Berita

Ilustrasi virus corona baru atau SARS-CoV-2/Net

Kesehatan

Ilmuan Inggris Temukan Enam Jenis Covid-19 Dengan Gejala Yang Berbeda

MINGGU, 19 JULI 2020 | 12:12 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Penelitian mengenai virus corona baru atau SARS-CoV-2 terus dilakukan oleh seluruh ilmuan di penjuru dunia. Baru-baru ini, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan di Inggris menunjukkan, ternyata virus corona bisa menyebabkan enam jenis penyakit Covid-19.

Tim ilmuan dari King's College London (KCL) lah yang melakukan penelitian tersebut. Mereka mengatakan, masing-masing "strain" yang telah diidentifikasi memiliki serangkaian gejala sendiri dengan tingkat variasi keparahan.

Dengan temuan tersebut, dokter dapat mengidentifikasi pasien mana yang mungkin lebih memerlukan intervensi media yang lebih serius setelah didiagnosis.


"Temuan ini memiliki implikasi penting untuk perawatan dan pemantauan orang-orang yang paling rentan terhadap Covid-19 yang parah," ucap Dr. Claire Steves dari KCL kepada Sky News.

“Jika Anda dapat memprediksi siapa orang-orang ini pada hari kelima, Anda punya waktu untuk memberi mereka dukungan dan intervensi awal seperti memantau kadar oksigen dan gula darah, dan memastikan mereka terhidrasi dengan baik, perawatan sederhana yang dapat diberikan di rumah, mencegah rawat inap dan menyelamatkan nyawa," sambungnya menjelaskan.

Adapun temuan KCL tersebut muncul di tengah laporan keberhasilan pemerintah Inggris melakukan uji coba tes antibodi untuk menentukan paparan Covid-19.

Tes dengan mekanisme finger-prick tersebut dikembangkan oleh UK Rapid Test Consortium (UK-RTC), yang terdiri dari anggota dari Universitas Oxford dan sejumlah perusahaan riset Inggris.

Hasil uji coba menemukan tingkat akurasi tes tersebut 98,6 persen. Selain itu hasilnya bisa muncul dalam 20 menit.

Dengan keberhasilan uji coba tersebut, Pemimpin UK-RTC, Chris Hand, mengatakan, pihaknya akan bekerja keras untuk menghasilkan ratusan ribu dosis setiap bulannya.

"Jika virus corona seperti flu dan orang-orang membutuhkan vaksin tahunan, kita akan memerlukan pengujian antibodi massal untuk mengukur respons antibodi orang terhadap vaksin itu. Itu bagian dari rencana," sambungnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya