Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Ekspor China Meningkat 3,5 Persen Di Tengah Pandemik

JUMAT, 08 MEI 2020 | 06:57 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

China masih saja menunjukkan kehebatan perdagangannya. Di tengah pandemik Covid-19, secara mengejutkan tingkat ekspor China meningkat pada April 2020. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pengiriman yang kuat ke wilayah Asia Tenggara. Namun, saat bersamaan China mengalami penurunan impor sebesar dua digit.

Pabrik-pabrik di China berpacu mengejar kerugian selama wabah corona. Berdasarkan data China General Administration of Customs atau Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok, ekspor China dalam dolar AS pada bulan April meningkat 3,5 persen secara year on year (yoy), seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (7/5).

Data ekspor menunjukkan bahwa kenaikan pengiriman ke Asia Tenggara mendorong kinerja yang lebih baik dari perkiraan analis.


Pengiriman ke ASEAN naik 3,5 persen dalam empat bulan pertama tahun ini. Ekspor ke Uni Eropa turun 6,6 persen, dan ke Amerika Serikat (AS) turun 15,9 persen.

Impor perdagangan China turun 14,2 persen yoy sehingga neraca dagang Tiongkok surplus 45,3 miliar dolar AS di bulan keempat tahun ini.

Turunnya impor dikhawatirkan menandakan masalah di masa depan, di mana ekonomi global diperkirakan tenggelam ke dalam resesi. Jatuhnya permintaan global dan meningkatnya angka pengangguran kemungkinan membatalkan permintaan selama beberapa bulan mendatang.

Padahal, para ekonom sebelumnya memperkirakan ekspor akan menyusut 11 persen dan impor akan berkontraksi sebesar 10 persen.

Pemberlakuan  lockdown yang terjadi di berbagai negara sebagai pencegahan penularan virus corona membebani pesanan dan mengganggu rantai pasokan.

Raymond Yeung, kepala ekonom China di ANZ Banking Group di Hong Kong mengatakan, penurunan impor China didorong oleh penurunan harga komoditas. Sedangkan ekspor April mencerminkan permintaan yang tertunda dari pesanan ekspor sebelumnya untuk produk elektronik.

"Work from home global juga diharapkan berkontribusi terhadap produk elektronik konsumen tertentu. Namun, angka ini bukan pertanda baik untuk hubungan perdagangan AS-China. Pemerintahan Trump pasti akan mendesak untuk lebih maju," jelas Raymond.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya