Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Covid-19 Dapat Menimbulkan Risiko Tinggi Bagi Pasien Diabetes

SABTU, 25 JULI 2020 | 16:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Angka kematian karena diabetes di AS telah meningkat sejak 2009 dan melampaui sebagian besar negara industri lainnya. Kini, angka itu diperburuk dengan munculnya pandemik Covid-19 di negara itu.

Devon Brumfield dapat mendengar suara ayahnya terengah-engah di telepon. Ia tahu sang ayah Darrell Cager Sr (64) menderita diabetes, jadi saat itu ia mendesak ayahnya untuk segera mencari perawatan. Hari berikutnya, dia pingsan dan meninggal di rumahnya di New Orleans.

Brumfield segera mengetahui penyebabnya: gangguan pernapasan akut dari Covid-19. Sertifikat kematiannya mencatat diabetes sebagai kondisi yang mendasarinya. Brumfield, yang tinggal di Texas yang juga menderita diabetes tipe 2, mengalami ketakutan dan berpikir dia bisa menjadi yang berikutnya.


"Saya berpikir, Tuhan, ini bisa terjadi pada saya," katanya tentang kematian ayahnya pada akhir Maret, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (25/7).

Dia punya alasan kuat untuk takut. Ketika wabah AS melonjak, sebuah studi pemerintah baru menunjukkan bahwa hampir 40 persen orang yang meninggal dengan Covid-19 menderita diabetes.

Para ahli berpikir bahwa diabetes menyebabkan tekanan pada jantung dan organ lainnya, sehingga berisiko meningkatkan mematian asien Covid-19.

Di antara kematian mereka yang berusia di bawah 65 tahun setengahnya memiliki kondisi kronis. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menganalisis lebih dari 10 ribu kematian di 15 negara bagian dan Kota New York dari Februari hingga Mei.

Jonathan Wortham, ahli epidemiologi CDC yang memimpin penelitian ini, menyebut temuan itu “sangat mengejutkan,” dengan implikasi serius bagi mereka yang menderita diabetes dan orang-orang yang mereka cintai.

Dari sebuah survei terpisah di negara bagian, Reuters menemukan tingkat diabetes yang sama tinggi di antara orang yang meninggal akibat Covid-19 di 12 negara bagian dan District of Columbia.

Sepuluh negara bagian, termasuk California, Arizona dan Michigan, mengatakan mereka belum melaporkan diabetes dan kondisi mendasar lainnya, dan sisanya tidak menanggapi, memberikan gambaran yang tidak lengkap untuk para pembuat kebijakan dan dokter yang berjuang untuk melindungi mereka yang paling berisiko.

Angka kematian Amerika karena diabetes telah meningkat sejak 2009 dan melampaui sebagian besar negara industri lainnya. Orang kulit hitam dan Latin menderita diabetes pada tingkat yang lebih tinggi daripada orang kulit putih dan secara tidak proporsional menderita Covid-19.

“Diabetes sudah menjadi pandemik yang bergerak lambat. Sekarang Covid-19 telah membuatnya menyerang seperti gelombang yang bergerak cepat," kata Elbert Huang, seorang profesor kedokteran dan direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Kronis Universitas Chicago.

Menjaga diabetes tetap terkendali di antara pertahanan terbaik melawan Covid-19 menjadi sulit karena pandemik mengganggu perawatan medis, olahraga, dan rutinitas makan yang sehat.

Tingginya harga insulin juga telah memaksa beberapa orang untuk tetap bekerja untuk membeli obat esensial yang membuatnya berisiko terkena virus . Dan ketika negara itu bergulat dengan krisis ekonomi, jutaan orang Amerika telah kehilangan pekerjaan dan asuransi kesehatan yang disponsori oleh majikan mereka.

Enrique Caballero, seorang ahli endokrinologi dan peneliti diabetes dari Harvard Medical School mengatakan, sebenarnya hal ini dapat diantisipasi dan ditangani dengan respons nasional yang lebih komprehensif.

Pejabat kesehatan seharusnya melakukan lebih banyak untuk menekankan ancaman pada penderita diabetes dan mengurangi ketakutan mereka akan kunjungan ke rumah sakit, sementara juga lebih fokus pada membantu pasien mengelola kondisi mereka di rumah, katanya.

Pembuat kebijakan telah mengeluarkan banyak peringatan bahwa Covid-19 dapat menimbulkan risiko tinggi bagi pasien diabetes.

Saat terjadi wabah SARS atau Sindrom Pernafasan Akut pada 2003, ada lebih dari 20 persenorang yang meninggal menderita diabetes.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Manifesto PRD 1996: Ketika Sekelompok Anak Muda Membuat Penguasa Susah Tidur

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:27

Kanada Minta Warganya Waspadai Wabah Cyclospora sebelum Bepergian ke AS

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:16

BRI Peduli Buka Jalan UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Global

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:10

Ganti Kapolri dan Jaksa Agung Diusulkan Barengan

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:06

Kemnaker Jamin 134 Pegawai PT Amos Terima Pesangon Rp12,7 Miliar

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:03

Purbaya Ungkap Alasan RI Tawarkan Pajak 0 Persen Selama 50 Tahun di PFII

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:47

KPK Sita Toyota Alphard Diduga Hadiah Proyek Bupati Lalu Ahmad Zaini

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:30

Risiko Perang Terbuka AS-Iran Meningkat Gegara Rebutan Selat Hormuz

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:23

KPK Bantah Kabar Penangkapan Gatot Heroe Hernanda

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:17

Fahira Ungkap Lima Tantangan Anak Indonesia dan Solusinya

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:12

Selengkapnya