Berita

Peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng/Net

Publika

Krisis Dan Memburuknya Pelayanan Publik

JUMAT, 10 JULI 2020 | 11:00 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

BULAN lalu, setelah Covid-19 melanda tanah air, masyarakat meradang, bukan karena Covid-19, tapi akibat tagihan rekening listrik mereka melompat tinggi. Ada yang naik 50 persen, 100 persen dan bahkan ada yang hingga harus membayar kenaikan hingga 400 persen.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyatakan tidak ada kenaikan tarif, namun realitasnya masyarakat membayar listrik hingga 4 kali lipat dari biasanya.

Sampai sekarang masyarakat belum mendapatkan informasi yang benar mengapa mereka dipaksa membayar listrik dengan sangat mahal. Pihak PLN menyalahkan estimasi pencatatan meteran yang mereka lakukan sendiri.


Alasannya karena Covid-19 mengakibatkan tidak ada pencatatan meteran listrik. PLN juga mengatakan bahwa kenaikan karena pemakaian masyarakat yang bertambah akibat Work From Home (WFH) akibat peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan pemerintah.

Berbagai alasan dibuat untuk menampik adanya kenaikan tarif dasar listrik (TDL), meskipun faktanya rakyat membayar listrik mahal dan tidak wajar di saat rakyat sedang susah.

Lain lagi pertamina, BUMN energi lain yang juga melayani hajat hidup orang banyak sama seperti PLN. Pertamina  tidak mau menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), meskipun harga minyak mentah yang merupakan komponen utama menghasilkan BBM turun drastis.

Harga minyak mentah internasional harganya bahkan turun hingga minus atau di bawah 0 dolar. Selain itu, harga minyak mentah telah berada di bawah 40 dolar selama hampir 6 bulan lamanya. Sementara harga BBM sekarang adalah harga pada posisi harga minyak mentah pada kisaran 65 hingga 100 dolar per barel.

Masyarakat tidak mendapatkan hak yang benar, yakni mendapatkan harga yang benar atas layanan publik. Padahal Pertamina telah mengimpor BBM dari Singapura jenis Ron 95 dengan harga antara Rp 2.200 hingga Rp. 2800 per liter.

Pertamina telah menimbun BBM impor di kapal kapal apung, di storage, di tangker, untuk dijual kepada masyarakat Indonesia dengan harga mahal. BBM impor murah dijual mahal di dalam negeri.

Dalam kasus listrik dan BBM masyarakat tidak mendapatkan layanan publik yang baik di tengah kesusahan akibat pandemik, yakni layanan atas harga yang wajar dan benar, atas informasi yang memadai benar, yang merupakan hak paling mendasar baik sebagai masyarakat maupun sebagai konsumen.

Dalam situasi krisis di mana beban ekonomi masyarajat yang sudah berat makin diperberat akibat layanan publik yang tidak maksimal.

Kebutuhan dasar lain di tengah pandemik Covid-19 adalah telekomonikasi. physical distancing yang merupakan protokol utama kesehatan, telah meningkatkan kebutuhan pulsa internet, berkali-kali lipat, terutama sekali untuk kegiatan bekerja dan kegiatan sekolah dari rumah.

Sama seperti listrik, biaya pulsa naik berkali kali-lipat. Semua harus dipenuhi, dibayar oleh masyarakat untuk kebutuhan anak anak mereka agar tetap bisa belajar, dan untuk kebutuhan komunikasi bekerja dari rumah, untuk pemesanan bahan makanan secara online dan lain sebagainya.

Sementara pada bagian lain layanan telekomunikasi makin memburuk, sinyal jelek, komunikasi brepet. Pihak penyedia layanan beralasan karena tingginya pemakaian, lalu lintas telekomonikasi yang padat. Layanan telekomunikasi memburuk justru disaat masyarakat tengah membutuhkannya.

Layanan telekomunikasi memburuk justru disaat masyarakat membayar makin mahal. Jadi disaat krisis, layanan publik memburuk, sementara rakyat membayar makin mahal itu jelas sebuah pelanggaran terhadap hak konsumen.

Bagaimana dengan layanan publik lain seperti jalan Tol misalnya, masalahnya hampir sama dengan layanan publik lain. Harga tatap mahal, masyarakat tidak mendapatkan informasi yang benar tentang mengapa tarif jalan tol mahal dan naik.

Soal jalan tol sering macet, lampu penerangan  yang jarang, perbaikan jalan tol yang menimbulkan kemacetan, jalan tol dengan banyak lubang, menjadi fenomena sehari hari. Sehingga saking buruknya layanan jalan tol, pengguna alias konsumen sudah malas protes.

Sekarang jalan mulai ramai lagi. Pelonggaran PSBB sudah mulai dilakukan pemerintah. Konsumsi BBM akan meningkat, harga tetap tidak mau turun. Konsumsi listrik akan tetap sama, namun masyatakat akan tetap membayar listrik mahal.

Konsumsi pulsa internet tetap tinggi dalam era kebiasaan baru, namun tarif internet tidak mau turun. Jalan tol akan macet kembali, dan harganya tetap akan naik secara periodik. Lalu dimana layanan optimal itu?

Apalagi sekarang di tengah keadaa  utang BUMN menggunung, BUMN sebagai penyedia layanan publik paling utama dan paling luas tersandera. Utang pertamina besar, utang PLN besar, utang BUMN Karya juga sangat besar. Pada saat yang sama utang pemerintah juga menggunung.

Sementara BUMN menjadi salah satu tumpuan penerimaan negara. Dapat dipastikan bahwa semua layanan publik akan memburuk, listrik, BBM, telekomunikasi, jalan Tol, transfortasi, akan berkurang kemampuan layanannya. Sisi lain semua beban biaya  layanan publik akan ditumpuk dipundak masyarakat.

Namun hak masyarakat mendapatkan informasi yang benar atas layanan publik akan makin memburuk, pemerintah dan peyedia layanan makin tertutup atau tidak transparan. Lalu  kemana rakyat bertanya? Pada rumput yang bergoyang.

Penulis adalah peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

UPDATE

RI Peringkat 18 Kasus Anti-Dumping, Kalah Agresif dari AS dan India

Selasa, 26 Mei 2026 | 18:19

Publik Diajak Terlibat Awasi Kualitas Makanan Lewat Aplikasi Reviu Pelaksanaan MBG

Selasa, 26 Mei 2026 | 18:04

Keluarga Terdakwa Kasus Pembunuhan di Pemalang Ngadu ke Legislator Nasdem

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:52

Lembang Berpeluang Diserbu Wisatawan saat Long Weekend

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:33

Kemlu RI Rayakan Africa Day 2026 Lewat Laga Persahabatan Diplomatik

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:29

Sudah Bertransformasi, Penguatan Literasi Digital jadi Kunci Cegah TPPO

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:26

Salat Id di Prancis, Prabowo Cetak Sejarah

Selasa, 26 Mei 2026 | 17:22

RI-Thailand Perkuat Hubungan Bisnis dan Kerja Sama Hukum

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:54

Haji Mabrur Jadi Duta Antikorupsi

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:50

Prabowo Dijadwalkan Salat Iduladha Bersama Diaspora RI di Paris

Selasa, 26 Mei 2026 | 16:37

Selengkapnya