Berita

Gde Siriana Yusuf/Net

Politik

New Normal Harus Priotitaskan Kesehatan, Gde Siriana: Kalau Masyarakat Sakit, Siapa Yang Beli Hasil Produksi?

JUMAT, 05 JUNI 2020 | 15:12 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat akan kembali normal dalam bingkai tatanan kehidupan yang aman Covid-19 atau new normal.

Kebijakan ini pun tengah menjadi sorotan banyak pihak, tak terkecuali oleh Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS) Gde Siriana Yusuf.

Pemerintah menurutnya, tidak bisa langsung menerapkan new normal, tanpa memiliki dua prinsip dasar terkait pencegahan dampak lanjutan dari pandemik Covid-19.


"Intinya itu ada dua prinsip. Pertama keseimbangan antara kesehatan dan produksi kerja, kedua prioritas anggaran untuk perkuat kesehatan," ujar Gde Siriana Yusuf kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (5/6).

Di dalam prinsip yang pertama, Gde Siriana menjelaskan, bahwa pemulihan ekonomi masyarakat yang produktif mesti dijamin berlangsung secara baik oleh pemerintah. Dalam arti, negara wajib memastikan seluruh sektor kesehatan untuk penanganan Covid-19 disiapkan dan diperkuat.

"Untuk memulihkan produksi, masyarakat harus merasa yakin dan aman bahwa jika ada orang yang sakit akan diurus negara dengan baik," tuturnya.

Mantan Anggota DPR RI ini menyebutkan, sejumlah aspek yang mesti dipenuhi pemerintah untuk menjaga kesehatan masyarakat dan produksi masyarakat di era new normal nanti.

"Perkuat sektor kesehatan. Ini membutuhkan RS, tempat perawatan, ICU, obat dan tenaga medis yang memadai. Dengan demikian orang tenang untuk produktif kerja lagi," ungkapnya.

Jika pemerintah tidak bisa meyakinkan masyarakat tentang persiapan jelang new normal tersebut, maka bukan tidak mungkin masyarakat tidak merasa aman.

Gde Siriana pun berasumsi bahwa imbas dari hal itu adalah perekonomian yang akan jeblok kembali.  

"Orang juga enggak berani beraktivitas keluar rumah. Artinya produksi kerja turun, konsumsi turun, belanja dan jalan-jalan juga turun. Ekonomi juga engak bergerak," imbuhnya.

Oleh karena itu, Board Member of Bandung Innitiaves Network ini meminta pemerintah untuk putar otak mencari anggaran untuk memperkuat sistem kesehatan masyarakat di Indonesia.

Dia juga meminta pemerintah prioritaskan anggaran untuk pengobatan dan perkuat kesehatan. Jangan hanya mau produksi jalan, tapi masyarakat yang sakit tidak tertangani baik.

"Jika masyarakat banyak sakit atau mati nantinya, siapa yang mau beli barang produksi?" tegasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya