Berita

Para pengrajin keramik/Net

Bisnis

Stimulus UMKM Terdampak Covid-19 Tidak Sampai Ke Akar Rumput, Pemerintah Harus Segera Perbaiki Data

JUMAT, 22 MEI 2020 | 20:38 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Kucuran dana pemulihan ekonomi sebesar Rp 125 Triliun akibat pandemik virus corona baru (Covid19) dinilai belum menyentuh sasaran. Terutama kelompok Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) yang terdampak Covid-19.  

Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, Athor Subroto menjelaskan bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi negara. Selama ini UMKM memberi berkontribusi sebesar 70-80 persen terhadap produk domestik bruto.

Athor meminta semua pihak mendorong pemerintah agar benar-benar memperhatikan keberlangsungan UMKM, apalagi di masa pandemik seperti saat ini.


"UMKM biasanya kebal krisis, pada tahun 1998, 2000, 2008 yang terhebat 98, tetapi saat wabah Covid saat ini UMKM benar-benar terpukul, tidak ada yang menyangka ada Covid-19 seluruh sektor ekonomi lumpuh," demikian kata Athor, Jumat (22/5).

Narasumber lain, Ketua Kopitu, Yoyok Pitoyo mengungkapkan temuan di lapangan bahwa program dan anggaran yang disiapkan pemerintah untuk menjangkau UMKM tidak berjalan sesuai tujuan.  

Kata Yoyok, saat Presiden Jokowi menyatakan sudah menyiapkan dana stimulus ekonomi, ia justru mendapatkan laporan dari anggota kelompoknya harus berhadap-hadapan dengan  debt collector karena pembayaran kreditnya yang macet.

Berdasarkan temuan di lapangan, pelaku UMKM di Indonesia belum terdata dengan baik. Akibatnya, para pelaku UMKM yang benar-benar terdampak Covid-19 justru lepas dari berbagai program pemerintah.

 "Masalah pendataan belum ada follow up, dari pendataan satupun para UMKM tidak ada yang menerima bantuan tunai langsung, padahal sangat diharapkan. Kalau mekanisme di luar negeri pendataan  UMKM di Amerika, Australia, Selandia baru cukup 5 menit SIUP sudah keluar, tidak lama proses adminstrasi. Begitu menginjak masa pandemik para pemerintah di sana tidak usah teriak-teriak sudah tertangani," demikian keluh Yoyok.

Yoyok bahkan khawatir dana program stimulus bagi UMKM yang mencapai triliuan rupiah itu dimanfaatkan oleh para penumpang gelap yang menguasai sistem dan tata kelola bantuan keuangan pemerintah untuk UMKM.  Ia menyinggung penerbitan PP 23/2020 yang dikeluarkan pemerintah. Ia mengaku khawatir program pembiayaan tanpa jaminan itu justru menguntungkan kelompok usaha besar.

 "UMKM kalau mau dapat LPDB  harus RAT 2 tahun, ada jaminan, di PP 23/2020 ini jaminan sudah nggak ada, itu bagi bankable dan tidak bankable nggak ada jaminan. Jangan sampai dana Rp 125 T nggak sampai, ada penumpang gelap yang memanfaatkan dana itu," tambah Yoyok.

Dewan Pembina Simac, Syauqi Ma'ruf Amin, merespons berbagai masalah yang muncul saat diskusi. Menurut Syauqi, pandemik Covid-19 ini adalah momentum untuk melakukan perbaikan tata kelola UMKM di Indonesia, baik pemerintah maupun pelaku usaha harus menjadi mitra strategis.

"Kita harus selalu siap adaptasi, untuk mengokohkan basis ekonomi bangsa ya dengan UMKM. Secara makro UMKM bisa sinergi secara utuh, Simac mengharapkan mendorong ini bisa kita lakukan. Membangun kedaulatan ekonomi tidak akan terwujud kalau dibasis ekonomi daerah tidak kuat, bagaimana roda-roda kecil ekonomi ini bergerak. kita lakukan bersama dengan  prinsip gotong royong," demikian pendapat Putra Wapres RI ini. ,

Sementara itu, Presiden Direktur Simac, Nur Rohman menyatakan, sebagai kelompok katalisator para pelaku santri enterpreneur, pihaknya sengaja mengadakan diskusi daring yang bertema UMKM ditengah pandemik Covid-19.

Menurut Gus Rohman -sapaan akrabnya- ide dasar pendirian Simac adalah menjalankan konsep besar Wapres RI, Kiai Ma'ruf Amin tentang konsep arus baru ekonomi Indonesia. Konsep dimana menguatkan yang lemah tanpa harus melemahkan yang kuat.

Simac, tambah Gus Rohman ingin menjadi solusi dalam menjawab disparitas penguasaan ekonomi yang dikuasai oleh kapitalis besar. Simac sebagai wadah santri yang bergerak di dunia enterprenur akan berusaha menjadi fasilitator akses modal dan pelatihan pengembangan usahanya.

"Simac sebagai katalisator gerakan ekonomi santri, menjadi asilitator untuk akses permodalan dan ini sudah  dilakukan di beberapa tempat seperti Bandung,  Lampung, Pasuruan, dan lainnya. Kita tidak hanya akses pelatihan tetapi akses pasar sekaligus advokasi seperti pelatihan dan pendampingan bagi pengusaha baru," pungkasnya.

Populer

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

UPDATE

ANTAM Salurkan Ratusan Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Operasional

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:11

Purbaya Tak Tahu Menahu Anggaran Rp100 Miliar untuk Sapi Kurban Prabowo

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:10

Matahari Tepat di Atas Ka’bah pada 27-28 Mei, Momen Cek Arah Kiblat

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:02

Erdogan Serukan Solidaritas untuk Gaza dalam Pesan Iduladha 1447 H

Rabu, 27 Mei 2026 | 14:02

Menkes Ungkap Penyebab Kolesterol Naik Setelah Makan Daging Kambing

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:57

Warga Pati Jadi Korban Penipuan Masuk Akpol Bayar Rp1,5 Miliar

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:37

Politisi PDIP Minta Indonesia Serius Tangani Regulasi Soal AI

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:25

Putusan MK Momentum Benahi Kaderisasi Politik Perempuan

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:20

Bandar Sabu Ngamuk saat Ditangkap, Polisi Kena Tusuk

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:15

Arus Kendaraan Melonjak Hampir 9 Persen, Jalur Trans Jawa-Bandung Paling Padat

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:11

Selengkapnya