Berita

Tangkapan layar peneliti Social Sciences Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir/RMOL

Politik

Hasil Survei: Warga Ibukota Belum Siap Jalani New Normal

MINGGU, 05 JULI 2020 | 18:32 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Warga DKI Jakarta dinilai belum siap memasuki era new normal di tengah pandemik Covid-19 seperti saat ini.

Berdasarkan survei, angka persepsi risiko terhadap Covid-19 di Ibukota hanya menyentuh 3,30 atau masuk kategori agak rendah.

"Idealnya angka di atas 4. Ini agak rendah dan cukup mengkhawatirkan. Kita bisa bilang Jakarta kurang siap memasuki new normal," kata peneliti Social Resilience Lab, Nanyang Technological University, Sulfikar Amir dalam konferensi pers secara daring, Minggu, (5/7).


Sulfikar menyebut variabel pengetahuan dan informasi warga DKI terkait Covid-19 juga relatif rendah. Pengetahuan hanya 3,48 dan informasi 3,46. Kedua variabel tersebut berada di bawah angka ideal atau angka 4.

"Namun untuk variabel proteksi diri warga berada di angka 4,29 atau relatif tinggi. Ini cukup bagus dan tentu harus dijaga," jelasnya.

Sulfikar menjelaskan, survei persepsi risiko warga Jakarta terhadap Covid-19 ini amat penting untuk mengukur perilaku keselamatan atau kedisiplinan warga terhadap penerapan protokol kesehatan. Berdasarkan hasil survei tersebut, warga Jakarta belum sepenuhnya disiplin.

"Dibutuhkan strategi mitigasi jangka menengah atau panjang dengan regulasi yang lebih permanen untuk mendorong perubahan perilaku dan persepsi warga terhadap risiko Covid-19," tegas dia.

Untuk diketahui, Survey tersebut dilakukan terhadap 206.550 warga DKI yang tersebar di lima Kota Administrasi Jakarta. Responden yang dinyatakan valid sebanyak 154.471 orang.

Pengumpulan data dimulai sejak 29 Mei-20 Juni 2020 dengan menggunakan metode survei quota sampling dengan variabel penduduk per kelurahan.

Survei dilakukan secara daring melalui platform Qualtrics dan disebar melalui media sosial Whatsapp. Warga DKI diminta mengisi kuesioner berisi 28 pertanyaan tentang enam variabel utama yakni persepsi risiko, pengetahuan, informasi, proteksi diri, modal sosial, dan ekonomi.

"Hasil pengukuran persepsi risiko Jakarta berdasarkan enam variabel, bisa dilihat persepsi risiko paling kecil hanya 2,48. Ini sangat memprihatinkan," tandas Sulfikar.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya