Donald Trump Dalam Sebuah Wawancara di Lincoln Memorial/Net
. Perlakuan media terhadap seorang presiden kadang dirasakan begitu buruk dan pers seringkali menyerang dengan pertanyaan tajam seperti memusuhi. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut pers memperlakukannya dengan tidak baik.
Dalam sebuah wawancara, Trump membandingkannya dengan Abraham Lincoln, presiden era Perang Saudara yang dibunuh pada 1865.
“Saya disambut oleh pers yang bermusuhan, yang belum pernah dialami oleh presiden manapun. Yang paling dekat mengalami perlakuan ini adalah orang di sana itu,†Trump menunjuk patung besar Presiden Lincoln, di dekatnya. Ia dalam sesi wawancara dengan televisi yang disiarkan Minggu malam dari Lincoln Memorial di Washington, seperti dikutip dari CNN, Selasa (5/5).
Trump mengatakan, "Saya yakin saya diperlakukan lebih buruk daripada Lincoln."
Penilaian Trump tentang 'sering dimusuhi' media berita nasional itu dipicu pertanyaan tajam seorang pensiunan perawat dan guru pembimbing sekolah dasar. Ia memuji Trump atas "pengabdiannya yang besar pada negara" tetapi mempertanyakan caranya menyampaikan sesuatu dengan menggunakan kata-kata deskriptif yang bisa digolongkan sebagai intimidasi.
Trump, yang sama seperti Lincoln yaitu berasal dari Partai Republik, menyerang wartawan karena dia nilai pertanyaan itu 'memalukan'.
Dengan nada sinis Trump menyerang sang wartawan sembari mengatakan bisa jadi para awak media pada umumnya berasal dari Partai Demokrat, lawan politik sang presiden yang tengah galau tersebut.
Ini bukan kali pertama Trump membandingkan dirinya dengan Lincoln. Pada tahun lalu, catatan tweet-nya memperlihatkan ia menulis hal yang saat memberi tanggapan atas pernyataan lawan-lawannya, Trump menyatakan bahwa dialah presiden yang paling banyak mendapat perlakuan lebih buruk sejak era Lincoln.
Saat itu, pernyataan Trump terhadap Lincoln memicu reaksi dari para pendukung dan lawannya.
Sebagaimana kali ini banyak yang mengeluh atas pernyataan Trump itu.
Brad Meltzer dan Josh Mensch, keduanya adalah penulis dan pengamat politik, menuliskan opininya dalam artikel yang dimuat di
CNN, Selasa (5/5).
Pada saat krisis nasional, publik sangat membutuhkan kepemimpinan. Dengan negara yang terpecah secara politik dan menghadapi pandemik yang mematikan, rakyat membutuhkan kompetensi dan visi pada tingkat tertinggi.
"Masa depan kita tergantung padanya," tulis mereka.
Sejarah juga menantang pendapat Trump, karena pada kenyataannya, karakter Lincoln ditunjukkan sebagai sosok rendah hati, mencela diri sendiri, dan ramah terhadap mereka yang menyerangnya. Dia tidak menghina lawan-lawannya, malah merangkulnya. Lincoln selalu bersikeras bahwa dia adalah presiden untuk semua orang Amerika, bahkan pada saat perpecahan, tulis Brad dan Josh.
Mungkin tidak ada presiden dalam sejarah Amerika yang menghadapi kemarahan lebih banyak pada saat krisis daripada Abraham Lincoln. Ketika dia terpilih pada November 1860, negara itu sangat terpecah karena masalah perbudakan.
Kita mungkin berpikir pemilihan kita sekarang kontroversial, tetapi mereka tidak dapat dibandingkan dengan pemilihan Lincoln.