Berita

Pesawat Zeppelin LZ-18 L-2 di Berlin Johannista/Net

Histoire

Zeppelin, 'Manusia Paling Bodoh Di Jerman' Hingga Menjadi 'Tokoh Jerman Paling Besar'

KAMIS, 02 JULI 2020 | 06:06 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gagasan adanya sebuah alat transportasi udara telah muncul sejak abad ke-16. Gagasan ini lahir karena impian akan adanya alat untuk bisa melintasi batas jarak menuju ke suatu negeri dengan cepat dan lebih mudah.

Orang-orang ketika itu menggunakan balon udara berbentuk cerutu raksasa. Sampai kemudian pada 1890-an seorang bangsawan mewujudkan harapan semua orang dengan sebuah pesawat yang dinamakan dengan nama belakangya, Zeppelin.

Ferdinand Adolf Heinrich August Graf von Zeppelin tidak pernah mengecap pendidikan di seolah seperti anak-anak pada umumya, karena dia adalah anak keturunan bangsawan. Ia belajar ada seorang guru privat. Baruslah pada usia 15 tahun, Zeppelin masuk sekolah politeknik di Stuttgart.


Ia lahir di Konstanz pada 8 Juli 1838,  dari  ayah yang Mengteri Wurttemberg dan Hormarschall, Friedrich Jerome Wilhelm Karl Graf von Zeppelin. Ibunya adalah Amrlie Francoise Pauline.

Pada 1855, dia menjadi pelajar di sekolah militer di Ludwigsburg. Kemudian, perwira tentara di Wurttemberg dan dipromosikan menjadi Letnan pada 1858.

Kariernya terus meningkat hingga pada 1865, dia terpilih sebagai ajudan Raja Württemberg dan perwira staf umum. Setelah kritik atas penanganannya terhadap brigade kavaleri Prusia, dia dipaksa untuk pensiun dari Angkatan Darat dengan pangkat Jenderal.

Zeppelin menjadi pengamat resmi Pasukan Uni selama Perang Sipil Amerika. Ia mengunjungi kamp balon Thaddeus SC Lowe. Kunjungan itulah yang menginspirasi minatnya pada aeronautika atau ilmu penerbangan.

Dalam catatan harian yang bertanggal 25 Maret 1874, dia menuliskan ide pertamanya tentang balon kemudi besar. Sebuah pesawat yang juga dapat digunakan dalam peperangan. Pada 1891, Zeppelin mulai fokus mewujudkan kapal udara itu dengan menyusun material dengan kerangka dari alumunium dan dibungkus dengan kain, mesin serta baling-baling udara.

Setelah banyak melewati masalah pendanaan, bahan yang tepat dan dukungan di pemerintahan, Zeppelin membangun pesawat udara pertamanya yang kaku, LZ 1, pada 17 Juni 1898.

Pada 2 Juli 1900, Zeppelin melakukan penerbangan pertama dengan LZ 1 di atas Danau Konstanz dekat Friedrichshafen di Jerman selatan. Orang-orang menyambut baik terciptanya pesawat terbang pertama ini. Sayangnya, penerbangan itu tidak sepenuhnya sukses dan  Zeppelin terpaksa menghentikan pekerjaannya untuk sementara waktu.

Kegagalan itu mendapat cibiran dari Kaisar Wilhelm II yang menyebutnya sebagai 'Manusia paling bodoh di Jerman selatan'.

Zeppelin tak menyerah. Ia membangun kapal udara kedua yang dibuatnya dengan bantuan Raja Wurttemberg. Tetapi, uji coba tidak memuaskan ditambah armada yang rusak oleh angin di malam hari dan harus dibongkar.

Pesawat berikutnya, LZ 3, merupakan pesawat buatan Zeppelin pertama yang sukses. Penerbangan pertamanya pada 9 Oktober 1906 bisa bertahan selama 25 jam. Kapal udara yang kemudian dikenal dengan nama Zeppelin itu awalnya disambut dingin oleh masyarakat. Namun, sejak itu, dia mudah untuk mendapatkan pendanaan.

Keberadaan pesawat Zeppelin membuka jalan bagi penerbangan Trans Atlantik dan membidani industri penerbangan sipil seperti yang kita kenal saat ini.

Sebelum Perang Dunia Pertama, total ada 21 pesawat Zeppelin yang berhasil dibuat. Asosiasi Penerbangan Jerman pun bisa mengangkut 37.250 orang di lebih 1.600 penerbangan tanpa adanya insiden.

Pada 1908 Kaisar Wilhelm II akhirnya menyadari kepandaiannya. Kaisar pun menyebut Graf Zeppelin sebagai; 'Tokoh Jerman paling besar abad ini' dan ikut mendorong produksi massal kapal udara.

Pasalnya Jerman yang mulai terseret Perang Dunia II membutuhkan alat perang untuk menjatuhkan bom dari udara. Sejak itu pula kota-kota besar Eropa seperti London menggunakan lampu sorot sebagai pertahanan udara.
Setelah Perang Dunia I industri penerbangan sipil mulai marak di Eropa.

Zeppelin terutama dipasarkan untuk penerbangan singkat di dalam negeri. Dengan kartu pos bernada patriotis semacam ini penyedia jasa penerbangan berusaha menarik minat warga Jerman.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Mafia Infrastruktur Diduga Kepung Menteri Dody Lewat Isu Miring

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:05

Menhan hingga Ketua Komisi I DPR Terima Brevet Korps Marinir

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:46

Ketimpangan Penduduk Meningkat, Gini Ratio Naik ke 0,368

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:22

Mahkamah Agung Diminta Evaluasi Ketua PN Jakarta Timur

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38

Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Ada Korban Jiwa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:31

Kader Golkar Wonosobo Ngadu ke DPP soal Dua Kali Musda

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:14

Di Balik Tribun Sunyi Piala Presiden, Puluhan Pecalang Jaga Harmoni El Clasico

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:09

Kisruh Diadukan ke Bahlil, Mafa Uswanas Diusulkan jadi Plt Ketum AMPI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:50

Pergeseran Public Goods Sektor Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:40

BRAINS Demokrat Kolaborasi Bareng IRI Perkuat Demokrasi Lintas Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:17

Selengkapnya