Berita

Direktur Eksekutif Center of Public Policy Studies (CPPS) Bambang Istianto/Net

Politik

Saran Bagi Presiden Jokowi Hadapi Isu Pemakzulan

KAMIS, 11 JUNI 2020 | 09:26 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Beberapa hari ke belakang merebak isu pemakzulan terhadap Presiden Joko Widodo, yang mulanya dilontarkan Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens.

Namun banyak kalangan menilai isu tersebut sulit terjadi. Salah satu pihak yang beranggapan sama adalah Direktur Eksekutif Center of Public Policy Studies (CPPS) Bambang Istianto.

"Meski ada wacana dari sejumlah elemen masyarakat terkait adanya pemakzulan Presiden Jokowi, namun bila dilihat dari kalkulasi kekuatan poltik yang ada saat ini sepertinya wacana itu sulit terwujud," ujar Bambang Istianto kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (11/6).


Dosen pascasarjana UPN Veteran Jakarta ini tidak memungkiri bahwa segala kemungkinan di dalam politik bisa terjadi. Apalagi jika melihat kritik-kritik yang muncul dari publik mengenai penanganan pandemik virus corona baru atau Covid-19 yang dikerjakan pemerintah.

Meski begitu, Bambang Istianto mengamati bahwa corak kekuasaan saat ini tidak memungkinkan Jokowi dimakzulkan.

"Karena infrastruktur dan suprastruktur politik praktis berada digenggamannya (Jokowi)," ucapnya.

Tapi untuk menghadapi isu kudeta yang muncul, Bambang Istianto menyarankan Jokowi agar menanggapinya dengan kepala dingin, tidak reaktif, apalagi dengan cara insinuasi.

"Akan tetapi dengan merangkul elemen-elemen kekuatan politik dengan elegan dan akomodatif, dipastikan lebih produktif," sebutnya.

Selain itu, kondisi kekuasaan pemerintah yang saat ini tampak power full bisa didayagunakan oleh Jokowi secara efektif, guna melakukan gerak cepat pemulihan ekonomi.

Pasalnya, Bambang Istianto mengamati bahwa faktor eksternal seperti perang dingin antara Amerika Serikat dengan China bisa mempengaruhi politik di dalam negeri.

Oleh karena itu, dia menyarankan agar pemerintah Indonesia bisa lebih cerdas memainkan politik bebas aktif. Sebab bukan tidak mungkin perang dingin dari kedua negara raksasa itu bisa memberi peluang bagi Indonesia memainkan autoritas teritorial di Selat Malaka.

"Sebagai kunci bergaining. Namun dengan tetap menjamin keuntungan dan kepentingan ekonomi dan poltik bagi Indonesia sebagai negara berdaulat. Karena itu, jika faktor internal dan eksternal bisa dikendalikan dengan seimbang maka upaya pemakzulan dapat dieliminir," pungkasnya. 

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya