Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Tidak Bisa Disandingkan Dengan China, India Perlu Kebijakan Luar Negeri Yang Rasional Untuk Ekonominya

KAMIS, 23 JULI 2020 | 09:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kekuatan ekonomi China tentu tidak bisa dibandingkan dengan India. Apalagi, selama tiga dekade terakhir, kesenjangan  dalam perkembangan ekonomi India dan China memiliki ‘implikasi’ untuk hubungan bilateral.

Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar mengemukakan pandangannya tentang perbedaan kekuatan antara China dan India itu. Dia mengatakan China harus diberi penghargaan atas pertumbuhannya yang mengesankan dalam beberapa dekade terakhir dengan berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan reformasi yang menyeluruh. Menurutnya, pertumbuhan China jauh lebih cepat daripada India.

Media India, The Hindustan Times, dalam editorial Selasa, menulis tentang pentingnya pengakuan India atas perbedaan kekuasaan. “Pertumbuhan ekonomi adalah kunci kebijakan luar negeri. Perbaiki," tulis media itu dalam kolom editorialnya, dan menyerukan agar India lebih fokus pada ekonomi.
 

 
Pengalaman Tiongkok dalam mengembangkan ekonominya bisa menjadi referensi bagi India. Pada tahun 1988, ketika perdana menteri saat itu Rajiv Gandhi mengunjungi China, ukuran kedua ekonomi kira-kira sama. Lalu mengapa China bisa melompat lebih cepat daripada India?  

Semua karena China gigih memprioritaskan pembangunan ekonominya dan melakukan upaya terus-menerus untuk menciptakan lingkungan eksternal yang damai untuk misi ekonomi, seperti dikutip dari GT, Rabu (22/7). Diplomasi terutama ditujukan untuk melayani pembangunan ekonomi Tiongkok. Bahkan sekarang ketika AS menyerukan kepada seluruh dunia untuk menindak China, China tetap fokus mengelola produk-produknya, meningkatkan ekonomi, dan lebih membuka diri untuk membuat negara lebih sejahtera.  

Untuk menciptakan lingkungan regional yang damai dan stabil yang mendukung pembangunan ekonomi, Tiongkok telah mengikuti kebijakan persahabatan dan kemitraan, memperkuat hubungan bertetangga yang baik dan kerja sama praktis dengan negara-negara tetangga.

China memilih mengambil perbedaan perbedaan itu dan mencari pengembangannya bersama-sama untuk menyelesaikan sengketa teritorial dengan negara-negara terkait. Media GT menulis, kebijakan luar negeri China tidak hanya melayani perkembangan ekonomi domestiknya, tetapi juga menguntungkan negara-negara tetangganya.

Sementara, kebijakan luar negeri India sering dibajak oleh nasionalisme di dalam negerinya sendiri.

“Kita telah melihat bayang-bayang semangat nasionalis India di hampir setiap perbatasan China-India. Ketika pemerintah India dihadapkan dengan tantangan berduri di dalam negeri yang sulit untuk diselesaikan, ia cenderung mengalihkan perhatian publik dengan menciptakan masalah dengan negara-negara tetangga,” tulis media GT.  

Kunci untuk memecahkan masalah domestik adalah pertumbuhan ekonomi, yang membutuhkan lingkungan eksternal yang stabil. India telah memicu konflik perbatasan dengan China beberapa kali. Bagi orang-orang China, itu adalah langkah diplomatik yang tidak masuk akal yang gagal melayani kepentingan India.

Pengalaman Tiongkok selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa selama sebuah negara menuntut diplomasi damai dan melakukan upaya diplomatik untuk melayani pembangunan ekonomi, maka ekonomi mereka akan berkembang dan makmur.

Sebenarnya, di tengah tugas berat dalam meningkatkan ekonominya, India memiliki potensi ekonomi yang besar. Diharapkan India dapat mengambil kebijakan luar negeri yang lebih rasional untuk melayani perkembangan ekonominya. Perkembangan India juga akan kondusif bagi Asia Selatan dan wilayah yang lebih luas.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya