Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Dongeng Etimologi Imlek

SABTU, 30 MEI 2020 | 08:19 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAMBIL bertapa di dalam rumah akibat pageblug corona, saya mencoba menggali kembali beberapa logi yang sempat saya gagas.

Termasuk humorologi yang menegaskan bahwa humor yang berbahaya adalah lelucon beraroma politik.

Namun sebenarnya pada kenyataan, humor yang paling berbahaya adalah lelucon beraroma SARA.


SARA

Humor SARA senantiasa rawan tafsir-ganda yakni lucu dan tidak lucu.

Humor etnis lazimnya terkesan lucu bagi yang bukan tergolong etnis yang menjadi sasaran humor.

Sebaliknya humor yang sama lazimnya terkesan tidak lucu bagi yang kebetulan etnisnya sama dengan yang menjadi sasaran humor.

Tafsir-ganda terhadap humor analog tafsir-ganda terhadap karya seni.

Sebuah karya seni dinilai indah oleh pihak yang kebetulan memiliki selera estetika sama dengan pihak yang membuat karya seni tersebut.

Sebaliknya karya seni yang sama rawan dinilai sebagai sama sekali tidak indah oleh pihak yang kebetulan memiliki selera estetika beda dari sang permbuat karya seni.

Bagi saya yang fanatik carnivorawan, sate ayam sangat lezat rasanya. Sangat beda selera dengan sahabat saya yang pejuang kemanusiaan, Mbak Sri Palupi yang fanatik vegetarian.

Imlek

Contoh lelucon beraroma SARA adalah misalnya lelucon etimologi istilah Imlek.

Sebelum prahara corona, kebetulan saya sempat mempelajari latar belakang istilah Imlek yang tampaknya tidak digunakan oleh masyarakat RRChina, Taiwan, Hongkong, Singapura, Vietnam, Jepang dll.

Hanya masyarakat Indonesia yang mengenal istilah Imlek.

Secara kebetulan pula sahabat saya yang suku Menado merangkap tokoh pemusik Kulintang sempat menggoyang panggung Sydney Opera House, Rama Tirta berbagi sebuah dongeng mengenai  asal-muasal kata Imlek diambil dari yang beredar di kawasan medsos jaman now sebagai berikut:

Konon

Konon sekali lagi konon, alkisah pada jaman dahulu kala untuk pertama kali datanglah rombongan saudagar dari China mendarat di Batavia. Mereka turun dari kapal.

Dari kejauham, masyarakat Betawi melihat para saudagar itu bermata sipit. Maka masyarakat Betawi bilang "Kok merem ya?".

Tetapi setelah dekat mereka baru sadar, ternyata para saudagar itu sama sekali tidak merem. Maka serentak orang-orang Betawi pada saat itu berkata "Ih melek...ih melek". Maka lahirlah istilah Imlek.

Tiada Niat Buruk

Dongeng sekali lagi dongeng Betawi itu hanya ingin secara humoristis mendongeng tentang asal-usul kata Imlek yang tentu sama sekali bukan merupakan kenyataan.

Sebagai pendiri Perhimpunan Pencinta Humor sepenuhnya saya menganggap dongeng itu sekedar suatu kreasi humor tanpa niat buruk apa pun.

Namun belum tentu semua teman-teman yang juga kebetulan seetnis dengan saya menganggap lelucon asal-usul Imlek itu lucu.

Bahkan mungkin ada (tidak semua) yang ingin melaporkan Rama Tirta dan saya ke polisi atas dugaan kriminal menyebar lelucon SARA yang melukai perasaan masyarakat etnis tertentu.

Namun jika diperbolehkan, saya berani menjamin bahwa mas Rama Tirta sama sekali tidak berniat menista etnis tertentu.

Saya kenal beliau sebagai sesama warga Indonesia yang sama sekali tidak rasis. Sementara saya juga tidak berniat buruk dalam menampilkan dongeng lelucon asal-usul Imlek sekedar sebagai sebuah contoh humor yang rawan tafsir-ganda.

Kebetulan pula saya sendiri tergolong etnis bermata sipit maka mustahil saya berniat melukai perasaan diri saya sendiri.

Insya Allah, dalam suasana saling memaafkan masih pada masa Lebaran ini, penjelasan saya dapat dimengerti lalu dimaafkan oleh pihak yang merasa tersinggung oleh dongeng etimologi Imlek versi Betawi. Terima kasih.

Penulis adalah pendiri Perhimpunan Pencinta Humor.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya