Berita

Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun/RMOL

Politik

Politisi Dapat Jatah Kuota Ekspor Benur Lobster, Bukti Kongkalikong Parpol Dan Oligarki Ekonomi Masih Sangat Kuat

SENIN, 06 JULI 2020 | 12:58 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Kongkalikong antara oligarki partai politik dengan oligarki ekonomi masih sangat kuat di Indonesia.

Begitu kata analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, menanggapi adanya beberapa politisi yang mendapatkan jatah kuota ekspor benih lobster di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui perusahaan yang mereka miliki.

"Terkait orang-orang Gerindra yang berbisnis dan mendapat proyek dari Kementerian KKP sebagai perusahaan ekspor benih lobster itu tentu masuk juga sebagai problem oligarki politik dan oligarki ekonomi. Ada semacam kongkalingkong antara oligarki partai politik dengan oligarki ekonomi. Pola seperti itu sebenarnya pola lama dan diduga terjadi juga di semua partai politik di Indonesia," ucap Ubedilah Badrun kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (6/7).


Hal tersebut, lanjut Ubedilah, dapat terjadi karena biaya politik yang mahal. Sehingga mendorong politisi untuk berbisnis dan memanfaatkan akses peluang bisnis ke Menteri yang berafiliasi dengan partai politik yang menaungi mereka.

"Pola ini tidak akan hilang sebelum ada undang-undang yang melarangnya. Tetapi secara moral politik itu pelanggaran etik, ada semacam kemungkinan abuse of power, penyalahgunaan kekuasaan dari sang Menteri yang berasal dari partai politik," terang Ubedilah.

Selain Gerindra, mantan politikus PKS, Fahri Hamzah juga mendapatkan kuota ekspor benih lobster dari KKP.

"Kalau soal Fahri Hamzah dan Suryade sepertinya keduanya diduga saling kenal dekat dan kemungkinan berasal dari Partai Gelora. Mengapa Fahri dan Lalu perusahaanya dapat izin sebagai pengekspor Lobster? Mungkin secara prosedural mereka memenuhi standar Kementerian KKP, atau mungkin juga sebaliknya mereka mendapatkan izin karena sudah dijanjikan sebelumnya secara politik ekonomi saat hajatan pemilu lalu atau ada konsesi tertentu untuk mendapatkan izin ekspor tersebut," pungkasnya.

Diketahui, beberapa politisi menjadi bagian dari perusahaan yang mendapatkan jatah kuota impor benih lobster dari KKP.

Sebut saja Ahmad Bahtiar Sebayang yang merupakan Wakil Ketua Umum Tunas Indonesia Raya, underbouw Partai Gerindra. Ahmad Bahtiar menjabat Komisaris Utama PT Royal Samudera Nusantara yang menjadi perusahaan yang mendapatkan jatah kuota ekspor benih lobster.

Selain itu, ada tiga eksportir lain juga terafiliasi Gerindra. Misalnya PT Bima Sakti Mutiara yang hampir semua sahamnya dimiliki PT Arsari Pratama. Komisaris PT Bima Sakti Mutiara adalah Hashim Sujono Djojohadikusumo yang merupakan adik Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang juga Ketum Gerindra. Dan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo yang merupakan putri Hashim duduk sebagai Direktur Utama.

Kemudian PT Argo Industri Nasional (Agrinas) ang sahamnya dikantongi Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Perumahan yang berada di bawah pembinaan Kementerian Pertahanan. Anggota Dewan Pakar Tim Kampanye Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pilpres 2019, Rauf Purnamam menjabat sebagai Dirut. Kemudian pengurus Tunas Indonesia Raya, Dirgayuza Setiawan, sebagai Direktur Operasi, dan anggota Dewan Pembina Gerindra, Simon Aloysius Mantiri, sebagai Direktur Keuangan.

Lalu yang jadi Komisaris PT Agrinas di antaranya Waketum Gerindra, Sugiono yang juga duduk di kursi Komisi Pertahanan DPR; Wakil Sekjen Gerindra, Sudaryono; Wakil Menhan, Sakti Wahyu Trenggono, jadi Komisaris Utama.

Selanjutnya PT Maradeka Karya Semesta. Wakil Ketua Komisi Infrastruktur DPR Fraksi Partai Gerindra, Iwan Darmawan Aras sebagai pemiliknya yang berkongsi dengan Legislator Partai Golkar 2014-2019. Eka Sastra yang merupakan adik sepupu Iwan.

Selain Partai Gerindra, PKS juga terafiliasi sebagai pemegang izin ekspor benur lobster. Seperti politikus asal NTB, Lalu Suryade, yang kini siap maju di Pilbup Bupati Lombok Tengah diketahui menjadi Pemilik PT Alam Laut Agung.

Lalu mantan politikus PKS, Fahri Hamzah, yang kini menjabat Waketum Partai Gelora Indonesia tercatat sebagai salah satu pemegang saham PT Nusa Tenggara Budidaya yang berkongsi dengan pengusaha Aziz Mochdar.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya