Berita

Jenazah Abdul Aziz dimakamkan dengan protokol Covid-19 usai keluarga membayar uang Rp 8,7 juta kepada pihak RSU Medika Utama Blitar/Istimewa

Nusantara

Keluarga Bawa Pulang Jenazah Harus Bayar Rp 8,7 Juta, Begini Penjelasan RSU Medika Utama

JUMAT, 24 JULI 2020 | 11:26 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Penarikan biaya terhadap keluarga pasien yang diduga terpapar Covid-19 sebesar Rp 8,7 juta yang belakangan disebut-sebut dilakukan RSU Medika Utama di Kabupaten Blitar, dibantah pihak rumah sakit sebagai pungli.

“(Biaya) itu bukan untuk pemakamannya pak. Tapi total seluruh biaya sejak ditangani di UGD sampai pemulasaran dan pemakamannya. Lain-lain biaya obat, infus, APD, dan sebagainya selama di UGD. Saya lupa rinciannya. Kalau pemakamannya saja sekitar Rp 1 juta, pemulasaraan kisaran Rp 3 juta karena ada peti jenasahnya,” kata Direktur RSU Medika Utama, dr Rudy SK Hedo, saat dikonfirmasi Kantor Berita RMOLJatim, Kamis malam (23/7).

Ditambahkan Rudy, biaya yang dikeluarkan keluarga pasien untuk mengambil jenazah itu hanya sebagai jaminan saja.


“Itu bukan pasien bayar. Memang aturan di kami untuk pasien swasta yang tidak ada penjaminnya akan titip uang biaya perawatan. Tapi setelah proses klaim kami ke Kemenkes melalui BPJS Kesehatan di-acc, uang tersebut akan kami kembalikan penuh,” jelasnya.

Lanjut Rudy, untuk pasien BPJS Kesehatan tidak berlaku uang titip perawatan, sebab mereka bisa langsung pulang karena sudah jelas penjaminnya. Sehingga Rudy memastikan bahwa pihaknya sama sekali tidak melakukan pungli terhadap pasien.

“Jadi tidak ada pungli atau kami menarik biaya dua kali,” terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Rudi Handoko, warga Kelurahan Garum, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar ‘dipaksa’ membayar Rp 8,7 juta saat hendak membawa pulang jenazah ayah mertuanya, Abdul Aziz, dari RSU Medika Utama Kabupaten Blitar.

Usai pemakaman jenazah, Rudi dan keluarga diminta menjalani isolasi mandiri. Selama karantina mandiri Rudi sekeluarga tidak mendapatkan bantuan apa-apa.

Setelah karantina, Rudi dan keluarga menjalani rapid test dengan hasil nonreaktif. Begitupun dengan hasil swab test almarhum Abdul Aziz dinyatakan negatif.

Kejadian ini tidak serta merta selesai. Pasalnya, Rudi sekeluarga terlanjur dicap masyarakat terpapar Covid-19. Seluruh keluarganya dikucilkan oleh masyarakat.

“Selama karantina kami dikucilkan warga. Selama itu kami juga tidak mendapatkan apa-apa. Katanya ada bantuan, ternyata sama sekali tidak ada. Kami tidak pernah didatangi pemerintah, tidak pernah dicek kesehatan, tidak pernah diperiksa,” keluh Rudi.

Rudi meminta pihak-pihak terkait agar bijak dalam membuat aturan protokol kesehatan. Kalau asal-asalan seperti itu, yang dirugikan masyarakat.

“Kami berharap agar pemerintah melek dengan kejadian ini. Kalau sampai semua pasien yang sakit dinyatakan Covid-19 dan pihak keluarga yang menanggung akibatnya, terus langkah pemerintah seperti apa. Apakah kalau kami dikarantina, ada bantuan dari pemerintah? Kalau karantina adakah yang memberi makan ternak kami? Mereka tidak sampai mikir sampai situ,” kritik Rudi.

Setelah ayah mertuanya dinyatakan negatif corona, Rudi beserta keluarganya meminta agar namanya dipulihkan.

“Iya itu (pemulihan nama) nanti dari pihak Dinkes, Satgas dan Desa. Besok (hari ini, red) kami sampaikan ke Satgas dan Dinkes untuk masalah pemulihan nama. Tempo hari juga pernah seperti itu kejadiannya. Selama penanganan pasien, kita pasti tidak mengatakan covid kalau hasil swab belum keluar. Tapi kalau screening awal mengarah ke situ, ada form screening memang dari Kemenkes acuannya,” jawab Rudy.

Rudy juga menjelaskan bahwa selama penanganan pasien, pihaknya telah menjalankan protokol kesehatan sesuai aturan yang diberlakukan Kemenkes.

“Jadi kita tidak mengarang-ngarang untuk diagnosa awalnya. Jadi memang diagnosa pasti harus nunggu hasil swab. Tapi protokol penanganan sejak awal sudah seperti covid. Kalau swab positif diagnosa berubah jadi terkonfirmasi. Kalau negatif tetap sebagai PDP atau sekarang suspek istilahnya,” pungkasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Kematian Ali Khamenei, Jalan Iran Kembangkan Nuklir untuk Militer

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:18

May Day: Jeritan Mantan Pekerja Sritex Menagih Janji Negara

Jumat, 01 Mei 2026 | 18:08

Langkah Prabowo Ratifikasi ILO 188 Jadi Momentum Perbaikan Sektor Perikanan

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:39

Hari Buruh Tak Cuma Orasi, Massa Main Games hingga Nonton Efek Rumah Kaca

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:32

DPR Akui Disparitas Upah Buruh Terlalu Jauh

Jumat, 01 Mei 2026 | 17:20

Apa Perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional? Ini Sejarahnya

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:59

KSBSI: Prabowo Jadi Presiden Ketiga di Dunia yang Rayakan May Day Bareng Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:55

Google Doodle Rayakan Hari Buruh 2026, Tampilkan Ilustrasi Para Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:49

Ketua Komisi III Jamin Keamanan Aktivis saat Perjuangkan Hak Buruh

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:47

Japan Airlines Uji Coba Robot Humanoid untuk Atasi Kekurangan Pekerja

Jumat, 01 Mei 2026 | 16:42

Selengkapnya