Berita

Tokoh masyarakat Bekasi Utara, Damin Sada, tak setuju dengan rencana pemekaran Kabupaten Bekasi.

Politik

Tolak Pemekaran Kabupaten Bekasi, Damin Sada: Emang Bekasi Utara Punya Apa?

KAMIS, 25 JUNI 2020 | 08:22 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Tidak seluruh masyarakat yang tinggal di Bekasi mendukung rencana pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Bekasi Utara dari Kabupaten Bekasi. Salah satu yang menolak adalah tokoh masyarakat Bekasi Utara, Damin Sada.

Kepada Kantor Berita RMOLJabar, Damin Sada menyebut untuk sekarang belum saatnya Kabupaten Bekasi dimekarkan menjadi dua wilayah. Sebab, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Menurut analisisnya, Kabupaten Bekasi belum siap untuk dilakukan pemekaran.

“Sebenarnya bukan wacana, ini sudah basi sebenarnya. Dengan adanya pemekaran ini patut diduga banyak oknum mencari keuntungan. Dulu pernah dibiayain oleh Pemda kurang dari satu miliar seharusnya itu duit buat jajak pendapat, bukan sosialisasi. Dulu satu-satunya orang yang menolak pemekaran cuma saya,” kata dia, Rabu (24/6).


“Alasannya, kalau ibarat orang tua punya anak, lalu anaknya berkeluarga, nih anak belum punya kerjaan, belum punya rumah, dia ingin pisah dari orang tuanya, kira-kira gimana tuh? Jadi gelandangan kan, nanti orang tua juga yang susah,” tambah pria yang juga menjabat Ketua Umum Jawara Jaga Kampung (Jajaka) Nusantara.

Dia juga meragukan kesejahteraan yang diiming-imingi jika memisahkan diri dari Kabupaten Bekasi. Sebab, tidak ada potensi yang dapat digali untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di utara Bekasi.

“Nah sekarang kalau mau misah, emang di utara punya apa? Oh punya minyak, minyak juga mau habis, itu BBWM aja mau bangkrut malah minta dibuat Hotel, dan nggak semuanya juga hasil minyaknya buat kita kan. Nah sekarang apa yang didapat dari utara, pantai? Emang mau pantai apa yang dikelola. Yang diambil apa? Dari rumah sawah yang diambil pajak PBB-nya? Lah itu juga nggak cukup,” ungkapnya.

Kemudian, bila Kabupaten Bekasi Utara jadi dimekarkan, maka secara otomatis kebutuhan pegawai negeri juga akan banyak. Namun, ia pun sangsi jika putra asli daerah yang akan direkrut.

“Nah pertanyaannya kalau siap, bakal butuh 2-3 ribu orang yang kerja di pemda, apakah itu bakal orang Bekasi asli, belum tentu. Mungkin kalau tahun 60-an bisa jadi PNS, lah sekarang mah nggak bakal bisa, yang ada malah bakal terjadi kecemburuan sosial,” jelasnya.

Untuk itu, Damin menduga orang yang bersikeras untuk memisahkan Kabupaten Bekasi menjadi dua layaknya orang Belanda yang ingin memecahbelah dengan metode Devide Et Impera. Dengan memanfaatkan situasi untuk keuntungan pribadinya dan jauh dari niatan untuk mensejahterakan masyarakat Utara.

“Jadi mau mekar secepatnya emang mau apa? Yang ada itu memecah belah orang Bekasi. Saya satu satunya yang menolak, yang lain pada bego nggak pernah melihat masalah. Diiming-imingi kita bakal begini begitu, kalau bisa jangan manisnya aja, pahitnya juga dikasih tahu. Kalau nggak ada penghasilan boro-boro ngebangun, gaji pegawai juga nggak cukup,” bebernya.

“Yang jelas, yang mau misah itu berarti Belanda Devide Et Empira, memecah belah, mau cari duit itu. Tahu nggak ada seorang kiai jadi korban, diiming-imingi jadi bupati sampai keluar 180 juta. Jadi kalau saya bilang ada oknum cari kesempatan, cari duit,” tambahnya.

Untuk itu, dia menantang kepada orang yang pro terhadap pemekaran untuk berdebat dengannya kaitan dengan kesejahteraan yang dijanjikan.

“Coba 100 orang yang pro lawan saya dah, ayo kita berdebat. Saya masih setuju gabung aja dengan Kabupaten Bekasi, jangan sok-sokan. Bakal sengsara nanti kalau misah itu, yang jelas kalau kita belum siap jangan dipaksain,” tandasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya