Berita

Ilustrasi perbatasan India-China/Net

Dunia

Pakar Militer India Klaim Pertikaian Di Perbatasan Kali Ini Terkait Isu Pandemik, China Kehilangan Daya Ungkitnya

SENIN, 01 JUNI 2020 | 09:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pertikaian di perbatasan China-India yang terjadi pada 5 Mei lalu di di Lembah Galwan di wilayah tinggi Ladakh, kemudian berlanjut di jalur gunung Naku La di Sikkim timur laut tiga hari kemudian, menyebabkan kebuntuan militer dan diplomatik di antara dua negara itu.

Ribuan tentara di kedua sisi berkemah di sepanjang Line of Actual Control (LAC) yang tidak dibatasi, sejak peristiwa pertikaian.  

Pertikaian perbatasan antara India dan China sudah sangat sering terjadi. Sejak 1962, dua negara itu berselisih sehingga menimbulkan apa yang disebut Perang Sino-India. Pertikaian di perbatasan telah dibahas berulangkali di tingkat diplomatik dunia selama tujuh dekade terakhir.


Namun, pertikaian kali ini dianggap sebagai batas kebuntuan. Para ahli percaya tidak mudah menyelesaikan pertikaian kali ini, yang jauh berbeda dengan saat sebelumnya ketika pertikaian muncul Depsang pada 2013, Chumur pada 2014, dan Doklam pada 2017.

“Insiden terisolasi telah terjadi di masa lalu karena area abu-abu yang tidak ditentukan di LAC. Namun, kali ini berbeda karena tentara Tiongkok telah menggali dan duduk di berbagai daerah yang disengketakan,” kata pensiunan Jenderal Ved Prakash Malik, mantan kepala militer yang memimpin pasukan India selama Perang Kargil 1999, seperti dikutip dari Anadolu, Minggu (31/5).  

Perdana Menteri Narendra Modi mengadakan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Rajnath Singh, Penasihat Keamanan Nasional Ajit Doval, Kepala Staf Pertahanan Jenderal Bipin Rawat, dan tiga kepala layanan untuk membahas kesiapan militer.

Namun, para pakar militer India menduga ada hubungan antara kesalahan penanganan China terhadap pandemik Covid-19 dan serangan militer terbaru ke wilayah Ladakh itu, yang mengakibatkan pertempuran antara pasukan.

Mantan direktur jenderal operasi militer (DGMO), Letjen Vinod Bhatia, menyebut China tengah mengumpulkan kekuatannya untuk jangka panjang.

“Pelanggaran adalah kejadian normal, dengan sekitar 350 terjadi setiap tahun. Tetapi yang berbeda kali ini adalah intensitas, ruang lingkup, dan sifat kegiatan mereka secara simultan. Oleh karena itu serangan yang sedang berlangsung merupakan penyebab kekhawatiran. Indikator awal menunjukkan bahwa PLA [Tentara Pembebasan Rakyat] sedang mempersiapkan untuk jangka panjang,” kata Bhatia.

"Secara global, China kehilangan daya ungkitnya karena diyakini telah menyebabkan pandemik. Industri sedang mencari cara untuk keluar dari China. Ini menyebabkan China mengalihkan perhatian dari situasi Covid-19," ujar Bhatia.

Dia mengatakan dunia pasca-Covid-19  akan menjadi peluang besar bagi India, karena titik pusat kekuatan akan bergeser dari Barat ke Timur.

India telah bergabung dengan protes global untuk menyelidiki asal-usul virus corona dan kemudian pembangunan pos militer di pihaknya LAC memicu insiden itu.

Pada tahun 2022, India berencana untuk membangun 66 jalan di sepanjang perbatasan China dan meningkatkan infrastrukturnya.

Mantan Panglima Angkatan Darat itu mengatakan bahwa promosi impian China oleh Presiden Xi Jinping, di mana ia ingin menjadikan China negara adikuasa baik dari segi militer maupun ekonomi mungkin telah memperburuk serangan itu.

“Masalah ini sangat panjang. Pembicaraan militer-ke-militer belum berhasil, para diplomat sekarang sedang membahas masalah ini. Kami tidak dapat mengesampingkan bahwa para politisi mungkin harus terlibat,” kata Malik.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya