Berita

Ilustrasi

Publika

Mengapa Rupiah Menguat (Sementara)?

MINGGU, 07 JUNI 2020 | 22:31 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

TIDAK ada yang istimewa dengan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS belakangan ini. Yang terjadi adalah pergerakan Rupiah hanya mengikuti tren dunia.

Karena faktanya selama 1 bulan terakhir terjadi pelemahan mata uang Dollar Amerika Serikat (USD) terhadap mata -mata uang kunci Dunia, seperti Euro (EUR), Poundsterling (GBP), Dollar Australia (AUD), dan Singapura Dollar (SGD).

Semakin panasnya situasi politik dalam negeri AS (Black Live Matters) dalam 1 bulan terakhir juga menyebabkan dollar AS (USD) ikut melemah terhadap  mata-mata uang negara tetangga kita di ASEAN, di luar Singapura. Sebut saja terhadap Ringgit Malaysia (MYR), Bath Thailand (THB), dan bahkan Filipina (PHP).


Selain itu, yang menyebabkan Rupiah perkasa belakangan adalah karena “doping” pinjaman dalam mata uang dollar AS , yang dilakukan selama 2 bulan terakhir yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan dan BUMN-BUMN.

Seperti diketahui, realisasi penerbitan surat berharga negara (SBN) hingga Mei 2020 oleh Kemenkeu adalah sebesar Rp 420,8 triliun. Ini termasuk Global Bond yang diterbitkan Kemenkeu pada April 2020 sebesar USD 4,3 miliar.

Pada Mei 2020, empat BUMN dikabarkan sudah dan sedang mempersiapkan penerbitan global bond dengan nilainya mencapai USD 5,6 miliar. Jadi total Global Bond yang diterbitkan oleh Kemenkeu dan BUMN mencapai USD 10,9 miliar (Rp 162 triliun, kurs April 2020 Rp 14.900/USD).
Penerbitan SBN dengan bunga tinggi ini (1,5-2% di atas Filipina dan Vietnam, sangat tidak wajar!) akan menjadi bom waktu di masa depan, karena beban bunga akan semakin besar sehingga membebani APBN di masa-masa mendatang.

Yang juga signifikan adalah support dari Bank Indonesia yang dilakukan untuk menahan nilai tukar Rupiah. Seperti diketahui, Bank Sentral telah membeli SBN yang dilepas asing di pasar sekunder sebesar Rp 166,2 triliun pada April 2020. Ini adalah bagian dari total stimulus BI sebesar Rp 503 triliun untuk menjaga kestabilan sistem keuangan di tengah resesi akibat Pandemi Corona.

Penguatan Rupiah ini hanya sementara, karena indikator eksternal ekonomi yang lebih fundamental dalam menyangga mata uang, yaitu neraca perdagangan, transaksi berjalan, dan neraca pembayaran, tetap mengalami defisit.

Pada bulan April 2020 BPS mencatat ekspor Indonesia sebesar USD 12,19 miliar. Nilai ini anjlok 13,3% bila dibandingkan bulan Maret 2020, dan anjlok 7% bila dibandingkan dengan April 2019. Sementara impor pada bulan April adalah sebesar USD 12,54 miliar. Nilai ini turun 6,1% bila dibandingkan bulan lalu. Secara total pada bulan April 2020 Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar USD 350 juta.

Adapun indikator eksternal seperti transaksi berjalan pada kuartal I-2020 (Jan-Maret) tercatat masih defisit USD 3,9 miliar. Sementara neraca pembayaran (balance of payment/BOP) pada periode yang sama juga mengalami defisit USD 8,5 miliar (sangat buruk bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 ketika BOP meraih surplus USD 2,4 miliar!).

Kesimpulannya  penguatan Rupiah saat ini hanya akan sementara. Karena penguatannya yang mengikuti tren pelemahan dollar AS dan ditunjang doping dari Kemenkeu, BUMN, dan BI hanyalah artifisial belaka.   Saat pasar menyadari fundamental ekonomi Indonesia yang lemah, yang kondisinya akan tetap begini hingga akhir 2020, maka situasi akan berbalik.

Penulis adalah Analis dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat


Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Prabowonomics dalam Desain APBN 2027

Kamis, 20 Agustus 2026 | 04:17

BRI KKB National Expo 2026 Hadir di 131 Lokasi dan Torehkan Rekor MURI

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:48

Sikap Amien Rais Makin Plinplan dan Mirip Sengkuni

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:14

PBB Dorong PT Timah Serap Hasil Timah Masyarakat Bangka Belitung

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:45

Truk Karnaval Kementerian PU Hadirkan Pesan Gotong Royong dan Kerja Nyata

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:16

Pernyataan Agus Burate soal 5 WN China di Tambang Emas Dibantah Keluarga

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:42

Jalan Harmoni, Potret Toleransi di Jantung George Town

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:37

Sindikat Meterai Palsu yang Bikin Negara Boncos Rp1 Triliun Dibongkar Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:21

Komisi V DPR Usul Kapal Penumpang dan Pengangkut Barang Dipisah

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:59

Jampidsus Diminta Terbitkan Sprindik Baru Kasus Jiwasraya dan Asabri

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:35

Selengkapnya