Berita

Ekonom senior Faisal Basri (tengah atas) saat mengisi diskusi virtual/Repro

Politik

Faisal Basri: Semakin Marak Korupsi, Pertumbuhan Ekonomi Cenderung Makin Turun

SELASA, 09 JUNI 2020 | 19:49 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Korupsi merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan turunnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh ekonom senior, Faisal Basri saat menjadi narasumber webinar dengan judul "Memahami Oligarki, Aspek Ketatanegaraan, Ekonomi Dan Politik Pemberantasan Korupsi" yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Jadi kalau kita lihat semakin marak korupsi, semakin cenderung turun pertumbuhan ekonomi itu. Kita lihat pertumbuhan ekonomi turun 8,7,6,5 ya," ucap Faisal Basri, Selasa (9/6).


Karena kata Faisal, semakin kuat tindakan korupsi dan semakin kuat para oligarki di Indonesia, maka dampak negatifnya ialah terhadap menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Faisal pun menyinggung pernyataan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko yang menyebut bahwa KPK merupakan penghambat investasi, sehingga harus dilemahkan.

"Ada yang bilang ini saya sebut nama aja lah ya, Pak Moeldoko dan Ketua Umum Kadin mengatakan KPK itu penghambat investasi. Oleh karena itu harus dilemah kan. Enggak bener, justru investor yang datang itu akan sangat berkualitas kalau korupsinya kecil," kata Faisal.

Karena kata Faisal, korupsi merupakan satu hal yang dikeluhkan oleh investor asing. Sehingga investasi asing tidak mau datang ke Indonesia karena tidak mau berinvestasi atau bermain kotor saat berinvestasi.

"Nah karena apa, karena untuk menghasilkan satu barang itu saya kalau di Indonesia butuh investasi lebih besar. Karena harus nyogok kiri kanan, yang saya sogok bukan Golkar dizaman orde Baru, yang saya sogok harus berbagai partai. Kekuatan tidak terkonsentrasi. Satu oligarki atau satu penguasa atau satu patron enggak cukup melindungi kekuasaan saya," terang Faisal.

"Nah jadi tercermin dari investor takut karena kalau investasi di Indonesia niscaya dia tidak bisa bersaing di pasar global karena kalah dengan investor di negara lain yang tidak ada korupsi, yang ekonominya efisien sehingga harganya bersaing," sambung Faisal.

Sehingga kata Faisal, investor asing yang masuk ke Indonesia semakin banyak yang berorientasi pasar dalam negeri yang tidak ada persaingan dari global.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya