Berita

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono/Net

Politik

Petinggi Gerindra: Konspirasi, Indonesia Jangan Sampai Terjebak Propaganda China Soal Corona

SENIN, 08 JUNI 2020 | 14:59 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Konspirasi China dalam masalah pandemik virus corona baru atau Covid-19 membuat perekonomian global mengalami krisis.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono, mengatakan, China dalam Covid-19 memainkan propaganda untuk melakukan shut down ekonomi dunia dengan cara propaganda penyebaran Covid-19 bersama WHO.

China melakukan lockdown di salah satu provinsi yang menjadi pusat ekonomi China untuk menciptakan ketakutan negara negara lain, yang akhirnya ikut melakukan kebijakan yang sama dengan China yaitu melakukan lockdown, PSBB dan lain-lain.


"Hal ini dikuatkan dengan hanya satu saja kota industri di China yang dilockdown, dan tidak semua kota-kota industri seperti Guang Zhou, Shang Hai dan Beijing tidak dilakukan lockdown," terang Arief Poyuono, Senin (8/6).

Adapun dampaknya dengan negara-negara lain mengikuti propaganda China yang sudah menciptakan ketakutan dengan virus corona, dengan melakukan lockdown dan PSBB.

Menurut Arief Poyuono, ada keganjilan jika dibandingkan dengan kasus pandemik Avian Flu, SARS dan MERS yang pernah terjadi yang tidak kalah ganasnya dengan Covid-19. Tidak ada satu negara pun atau negara Hongkong yang menjadi pusat Avian Flu melakukan kebijakan lockdown.

"Sama, vaksin dan obat avian flu pun butuh waktu lama untuk ditemukan," imbuh bawahan Ketum Gerindra Prabowo Subianto ini.

Dengan kebijakan lockdwown ataupun PSBB sudah dipastikan berpengaruh besar terhadap aktivitas perekonomian negara, dimana komsumsi menurun, produktivitas menurun, investasi menurun, sehingga menyebabkan kekacauan pasar keuangan. Serta pemerintah harus menambah anggaran pengeluaran untuk menjamin kebutuhan masyarakat akibat dampat lockdown dan PSBB.

"China memainkan penyebaran virus corona dengan mengunakan strategi playing victim, yaitu teknik memposisikan diri sebagai korban atau orang yang terluka demi mengelabui musuh dan lingkungan," ujar Arief Poyuono.

Taktik tersebut ditulis oleh Sun Tzu, yang berbunyi: "Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh. Masuk pada jebakan dan jadilah umpan. Berpura-pura terluka akan mengakibatkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, musuh akan bersantai sejenak oleh karena dia tidak melihat anda sebagai sebuah ancaman serius. Yang kedua adalah jalan untuk menjilat musuh anda dengan berpura-pura luka oleh sebab musuh merasa aman.

Dengan membuat musuh terkelabui, lanjut Arief Poyuono, otomatis akan lebih leluasa untuk menyerang karena mereka sedang lalai. Dalam peperangan, menyerang musuh dalam keadaan santai akan terasa jauh lebih mudah, karena musuh berada dalam posisi belum mempersiapkan strategi apapun.

"Nah, sekarang sudah jelas dimana China sengaja melakukan strategi tersebut untuk mendominasi kekuasaan perekonomian dunia, dan melawan Amerika Serikat," ungkap Arief Poyuono.

Karena itu, Indonesia disarankan jangan sampai terjebak dengan propaganda China yang memainkan strategi playing victim dengan terus merasa ketakutan dengan pandemik Covid-19, dan melakukan kebijakan PSBB. Karena itu, peraturan pemerintah tentang PSBB harus dicabut dan segera berlakukan new normal.

Seperti rakyat kecil yang tidak takut dan masa bodo dengan Covid-19 dalam mencari nafkah. Lihat sana di Jakarta dan kota lain PSBB dilakukan, tapi mereka tetap mencari penghidupan.

"Ketakutan harus terhadap Covid-19 dan tetapi dampak ketakutan yang telah menyebabkan kehancuran ekonomi bukan berarti kita tidak waspada, dan pakai nalar membaca situasi perang ekonomi China dengan Amerika Serikat," demikian Arief Poyuono.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya