"Nah selama ini, mereka (Turki) mengurusi Selat Borphorus. Kalau ada kecelakaan, minyak tumpah, mereka kena getahnya. Tapi mereka tidak dapat apa-apa," jelasnya.

Dengan situasi tersebut, Erdogan berusaha untuk mengembalikan kedaulatan Turki. Nantinya, Kanal Istanbul akan menjadi jalur pelayaran internasional, baik komersial maupun militer. Siapapun yang melewati kanal tersebut harus melalui izin pemerintah Turki.

"Lebih dari itu, siapapun yang lewat harus bayar, yang jelas," sambung Iqbal.

"Nah peristiwa apa ini? Ini adalah peristiwa kedaulatan. Turki sedang mengembalikan kedaulatannya," tekannya.

Meski begitu, Iqbal mengurai, proyek Erdogan ini akan memicu ketegangan lantaran Selat Bosphorus adalah wilayah yang strategis. Selat tersebut menjadi pintu masuk Mediterania dan Laut Hitam.

Sementara Laut Hitam sendiri adalah tempat pertarungan kekuatan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya