Berita

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay/Net

Politik

Sebelum Berdamai, Pastikan Terlebih Dahulu Mata Rantai Corona Sudah Terputus

KAMIS, 21 MEI 2020 | 11:57 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pemerintah mesti melakukan upaya konkret jika benar-benar mengajak masyarakat untuk berdamai dengan cara hidup berdampingan bersama Covid-19.

Sebab, ajakan berdamai dengan Covid-19 versi Presiden Joko Widodo belum jelas karena tidak sesuai data dan fakta di lapangan bahwa wabah Covid-19 masih terus mengalami peningkatan kasus.

Demikian disampaikan anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (21/5).


"Harus ada upaya-upaya konkret dari pemerintah untuk mewujudkan apa yang disebut dengan berdamai Covid-19 versinya Presiden itu. Itu kan nggak jelas itu," kata Saleh Daulay.

Wakil Ketua Fraksi PAN DPR RI ini mengurai, upaya konkret yang mesti dilakukan pemerintah antara lain, pemerintah harus memastikan terlebih dahulu bahwa virus corona ini sudah bisa terputus mata rantainya.

"Misalnya dengan PSBB yang diperketat. Kemudian jangan mudik, larangan menghadiri kerumunan dan lain-lain yang sudah ditetapkan pemerintah. Jadi jangan kendor, jangan direlaksasi dulu itu," tegas Saleh Daulay.

Selain itu, lanjut Saleh Daulay, pemerintah harus berupaya keras untuk mencari vaksin dari virus corona terlebih dahulu sebelum menyatakan berdamai dengan Covid-19.

Sebab, sebagaimana kritikan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa ajakan berdamai dengan Covid-19 pada saat ini diyakini akan menimbulkan masalah baru atau kematian semakin banyak.

"Nah, kalau nanti sudah ada vaksinnya barulah kita mudah untuk berdamai. Kalau misalkan belum ada vaksin bagaimana kita mau mengatakan damai? Sementara virusnya terus berkembang. Itu kan berbahaya," demikian Saleh Daulay yang juga mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya