Berita

7 pelaku hasil OTT KPK. termasuk suami istri yang merupakan Bupati dan Ketua DPRD Kutai Timur/RMOL

Politik

Suami-Istri Terjaring OTT KPK, Gde Siriana: Bukti KKN Makin Berkarat

SABTU, 04 JULI 2020 | 22:25 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kamis (2/7) lalu berhasil mengungkap persekongkolan antara suami-istri yang menjabat di pemerintahan Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Suami-istri yang diduga melakukan tindak pidana korupsi terkait proyek infrastruktur di Kutai Timur adalah Bupati Kutai Timur Ismunandar dan Ketua DPRD Kutai Timur Encek Unguria.

Kasus ini mendapat komentar dari Direktur Indonesia Future Studies (INFUS) Gde Siriana Yusuf, yang disampaikan melalui akun Twitternya, @SirianaGde, Sabtu (4/7).


"Kita tak pernah sungguh-sungguh reformasi. Fakta suami bupati dan istri Ketua DPRD yang keduanya ditangkap OTT KPK RI bukti bahwa KKN (Korupsi, kolusi dan nepotisme) justru makin berkarat," cuit Gde Siriana.

Masih dalam unggahan yang sama, Gde Siriana mengatakan, kasus suami istri ini membuktikan bahwa jabatan tertinggi eksekutif dan legislatif di daerah yang sama menggambarkan struktur demokrasi pasca reformasi semakin miris.

Pasalnya ia melihat dari kasus Bupati dan Ketua DPRD Kutai Timur ini, bahwa para politisi di daerah selalu mempunyai celah untuk melanggengkan oligarkinya sendiri secara leluasa. Sebab katanya, tidak ada aturan yang melarang suami-istri menjadi pejabat tinggi di daerah yang sama.

"Para politisi selalu berdalih tidak adanya aturan yang melarang. Maka sekeluarga masuk dalam pemerintahan dan parlemen bersama-sama. Ini juga bentuk dinasti untuk berkuasa turun temurun. Ujung-ujungnya korupsi dan abuse of power terjadi tanpa kontrol dari legislatif," ucapnya.

Lebih lanjut, Board Member of Bandung Innitiaves Network ini menjelaskan, politik itu berbeda dengan hukum positif. Sebab sepengetahuannya, politik itu berbasis gentlemen, goodwill, trust, etika dan moral.

"Meski tidak ada aturan melarang, maka moral dan etika yang bekerja untuk mengontrol syahwat kekuasaan diri sendiri, agar tidak terjadi abuse of power dan conflict of interest," paparnya.

Namun Gde Siriana tidak yakin melihat sistem politik dan pemerintahan saat ini  mampu menumbuhkan moral dan etika dari setiap pejabatnya. Karena sistem politik dan kontestasi yang sekarang ini sudah disetir oleh uang.

"Yang terjadi adalah hanya pengusaha kaya, kepala daerah yang punya kuasa beserta keluarganya yang ikut dalam kontestasi politik. Jika tidak, pasti dibelakangnya ada pemodal pengusaha kaya," imbuhnya.  

"Nikmat berkuasa itu memabukkan. Hanya orang yang benar-benar ikhlas mengabdi untuk orang banyak yang merasakan berkuasa itu berat dan penuh ujian," demikian Gde Siriana.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya