Berita

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin/Net

Politik

Din Syamsuddin: Kesalahan Bukan Pada Nadiem Makarim, Tapi Presiden Jokowi

RABU, 29 JULI 2020 | 07:59 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim tentang Program Organisasi Penggerak (POP) dinilai sebagai kebijakan yang tidak bijak dan tidak populis (merakyat).

Meski begitu, kesalahan mendasar atas kemunculan program ini bukan terletak pada sosok Nadiem Makarim melainkan orang yang menunjuknya sebagai Menteri, yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Begitu disampaikan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam keterangannya yang diterima redaksi, Rabu (29/7). 


"Kesalahan bukan pada Nadiem Makarim. Yang sangat bersalah dan patut dipersalahkan, serta harus bertanggung jawab, pada pendapat saya, adalah Presiden Jokowi sendiri. Dialah yang berkeputusan mengangkat seorang menteri," ujarnya.

Menurut Din Syamsuddin, Nadiem Makarim hanya seorang anak muda yang mungkin karena lebih banyak berada di luar negeri dan tidak cukup mafhum dan memiliki pengetahuan serta penghayatan tentang masalah dalam negeri.

"Dan hanya memiliki obsesi yang tidak menerpa di bumi," kata Din Syamsuddin.

Adapun terkait Presiden Jokowi yang telah memilih Nadiem sebagai Mendikbud sudah selayaknya diminta pertanggungjawaban. Sebab, keputusan mengangkat seorang menteri walaupun menyempal dari fatsun politik sedianya turut disalahkan.

"Atau, jangan-jangan Presiden Jokowi sendiri tidak cukup memahami sejarah kebangsaan Indonesia dan berani mengambil keputusan yang meninggalkan kelaziman politik?" tuturnya.

Untuk saat ini, POP Kemendikbud kadung bergulir dan ditolak banyak kalangan termasuk dua ormas bersejarah di Indonesia yakni PP Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) serta teranyar PGRI menyatakan mundur dari POP Kemendikbud tersebut. Maka sudah sepatutnya, POP Kemendikbud dihentikan serta fokus pada penanganan Covid-19 pada sektor pendidikan.

"Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Sebaiknya program itu dihentikan. Lebih baik Kemendikbud bekerja keras dan cerdas mengatasi masalah pendidikan generasi bangsa yg akibat pandemi Covid-19 telah, menurut seorang pakar pendidikan, menimbulkan the potential loss bahkan generation loss (hilangnya potensi dan hilangnya generasi)," demikian Din Syamsuddin 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya